Home / Headline / Tinjau Ulang BOT Pasar Cinde

Tinjau Ulang BOT Pasar Cinde

Gubernur Panggil Arkeolog Pastikan Cinde BCB

cindessPalembang, BP
Kerja sama bangun guna serah atau build operate transfer (BOT) antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dengan PT Aldiron Hero Grup untuk merombak Pasar Cinde yang telah disepakati sejak 18 Maret 2016 lalu harus kembali terganjal.

Tercatat sebanyak 21 komunitas, asosiasi, organisasi, dan individu mengusung petisi ‘Save Cinde’ yang ditujukan kepada Presiden RI Joko Widodo, Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, dan Walikota Palembang Harnojoyo untuk menghentikan kelanjutan BOT Pasar Cinde.

Ketua Komunitas Save Cinde Retno Purwanti mengatakan, hingga saat ini Pasar Cinde sudah sangat layak memasuki kriteria Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang diatur oleh Undang-undang Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010. Beberapa kriteria diantaranya yakni berusia minimal 50 tahun, mewakili gaya pada masanya, dan memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan.

“Pasar Cinde sekarang sudah berusia 58, menggunakan. Ide pembangunan Pasar Cinde. Diprakarsai arsitek Thomas Herman Katsten, dan merupakan duplikat Pasar Johar Semarang menggunakan konstruksi cendawan yang sangat mewakili gaya pada masanya,” tuturnya saat Pembacaan Petisi Penyelamatan Pasar Cinde di Studio Bambu Unsri, Kampus Bukit Besar Palembang, Kamis (16/6).

Konstruksi cendawan yang tersisa di Sumatera saat ini, tutur Retno, hanyalah di Palembang. Arkeolog dari Badan Arkeologi Sumsel ini pun menjelaskan, pendataan situs cagar budaya di Palembang sudah diinventarisir sejak 2011 lalu yang difasilitas Disbudpar Palembang. Sedangkan Balai Arkeologi telah mendata sejak 20015 bahwa di Sumsel ada 60 situs kolonial dan 21 situs Kerajaan Sriwijaya.

Pihaknya mengaku telah memberikan data situs mana saja yang layak menjadi cagar budaya kepada DPRD Sumsel untuk dijadikan bahan rujukan dan pertimbangan. Namun kenyataannya, data tersebut seolah tidak digunakan karena BOT Pasar Cinde dilakukan di bangunan yang layak menjadi cagar budaya.

“Gerakan seperti ini bukan hanya baru sekarang dilakukan. Sudah dilakukan sejak dulu, namun secara parsial. Setiap kelompok hanya mewakili unsur humanis, sosial, dan budaya untuk masing-masing menyelamatkan Cinde. Namun baru inilah yang benar-benar menyeluruh, setiap kelompok berkumpul untuk memperjuangkan hal yang sama. Semoga saja seperti ini lebih didengar,” ujarnya.

Retno menegaskan, sebagai kota, Palembang yang dinobatkan sebagai Kota Tertua di Indonesia berkembang dalam beberapa fase. Prakolonial, kolonial, dan pascakolonial. Bangunan Pasar Cinde merupakan penanda pertama fase pasca kolonial di Palembang yang dibangun bahkan sebelum Jembatan Ampera.

“Roh Palembang modern adalah Pasar cinde dan Jembatan Ampera. Bila dirobohkan, Palembang modern akan mati tanpa nyawa. Menjadi Kota Pusaka tanpa pusaka,” tegasnya.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Sumatra Selatan, Zubair Angkasa mengatakan, petisi yang dilayangkan berasal dari berbagai pihak, diantaranya Palembang Heritage, Ikatan Arkeologi Indonesia, Komunitas Pecinta Sejarah, Asosiasi Antropologi Indonesia, Pusat Informasi Advokasi Pedagang Pasar Cinde, dan Walhi Sumsel.

“Kami disini bukan untuk membahas desain Pasar Cinde nantinya bagaimana, tapi kami ingin agar BOT pembangunan Pasar Cinde ini dibatalkan. Karena ada poin pada BOT tersebut untuk membongkar bangunan Pasar Cinde yang sekarang diganti dengan gedung baru,” ungkapnya.

Dirinya mengungkapkan, Pansus BOT Cinde DPRD Sumsel pernah memberikan pernyataan bahwa mereka telah memberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin mengajukan keberatan. Meskipun tanpa adanya keberatan dari masyarakat, pihaknya menilai DPRD bukan harus menunggu tapi mencari bukti bahwa Pasar Cinde baik-baik saja bila di-BOT-kan.

“Ini kenyataannya kan tidak. Seharusnya DPRD sebagai individu maupun institusi berkewajiban untuk mencari kebenarannya bukan hanya menunggu,” ujarnya.

Zubair berujar, petisi ini dimaksudkan untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat bawha cinde adalah BCB. Petisi ini pun dimaksudkan kepada pemerintah agar tidak melanggar undang-undang yang ada. Pihaknya sadar masih ada kelemahan dalam petisi ini yakni belum digelarnya dialog umum. Maka dari itu, pihaknya berharap ada dialog terkait ini dalam waktu dekat untuk menggugah semua orang.

“Kami minta agar Pasar Cinde tidak dirubah apalagi dibongkar. Pasar Cinde itu identitas Kota Palembang, ini adalah landskap Kota Palembang. Petisi ini akan kita kirim ke Presiden RI Joko Widodo begitu tandatangannya sudah mencukupi,” tuturnya.

Ketua Prodi Arsitektur Unsri Ari Siswanto menambahkan, dirinya telah mendengar informasi bahwa Kementerian Perdagangan telah mengirimkan surat kepada Gubernur Sumsel H Alex Noerdin untuk meninjau ulang BOT Pasar Cinde karena statusnya yang bisa dijadikan cagar budaya.

“Gubernur pun diinformasikan akan terlebih dahulu membicarakan perihal ini bersama arkeolog pusat dan lokal untuk mempertimbangkan baik dan tepatnya apa yang dilakukan untuk Pasar Cinde,” tambahnya

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel H Mukti Sulaiman membenarkan sekitar satu minggu lalu ada surat dari Menteri Perdagangan RI untuk meninjau kembali BOT pembangunan Pasar Cinde Palembang. Surat itu sebagai bentuk ketidaksetujuan Menteri Perdagangan RI terhadap rencana pembongkaran Pasar Cinde Palembang dimana dalam pasar tersebut memiliki bangunan yang bernilai sejarah.

“Kami memang terima surat itu. Sekarang sedang dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait,” ujarnya.

Surat tersebut, Mukti menyampaikan, telah diterima Gubernur sebelum berangkat ke Norwegia. Namun saat ini, Gubernur Sumsel H Alex Noerdin masih dalam rangkaian tugasnya di Norwegia dan belum diketahui reaksinya terhadap surat tersebut.

Mukti menuturkan, dengan adanya surat itu tidak berarti BOT Pasar Cinde itu dibatalkan.  Pihaknya akan terus berupaya untuk koordinasi dengan Aldiron Group sebagai investor pembangunan Pasar Cinde itu.

“Akan tetap dibangun, tapi sejauh ini masih dalam upaya koordinasi. Yang jelas, memang kita saat ini tengah menyiapkan rencana. Ada beberapa bagian dari bangunan itu yang memiliki nilai sejarah dan akan dipertahankan. Tetap akan kita bangun Pasar Cinde itu,” tandasnya. #idz

x

Jangan Lewatkan

Pemprov Sumsel dan DPRD Sumsel Dinilai Tak Miliki  Langkah Kongkrit  Terkait Tingginya Covid-19

Palembang, BP Ketua  Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) H. Toyeb Rakembang S.Ag  mengakui penanganann kasus ...