Home / Headline / Tidak Ada Petrus Bagi Pelaku Narkoba

Tidak Ada Petrus Bagi Pelaku Narkoba

Tapi Penegakan Hukum Tegas dan Keras
Budi-waseso-BNN-Narkoba-e1448533398713Palembang, BP
Kepala Badan Narkotika Nasional Budi Waseso Budi Waseso (Buwas) memastikan tidak ada penembakan misterius (petrus) bagi pelaku narkoba namun upaya yang dilakukan adalah tindakan tegas dan keras di lapangan.
        “Ini adalah penegakan hukum yang tegas dan keras karena yang kita tindak adalah musuh negara, yang kita lakukan pada pelaku-pelaku pembunuhan massal, pembunuhan berencana. Jadi tidak ada petrus, ini penegakan hukum yang tegas dan keras. Kita melakukan ini dengan maksimal, artinya Polri, TNI, dan BNN dalam penegakan hukum oleh negara dilengkapi dengan senjata dan amunisinya itu untuk penegakan hukum dan itu bilamana diinginkan oleh pelaku kejahatan, itu diatur dalam undang-undang dan dilindungi oleh undang-undang,” katanya saat menjadi pembicara dalam acara sosialisasi antinarkoba di Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Selasa (29/3).
Acara dengan tema ‘Perang Melawan Narkoba’ ini dihadiri sekitar 2.500 pelajar dan mahasiswa se-Sumatera Selatan serta sejumlah bupati dan walikota, organisasi masyarakat, kalangan perbankan, dan pengurus badan eksekutif mahasiswa.
Menurut mantan Kapolda Gorontalo ini, jika anggota TNI melakukan tindakan tegas dan keras kepada pelaku narkoba sesuai aturan hukum TNI tidak menyalahi undang-undang, begitu pula yang dilakukan Polri dan BNN.
“Jadi tidak ada petrus dan ini terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi, ini kelihatan siapa bandar, siapa mafia itu yang akan ditindak tegas,” katanya.
Buwas menilai kalau penegakan hukum di Indonesia belum maksimal dan belum ada efek jera karena memang masih banyak celah yang dimanfatkan pelaku masalah narkotika.
        “Kita di Indonesia bandar besar yang sudah dihukum tiga kali tidak pernah mati-mati, ini bedanya di Indonesia, jadi masih banyak pemaaf. Padahal ini by design satu negara akan kehancuran negara kita, sekarang 50 persen pergerakan narkoba digerakkan dari dalam lapas, kemarin kita ungkap jaringan itu,” katanya.
Menurutnya dalam kunjungan kali ini, pihaknya mengharapkan seluruh jajaran baik Polri maupunTNI serta peran dari masyarakat untuk bersama mempersempit gerak para bandar yang kini semakin menjadi dalam mengedarkan barang haram tersebut ke semua lapisan masyarakat.
 “Masalah tindak tegas, dalam undang-undangnya sudah ada. Tadi saya sampaikan peran Polri dan TNI serta peran masyarakat umum dalam memberantas narkoba. Dan penindakan itu berdasarkan tindak pidana, Karena ini sangat terangan-terangan merusak bangsa Indonesia. Dan nanti akan ada aturan oleh menteri untuk membuat peraturan melakukan pemeriksaan terhadap kepala atau pimpinan daerah. Karena susuai perintah dari Presiden yang menyatakan perang terhadap narkoba” jelasnya.
Buwas mengungkapkan, pihaknya menjalin kerja sama dengan seluruh kampus di seluruh Indonesia untuk memantau seluruh mahasiwa agar tidak terjerumus ke dalam jaringan narkoba. Sebab, kalangan mahasiswa kerap menjadi sasaran empuk bagi para bandar dan pengedar untuk menyuplai barang haram tersebut.
“Semua mahasiswa akan dilakukan tes urine pada saat pascasarjana, agar saat dilakukan tes dan positif, mahasiswa tersebut terancam tidak bisa lulus menjadi sarjana. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kampus, agar semua mahasiswa terus diperhatikan, selain dosen, organisasi kampus pun harus turut andil dalam memperhatikan anggota kemahasiswaannya,” katanya.
Buwas menilai kalau narkoba masih tetap menjadi mesin pembunuh atau perang moderen dengan menggunakan narkoba.
Dan perlu diketahui jumlah pemakai narkoba di Indonesia ini ada 5 juta. Bahkan sekitar 40-50 orang  meninggal dunia akibat narkoba. Jadi pecandu narkoba ini seperti zombie yang menunggu giliran kematian,” ujarnya.
        Namun narkotika 40-50 orang ini kita masih tidur nyeyak dan masih di biarkan.
        “Akibat narkoba ini kerusakan permanen dalam otak , itu berdampak pada kerusakan organ tubuh manusia, ini yang mengakibatkan usia manusia menjadi pendek, dan rehabilitasi tidak bisa menjamin seseorang bebas narkoba,” katanya.
Ditambahkan Buwas, narkoba tidak hanya beredar di kota-kota besar saja, tapi juga sudah masuk seluruh pelosok negeri. Bahkan, Indonesia menjadi pangsa terbesar peredaran narkoba di Asia Tenggara (ASEAN). “Selama 2015, BNN menyita 6 ton narkotika jenis sabu yang beredar. Berarti BNN berhasil menyelamat 30 juta generasi muda,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan Buwas, komitmennya tegas terhadap narkoba. Yakni, terus melakukan pemberantasan peredaran narkoba sampai ke akar-akarnya. “Salah satu kendala yang dihadapi dalam memberantas narkoba adalah masih lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Hukum di Indonesia belum tegas kepada bandar narkoba dan masih ada celah bagi pengedar bermain mata dengan penegak hukum,” ujarnya.
Menurut Buwas, 50 persen lebih peredaran narkoba dikendalikan dalam lapas. Keterlibatan oknum pegawai lapas lah menjadi salah satu penyebab pengendalian narkoba di dalam lapas. Dengan segala cara serta kekuatan para pengedar dan semakin luar biasa peralatan mereka gunakan untuk tidak terdeteksi dari BNN.
“Kami berharap penanganan narkoba tidak terpaku pada satu institusi saja yaitu BNN, melainkan semua institusi ikut bersama dalam memberantas narkoba di Indonesia, termasuk kekuatan TNI diikut sertakan dalam pemberantasan,” tambahnya.
Saat ini, sudah beredar 541 narkotika jenis baru yang beredar di dunia. dari jumlah tersebut, menurut Buwas, 41 jenis baru sudah masuk ke Indonesia. “Sebanyak 28 jenis baru di Indonesia yang sudah beredar ini belum ada hukum yang menyatakan ke dalam golongan narkoba jenis apa,” katanya.
Menurut Buwas, nyaris seluruh pulau sudah dimasuki jaringan ini. Bahkan untuk jenis ganja yang diprodukai di dalam negeri seperti Aceh dan Medan juga sudah dimodifikasi. Seperti yang dikenal dengan ganja sintesis atau tembakau gorila.
“Ganja sintesis ini beredar di perguruan tinggi di Jakarta. Harganya sangat murah, 1 paket Rp 25 ribu dan bisa digunakan oleh 10 orang. Tentu saja kekuatannya 10 kali lipat dari ganja tanaman,” katanya dimana jenis ganja sintesis ini diimpor dari Tiongkok dan Taiwan.
Makanya ia mengingatkan mahasiswa untuk menjauhi jenis ini dan jenis narkotika apa pun.
“Dari harganya yang murah namun menimbulkan efek bahaya yang luar biasa. Makanya kita harus waspada, sebab sudah beredar di kalangan mahasiswa,” ujarnya.
Sedangkan Rektor UIN Raden Fatah Aflatun Muhtar mengatakan sosialisasi ini bertujuan untuk mengingatkan beragam pihak betapa berbahayanya narkoba.
“Negeri ini harus bebas dari narkoba untuk melahirkan pemimpin-pemimpin andal yang mampu membawa Indonesia dalam kemaslahatan,” kata Aflatun.
Dengan sinergi semua pihak maka Indonesia akan tumbuh menjadi bangsa yang andal dan terdepan di dunia.
“Ilmu yang luas, ahlak yang baik dan pemikiran yang moderat, inilah modal Indonesia sebagai bangsa,” katanya.
Sementara Kepala BNN Provinsi Sumsel Brigjen Pol Iswandi Hari mengatakan bahwa perang melawan narkoba sudah dicanangkan negara sehingga menjadi kewajiban semua pihak untuk berjuang bersama-sama untuk melawannya.
“Manusia dan hewan itu dibedakan oleh Tuhan dengan pemberian karunia akal, namun jika manusia sudah mengkonsumsi narkoba maka sama saja sudah seperto binatang. Dengan masifnya peredaran yang ada maka sudah sepatutnya semua pihak untuk melawan,” kata dia.
Sekda Sumsel H Mukti Sulaiman mengajak semua kalangan untuk perang melawan narkoba  dan mengapresiasi acara tersebut yang diselenggarakan oleh UIN Raden Fatah Palembang dan BNN Sumsel. #osk
x

Jangan Lewatkan

Buat Onar Antoni Berurusan Dengan Polisi

Palembang, BP Buat keonaran di rumahnya, Antoni, warga Lorong Talang Kemang, Kelurahan Sentosa, Kecamatan Seberang Ulu (SU) II Palembang, harus ...