Home / Headline / Kendaraan Hidrogen di JSC, Susun Studi Keyalakan

Kendaraan Hidrogen di JSC, Susun Studi Keyalakan

honda-hydrogenPalembang, BP
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Universitas Sriwijaya, beserta Pemerintah Norwegia melalui IMS Ecubes mulai menyusun studi kelayakan atau feasibility study (FS) untuk mengembangkan kendaraan hidrogen beserta infrastrukturnya di Palembang.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin menuturkan, pihaknya menyusun FS tersebut dengan target selesai secepatnya. Apabila FS sudah selesai disusun, maka perancangan kendaraan hidrogen tersebut bisa segera dilaksanakan.

“Jakabaring Sport City (JSC) akan menjadi green sport city pertama di dunia. Etalase satu-satunya dunia tentang kawasan berteknologi hidrogen yang ramah lingkungan,” tuturnya saat
Penjelasan tentang kerjasama proyek/persiapan penyusunan FS proyek kendaraan hidrogen dan lainnya oleh Tim IMS Ecubes Norwegia, di Griya Agung, Kamis (30/6).

Dirinya menjelaskan, kesempatan baik seperti ini harus diraih. Sangat sulit menunggu kesempatan bagus seperti ini. Setelah proyek ini selesai, Alex berujar, pihaknya pun akan memberikan kesempatan kepada Pemerintah Norwegia untuk berinvestasi di bidang energi matahari dan geotermal pasca Asian Games.

“Saya yakin kalau proyek ini sudah mulai, pasti di dukung pemerintah pusat. Kalau tidak melakukan terobosan, Sumsel tidak akan menjadi seperti ini. Tidak akan ada Asian Games, LRT, dan tidak ada Hydrogen Society,” lanjutnya.

Satu-satunya negara yang lebih berambisi dari Sumsel dalam menerapkan teknologi ini adalah Jepang. Pada 2030 mendatang, Jepang menargetkan seluruh kendaraannya sudah menggunakan bahan bakar hidrogen yang nol emisi.

“Kalau bisa selesai sebelum Asian Games, Sumsel bisa menarik bantuan lebih banyak lagi dari sumber yang lain untuk visi pasca 2018,” imbuhnya.

Dirinya menjelaskan, pada Asian Games 2018 nanti, tidak boleh ada lagi kendaraan yang berseliweran di kawasan JSC. “Orang hanya boleh berjalan kaki, menggunakan sepeda, atau menggunakan kendaraan berbahan bakar hidrogen yang nol emisi ini. Selain itu, listriknya pun akan dialiri dari pembangkit listrik tenaga surya,” paparnya.

Selain nol emisi, Alex pun menambahkan, kendaraan berbahan bakar hidrogen yang menggunakan peralatan hidrogen dalam mesinnya akan menambah daya jelajah mobil tersebut menjadi lebih jauh dibandingkan menggunakan bahan bakar fosil.

Sementara itu, Presiden IMS Ecubes Aleksander Gerbec mengatakan, teknologi hidrogen sangat baik untuk efisiensi bahan bakar. Dengan ini, Palembang akan menjadi satu satunya kota di dunia yang pertama akan menggunakannya secara terintegrasi.

“Itu semua akan kami tuntaskan kurang dari dua tahun ke depan. Saat ini Pemprov Sumsel bersama Unsri dan kami pun masih melakukan studi kelayakan. Kurang lebih 3-6 bulan selesai,” katanya.

Aleksander menuturkan, teknologi ini merupakan program dunia yang nantinya akan banyak dikembangkan baik dari Power plan, maupun dari semua aspek. Dengan Pemprov Sumsel yang sudah menyiapkan lahan sekira dua hektar di Jakabaring, hal ini pun akan mempercepat pelaksanaannya.

Pemprov Sumsel, tambahnya, hanya perlu menyiapkan lahan dan seluruh pengerjaan dan pembiayaan akan ditanggung Pemerintah Norwegia melalui IMS Ecubes

“Setelah semua ini berhasil Jakabaring Palembang akan menjadi etalasenya dunia tentang penerapan teknologi hidrogen terintegrasi. Pak Gubernur maunya kami eksyen dulu. Kalau sudah terbukti baru nanti akan dikembangkan lebih jauh juga dengan pemerintah pusat. Pemerintah Norwegia akan mensuport penuh mulai dari pembangunan awal sampai berjalan dan digunakan,” ujarnya.

Setelah adanya dukungan dunia terhadap pengembangan bahan bakar hidrogen ini, pihaknya pun semakin yakin untuk menerapkan ini di Palembang.

“Pak Gubernur pun sangat konsisten dengan keinginannya untuk memajukan Sumsel tapi tetap menjaga lingkungan,” imbuhnya.

Rektor Universitas Sriwijaya Prof Dr Ir Anis Saggaff MSCE mengatakan, pihaknya diminta gubernur untuk membantu melakukan alih teknologi dari bahan bakar fosil konvensional menjadi non fosil dengan bentuk hidrogen.

Dulu, Anis berujar, bahan bakar fosil sangat digemari oleh masyarakat. Namun kini, bahan bakar fosil mulai ditinggalkan masyarakat dunia karena emisi yang dihasilkannya dapat merusak lingkungan hidup.

“Ada dua energi non fosil terbarukan yang akan dikaji bersama Pemprov Sumsel, Unsri yakni tenaga sinar matahari (solar) dan bahan bakar hidrogen. Pak Gubernur ingin mengembangkan sekaligus dua-duanya. Sedangkan Pemerintah Norwegia melalui IMS Ecubes berperan sebagai penyedia teknologi tersebut,” tuturnya.

Anis menuturkan, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang akan dibangun di kawasan Jakabaring tersebut bersifat dwifungsi. Pertama, dalam jangka panjang dapat digunakan untuk menyuplai listrik di kawasan Jakabaring. Sementara untuk jangka pendek, dapat digunakan untuk mengurai katalis bahan baku kendaraan hidrogen semisal air, menjadi hidrogen.

Saat ini, pihaknya akan fokus dulu dalam penyusunan studi kelayakan atau feasibility studi (FS) terkait kendaraan hidrogen yang akan kembali dibahas bersama IMS pada 16 Juli mendatang.

“Jajaran IMS Ecubes akan datang lagi dua minggu ke depan untuk mengecek FS yang disusun. Norwegia itu bukannya dekat loh untuk perjalanan bolak-balik. Ini menandakan bahwa mereka sangat serius untuk pengembangan ini ujarnya.

Dirinya pun mengungkapkan, sebenarnya bahan baku membuat bahan bakar hidrogen bukan hanya air. Pada 2002 lalu Unsri sendiri pernah meneliti bahwa bahan bakar hidrogen bisa dihasilkan dari biomassa dan alga. “Namun air adalah bahan baku yang paling aman,” jelasnya.

Masa-masa awal menggunakan bahan bakar jenis baru, diungkapkan Anis, tentu akan mahal. Hal tersebut terjadi serupa ketika pertama kali minyak bumi dimanfaatkan menjadi bahan bakar. Namun ketika sudah diproduksi secara masal, lambat laun harganya pun akan turun mengikuti kebutuhan pasar. #idz