Konsumen Dianiaya, Pihak Leasing Bisa Terlibat

15

FPI SEBUT SBY PECUNDANG - Anggota Komisi III Fraksi Partai Demokrat Ruhut Sitompul menjadi pembicara dalam Dialektika Demokrasi di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (25/7). Dialog tersebut menanggapi soal pernyataan Presiden Organisasi Kemasyarakatan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab yang menyebut bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seorang pecundang. FK/Arief Manurung
Ruhut Sitompul

Jakarta, BP

Anggota DPR RI, Ruhut Sitompul, mengatakan,  jasa penagih utang (debt collector) yang digunakan pihak leasing sah-sah saja dan hampir semua leasing menggunakan jasa penagih utang. Hanya saja, cara menagih utang tersebut tidak boleh dengan cara kekerasan.  
“Jika penagih utang  membantai korban atau keluarga korban urusannya sudah ke polisi. Dan polisi diminta menindak pelaku dan menghukum berat sesuai perbuatannya,” ujar Ruhut, anggota Komisi III DPR yang membidangi masalah hukum tersebut di Gedung  DPR RI, Jakarta, Selasa (26/7).
 
Menurut  Ruhut, kepolisian juga harus mengusut tuntas kasus penganiayaan Edy Donald hingga patah tulang agar ditemukan benang merah keterkaitan pihak leasing sebagai pemberi kuasa kepada pihak penagih utang.
“Kalau diusut tuntas dan professional, kemungkinan besar pihak leasing terlibat. Sejauh mana keterlibatan leasing  akan terlihat dari perjanjian atau kontrak kerjasama dengan pihak jasa penagih utang,” kata Ruhut.
 
Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy menegaskan, pihak leasing selalu menggunakan jasa penagih utang bagi nasabah yang menunggak, karena bila mengikuti  proses hukum akan memakan waktu cukup lama.
“Hanya saja, cara menagih utang jangan sampai melakukan kekerasan terhadap nasabah atau konsumen,” kata Noorsy.
Jika terjadi penganiayaan terhadap nasabah atau keluarganya, lanjut Noorsy, pihak leasing sebagai pemberi kuasa tidak bisa lepas tangan. Karena, jasa penagih utang bekerja atas perjanjian kerjasama dengan leasing.
“Konstruksi hukumnya harus diurai sejauh mana keterlibatan si pemberi kuasa kepada  penagih utang. Yang jelas, jika diurai kasus hukumnya, pihak leasing pasti ikut terlibat,” paparnya.
  
Sebagaimana diberitakan sebelumnya peristiwa penganiayaan terjadi, Selasa (19/7) sekitar pukul 08.30 WIB. Seorang bertubuh gelap mendatangi rumah Natalia di Jalan Antariksa, Ciganjur, Jaksel. Dari depan rumah, penagih utang tersebut berteriak, marah-marah sembari menggoyang pintu pagar. Salah seorang adik Natali menghampiri lelaki tersebut dan mengajak bicara baik-baik. Si penagih utang tersebut tidak terima, dia malah marah lebih keras lagi. Kemudian penagih utang menelpon temannya yang tidak jauh dari tempat sehingga mereka  tiga orang. 
Melihat suasana di depan rumah kian memanas,  Edi Donald anak Natalia muncul untuk melerai pertengkaran, namun disambut dengan pukulan bertubi-tubi. Luka memar di beberapa bagian tubuh dan tulang kaki Edi Donald patah akibat penganiayaan yang tidak seimbang itu. Natalia langsung menelpon polisi dan tidak lama kemudian si penagih utang diamankan.
 Natalia mengakui punya tunggakan cicilan mobil tiga bulan dengan jumlah sekitar Rp10 juta. Natalia bermaksud menyelesaikan tunggakan tersebut, namun karena diharuskan bayar uang penarikan 10 juta, dia tidak memiliki uang sebanyak itu. Natalia minta waktu dan keringanan, tapi tidak ditanggapi. “Saya menyesalkan tindakan preman yang beringas itu. Saya minta kepolisian mengusut tuntas kasus penganiayaan terhadap anak saya yang menyebabkan patah tulang. Saya sudah lapor polisi dengan Nomor LP/3422/VII/2016/PMJ/Dit Reskrimum dan ditandangani Ajun Komisari Polisi Yuli Susiana,” tegas Natalia. #duk