Judi Merusak Otak

8

Judi perlahan akan membuat otak seseorang menjadi rusak sehingga tak bisa lagi bekerja normal.

Judi-online<LAPSUS>

USIA Sherly 20 tahun ketika pertama kali pergi berjudi di Las Vegas bersama beberapa orang teman. Setelah yang pertama itu, Sherly beberapa kali kembali ke tempat itu untuk ‘bermain-main.’

 

Tugas belajar berakhir, Sherly kembali ke Indonesia untuk bekerja di perusahaan orang tuanya. Ia melanjutkan kegemarannya berjudi. Menang, kalah, menang lagi, kalah lagi, merupakan hal biasa dialami Sherly saat berjudi.

 

“Saya sangat suka mengalami saat ‘high’ ketika berjudi,” ungkap Sherly.

 

Setelah 25 tahun berjudi, dia ingin berhenti dari dunia hiburan yang sangat mahal ini. Sepuluh tahun lalu pendapat bahwa judi bisa membuat  kecanduan masih diperdebatkan.

Baca:  Sarung Stang Motor Ancam Nyawa Pengendara

 

Dulu dunia psikiatri menganggap bahwa judi itu lebih merupakan  perilaku kompulsif daripada kecanduan. Judi  dianggap sebagai  perilaku yang  didorong oleh kebutuhan untuk mengurangi kecemasan bukan bentuk kecanduan atau kebutuhan untuk merasakan kenyamanan sesering mungkin.

 

Sekarang perdebatan berakhir, para peneliti sepakat bahwa orang bisa kecanduan judi, sama seperti kecanduan narkoba atau zat adiktif lainnya.

 

Gejalanya ingin melakukan lagi, lagi dan lagi meski tahu hal itu tidak berguna, merugikan diri sendiri, dan berbahaya. Ketika tidak dapat melakukan judi, pecandu merasa kurang nyaman, gelisah, uring-uringan dan murung, sama seperti orang sedang sakaw atau ketagihan.

Baca:  Judi Online Terus Mewabah

Apa yang terjadi pada otak pecandu judi?, sama seperti kecanduan zat adiktif, ketika kecanduan judi itu terjadi, otak mengalami perubahan. Di bagian tengah otak yang disebut cranium, terdapat  serangkaian sirkuit otak yang disebut system reward, yang menghubungkan berbagai bagian otak yang tersebar -termasuk memori, gerakan, motivasi dan kenyamanan.

 

Ketika melakukan kegiatan yang membuat tetap hidup, makan  misalnya, neuron pada system reward memuncratkan zat kimia bernama dopamine, memberikan gelombang kecil kepuasan, dan mendorong untuk membuat kebiasaan  menikmati makanan enak. Tetapi ketika dopamine itu dirangsang dengan amphetamine, kokain atau zat adiktif lainnya, system reward itu menebar dopamine sebanyak 10 kali lipat dari jumlah biasanya. Artinya, sel saraf otak penghasil dopamine melakukan kerja paksa.

Baca:  Masih Ada Sekolah Jual LKS

Jika penggunaan zat adiktif terus dilanjutkan, kekuatan system reward untuk membangkitkan euforia atau kesenangan semakin dilemahkan. Zat-zat adiktif itu membuat otak terendam di dalam dopamine, sehingga otak beradaptasi dengan cara menghasilkan sedikit molekul, dan kurang responsif terhadap efek dopamine.

 

Pada kasus kecanduan yang parah, pecandu mengalami kemunduran, sakit fisik, tidak dapat tidur dan tremor. Pada saat itu, saraf yang menghubungkan sirkuit system reward ke bagian otak yang disebut prefrontal korteks melemah.#zal