Atasi Harga di Petani, Ekspor Karet Dikurangi

20

alex dan mentri pertanian
Gubernur Sumsel H Alex Noerdin berbicara dalam acara Perumusan Keputusan Rencana Aksi Peningkatan Penyerapan Karet untuk Industri, Peningkatan Produksi dan Pendapatan Petani, di Horison Ultima Hotel, Rabu (23/3) malam.

Palembang, BP

Ekspor karet Sumatera Selatan akan dikurangi menjadi 87.210, 26 ton dari total nasional sebesar 238.736 ton selama enam bulan ke depan. Pemerintah mengambil kebijakan ini untuk mengatasi anjloknya harga komoditas tersebut di tingkat petani.

Dalam pengurangan ekspor ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI telah menjamin subsidi bagi petani karet untuk bisa menutupi kekurangan pendapatan yang dipastikan akan terjadi.

Menteri Pertanian Andi Amran mengatakan, pihaknya akan menggelontorkan bantuan bibit jagung, padi, dan kedelai selama menunggu masa tanam karet.

“Bantuan akan diberikan gratis kepada petani karet. Petani akan melakukan sistem taman tupang sari di sela-sela perkebunan karet, terutama jagung,” katanya saat acara Perumusan Keputusan Rencana Aksi Peningkatan Penyerapan Karet untuk Industri, Peningkatan Produksi dan Pendapatan Petani, di Horison Ultima Hotel, Rabu (23/3) malam.

Dikatakan, pemerintah menjamin kekurangan penghasilan petani karet bakal tertutupi, bahkan melebihi ekspektasi saat masa tanam saat ini.

Penyediaan pasar dalam negeri dapat dijadikan solusi pemerintah untuk mengatasi lemahnya penyerapan dari luar negeri yang telah mengakibatkan penurunan harga di tingkat petani.

Baca:  Harga Karet Turun, Sembako Malah Naik

“Kita akan buka pasar dalam negeri dan ini sudah instruksi Presiden. Program ini kerja sama Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Perdagangan dan Perindustrian, Perhubungan dan BUMN,” katanya.

Bagi pedagang maupun pabrik, yang melanggar berdasarkan hasil pengawasan, sesuai dengan Permendag No 53 tahun 2009, mereka bakal disanksi.

Selain itu dalam program ini, perlunya regulasi masalah terkait pembelian bongkar bersih oleh pabrik, meningkatkan peranan pasar lelang agar lebih mudah dalam mengakomodir harga jual karet rakyat yang lebih wajar dan berkeadilan, menerapkan gerakan nasional (Gernas) peremajaan karet dengan pola tumpang sari pada masa TBM untuk menambah penghasilan perkebunan.

Lalu, mempercepat terbitnya regulasi Inpres Keppres guna meningkatkan penyerapan produksi karet dalam negeri. Perlu perhatian yang lebih terhadap petani karet yang terkena dampak penurunan harga, misalnya masuk program bansos raskin.

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H Alex Noerdin mengatakan, kondisi karet di Sumsel perlu perhatian bersama dan permasalahannya perlu dibahas agar harga kembali membaik.

“Pemerintah harus mencari solusi agar harga karet kembali membaik dan harga tingkat petani stabil, serta tidak terjadi fluktuatif yang memicu penurunan harga karet. Hilirisasi di TAA akan menjadi solusi, nantinya akan dibangun pabrik ban dan sebagainya sebagai pendukung harga karet menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Baca:  Kabupaten Muba Jadi Pionir Pembangunan Jalan Dari Getah Karet

Guna meningkatkan komoditas karet di Sumsel, pihaknya mengkombinasikan dengan mengembangkan sektor industri besar di Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api. Pemprov Sumsel menggandeng pemerintah pusat dan investor dalam dan luar negeri agar menanamkan investasinya di Sumsel.

Alex juga mengucapkan terima kasih atas bantuan Menteri Pertanian selama ini ke Sumsel. Tidak hanya ini, bantuan yang diberikan cukup beragam mulai dari kebutuhan di bidang pertanian, perkebunan dan sebagainya. Terlebih lagi, kata Alex, bagi investor yang ingin membangun pabrik-pabrik yang bahan bakunya dari kekayaan sumber daya alam Sumsel.

Untuk itu, Sumsel menjadi salah satu provinsi pendukung ketahanan pangan di Indonesia. Seperti halnya beras, Sumsel ditarget produksi 500.000 ton beras oleh pemerintah pusat, Namun Sumsel memiliki target sendiri sebesar 1,2 juta ton beras. Malah tahun lalu, produksi beras provinsi ini bisa mencapai 1,8 juta ton.

“Tahun ini kita ditarget Menteri Pertanian 2,2 juta ton. Kalau mau ditambah lagi oleh pusat, maka kami akan menambahkan lagi target untuk Sumsel,” beber dia.

Baca:  Harga Karet Jeblok, Warga OKI Minta Solusi Bupati

Ia menyebutkan, saat ini cukup banyak kendala dalam produksi beragam komoditas yang ada di Sumsel. Seperti tahun lalu ada masalah elnino, kebakaran hutan dan lahan membuat produksi komoditas Sumsel terhambat.

“Kami upayakan agar Sumsel tahun ini zero asap. Sehingga komoditas Sumsel baik karet dan sebagainya tidak memiliki hambatan dalam hal produksi,” tukasnya.

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan Alex K Eddy menjelaskan, upaya untuk membuat harga karet naik, pemerintah sudah melakukan kerja sama pengurangan ekspor terhadap negara-negara penerima.

Pengurangan ekspor nasional selama enam bulan ke depan mencapai 238.736 ton. Sementara karet Sumsel berkontribusi terhadap nasional 36,53 persen atau sekitar 87.210,26 ton.

“Enam bulan ke depan, pengurangan ekspor Sumsel bakal mencapai 87.210, 26 ton, dengan rincian Maret hingga Mei mencapai Rp34.883,9 ton. Juni hingga Agustus mendatang mencapai 52.326,3 ton. Pengurangan ini akan disimpan pabrik-pabrik anggota Gapkindo,” katanya. #ren