Empat Pimpinan DPRD Muba Terima Suap

14

Sidang Muba1
Empat terdakwa Pimpinan DPRD Muba Aidil Fitri, Islan Hanura, Darwin AH, dan Riamon Iskandar (dari kiri ke kanan) menjalani sidang dakwaan di PN Palembang, Rabu (23/3).

Palembang, BP

Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Musi Banyuasin Bambang Karyanto mengungkapkan, empat pimpinan DPRD Muba menerima duit suap dari pemerintah kabupaten untuk meloloskan RAPBD 2015 dan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pahri Azhari tahun 2014.

Bambang Karyanto mengatakan, para pimpinan ini telah menerima masing-masing Rp100 juta dari setoran pertama, dan Rp50 juta dari setoran kedua.

“Uang Rp100 juta diserahkan dua atau tiga hari setelah menerima setoran pertama dari pemkab melalui Samsuddin Fei (sudah divonis) senilai total Rp2,56 miliar. Saat itu, delapan pimpinan fraksi juga menerima masing-masing Rp75 juta, dan 33 anggota dewan mendapatkan masing-masing Rp50 juta,” katanya saat memberikan keterangan sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Palembang, Rabu (23/3).

Empat pimpinan DPRD Musi Banyuasin yakni Riamon Iskandar (ketua), Islan Hanura (wakil ketua) Darwin AH (wakil ketua), dan Aidil Fitri (wakil ketua). Keempatnya kini sudah menyandang status terdakwa dalam kasus suap di DPRD Muba.

Baca:  Pahri Azhari Dihukum 3 Tahun Penjara

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Parlas Nababan, Bambang yang telah divonis lima tahun penjara dalam persidangan sebelumnya ini mengatakan, para terdakwa menerima setoran uang suap kedua yakni masing-masing Rp50 juta setelah terjadi kesepakatan dengan Islan Hanura di Hotel Arista.

“Saya mendatangi Islan dan bertanya mengapa mengancam ingin menginterpelasi LKPJ bupati. Lalu yang bersangkutan minta Rp400 juta untuk pimpinan dan saya katakan tidak bisa. Jika Rp200 juta bisa dan siap diserahkan keesokan harinya,” kata dia.

Dirinya merincikan, uang Rp200 juta itu diperoleh dari istri terdakwa Lucianty (berkas terpisah) karena Samsuddin Fei menyatakan tidak bisa ke bank karena esoknya hari Sabtu.

Lalu penyerahan dilakukan di depan Hotel Swarna Dwipa Palembang. “Saya sendiri memberi ke Riamond Rp200 juta dan Riamond masuk ke mobil Islan yang parkir bersebelahan dengan mobil saya,” tuturnya.

Baca:  6 Ketua Fraksi Susul Bupati Muba

Sedangkan terkait pertanyaan dirinya dapat menjadi penghubung antara DPRD dan Pemkab Muba, Bambang mengatakan karena hubungan antara pimpinan DPRD dengan Bupati Muba Pahri Azhari tidak sejalan.

“Berhubung saya memiliki hubungan baik, maka teman-teman di DPRD mempercayakan saya sebagai penghubung ke bupati,” kata Bambang.

Usai mendengarkan keterangan Bambang, keempat terdakwa diberikan kesempatan oleh majelis hakim untuk bertanya dan menanggapi.

Terdakwa Darwin membantah menerima uang suap tersebut. Sedangkan tiga terdakwa lainnya mengakui menerima. Hanya saja Islan Hanura membantah kalau dirinya meminta tambahan Rp400 juta.

Selain saksi Bambang, dalam persidangan kali ini tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menghadirkan tiga terpidana lain sebagai saksi yang diperiksa secara terpisah, yakni Adam Munandar, Syamsuddin Fei, dan Fasyar.

Baca:  Mungkir Terima Suap, Dituntut Paling Berat

Ketiga saksi ini juga memberikan keterangan yang sama seputar terjadi suap yang disepakati sebesar Rp17,5 miliar untuk meloloskan LKPJ kepala daerah 2014 dan R-APBD Kabupaten Muba 2015.

Sementara itu, JPU KPK Abdul Basir tak mempersoalkan kalau salah satu terdakwa dalam kasus ini membantah menerima uang suap dan sidang selanjutnya akan menghadirkan saksi lain.

“Ahh ngak masalah,” tegas Basir, ditemui ketika majelis hakim menunda sidang usai pemeriksaan Bambang. Empat mantan pimpinan DPRD Muba ini didakwa dengan pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 Undang-undang RI Nomor 31 tahun 1999.

Sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP Jo pasal 64 KUHP. # ris