Bongkar Judi Online Jaringan Antar Pulau

9

20120304091611-polisi-ungkap-bisnis-judi-online-001-dwi-narwoko<LAPSUS>

DIREKTORAT Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Jatim membongkar sindikat judi online antar pulau. Judi online yang digerakkan melalui sebuah situs judi ini memiliki omzet miliaran rupiah.

Direktur Kriminal Khusus Polda Jatim, Kombes Pol Nurrachman mengatakan, pengungkapan ini bermula dari laporan masyarakat terkait adanya bisnis judi yang cukup besar. Setelah dilakukan penyelidikkan, polisi menangkap FR (42) warga Perumahan Citraland East Wood, Sambikerep, Surabaya.

Polisi pun tak sampai disitu saja, penyidik melakukan pengembangan, dan berhasil menangkap EW (39) warga Jalan Tegal Dukuh Utara, Badung, Denpasar, Bali. Keduanya adalah bandar dalam situs judi tersebut.

Baca:  Pro dan Kontra Plastik Berbayar

“Pertama kali ditangkap adalah Tersangka FR yang memang pekerjaan di judi online ini. Dari sini kemudian ditangkap tersangka EW beserta sejumlah barang bukti,” kata Nurrahmad, Rabu (20/4).

Ia menjelaskan, dari tangan FR berhasil disita barang bukti berupa tiga ponsel, beberapa rekening dan ATM, dan uang Rp700.000. Selanjutnya dari tangan EW, polisi berhasil menyita tujuh ponsel, buku rekening bank dan lima ATM.

Baca:  Sejarah Kambang Iwak Family Park

Dari pemeriksaan petugas diketahui, dua tersangka ini menggeluti bisnis judi online sejak tahun 2013. Dalam sebulan, tersangka FR biasa memperoleh omzet sekitar Rp2 miliar. Sedangkan tersangka EW bisa mencapai puluhan Miliar. Kedua tersangka ini beroperasi hingga Kawasan Indonesia Timur.

Modusnya, pelaku banyak menawarkan kepada penggemar judi melalui situs. Salah satunya adalah situs Sbobet.com. Untuk toto gelap (togel) membuka lapak judi seminggu sekali.

Baca:  Sumsel Rendah Gizi Buruk

Polisi masih menelusuri jaringan lainnya dalam judi online ini. Dugaan sementara, pelaku ini merupakan jaringan judi dari Singapura dan Malaysia.

“Masih dilakukan pendalaman,” pungkasnya.

Atas perbuatan tersebut, kedua pelaku dijerat dengan Pasal 27 Ayat (2) dan Pasal 45 Ayat (1) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta Pasal 303 KUHP. Ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara. #zal/okz