Pelanggan PLN Area Palembang Menunggak Rp123 Miliar

19

PLN (1)
Manager PT PLN Wilayah S2JB Area Palembang Selamat DS menyampaikan paparan dalam acara halal bihalal bersama media dan mitra.

Palembang, BP
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Sumsel, Jambi dan Bengkulu (S2JB) meminta pelanggan di wilayah Palembang dapat segera melunasi tunggakan yang totalnya mencapai Rp123 miliar.

Manager PT PLN Wilayah S2JB Area Palembang Selamat DS mengatakan, total pendapatan PLN area Palembang mencapai Rp1,43 triliun. Dari Rp1,43 triliun itu masih ada pelanggan yang belum melunasi tagihan yang totalnya mencapai Rp123 miliar.

“Padahal jika pelanggan mau membayar tagihan listrik itu bisa meningkatkan kontribusi perseroan terhadap pendapatan daerah setempat. Selama ini kontribusi PLN melalui retribusi pajak penerangan jalan (PPJ) berkisar Rp11-12 miliar per bulan.  Jika ada tambahan pendapatan dari tagihan yang belum lunas itu, kontribusinya bisa menjadi Rp13-14 miliar,” tuturnya di sela acara halal bi halal bersama media dan mitra kerja PLN, Kamis (14/7).

Area Palembang sendiri tercatat memiliki pendapatan yang paling besar dibanding area lain di tiga provinsi S2JB.
Sementara daerah lain, seperti Jambi tercatat pendapatannya sebanyak Rp601,52 miliar dan Bengkulu sebanyak Rp343,38 miliar. Adapun total pendapatan perseroan di wilayah S2JB sebanyak Rp3,1 triliun.

Kondisi itu tidak terlepas dari banyaknya jumlah pelanggan di Area Palembang yang tercatat mendominasi sekitar 30 persen dari total pelanggan wilayah S2JB.

Sementara itu, General Manager PLN Wilayah S2JB Budi Pangestu mengatakan, konsumsi listrik selama Ramadan lalu naik sebesar 6 atau menjadi 1.169 megawatt dibandingkan Ramadan tahun lalu.  Peningkatan konsumsi selama Ramadan tahun ini, tuturnya, tidak terlepas dari bertambahnya pelanggan baru.

Pihaknya pun menargetkan pelanggan baru mencapai 222.600 pelanggan hingga akhir tahun. Saat ini realisasi pelanggan baru itu telah tercapai sekitar 33 persen atau 71.794 sambungan baru dari target sehingga turut memengaruhi peningkatan konsumsi listrik, termasuk saat bulan puasa.

Jadi jumlah pelanggan eksisting di wilayah S2JB mencapai 2,76 juta pelanggan dengan daya terpasang total 3,85 juta MVA. Adapun rasio elektrifikasi di tiga provinsi itu rata-rata mencapai 79,99 persen.

“Kenaikan konsumsi listrik tidak hanya terjadi selama bulan puasa, melainkan saat Hari Raya Idul Fitri. Selama periode Idul Fitri, konsumsi tercatat 1.166MW naik sebanyak 105 MW atau 9,8 persen dibandingkan hari raya tahun lalu,” katanya.

Namun demikian, kata dia, konsumsi listrik pada momen Lebaran tercatat turun 10,3 persen dibandingkan dengan beban normal harian. Pada kondisi normal, rata-rata beban puncak siang sebesar 1.050 MW dan malam berkisar 1.300 MW. Tak hanya itu, PLN mengklaim mampu menghindari terjadinya pemadaman listrik saat momen salat Idulfitri 1437 H.

“Biasanya, pada tahun-tahun sebelumnya masih ada saja mati listrik saat salat ID di wilayah S2JB, tetapi kami bisa menjaga tidak terjadi pemadaman pada tahun ini,” katanya.

Budi berujar, ihaknya memang mengantisipasi terjadinya pemadaman listrik selama Ramadan dan Idul Fitri.
Berdasarkan data, beban puncak tertinggi di S2JB mencapai 3.119 MW sementara daya mampu pembangkit sebesar 3.152 MW.

“Realisasinya, secara sistem terlihat kondisi kelistrikan normal selama tiga hari, defisit selama lima hari dan siaga selama 22 hari. Kondisi normal itu merupakan kondisi saat cadangan melebihi pembangkit terbesar yang sekitar 172 MW, sementara status siaga merupakan kondisi cadangan yang di bawah kapasitas pembangkit besar,” jelasnya. #idz