Akibat Karhutlah, Bukti Sejarah Sriwijaya Terancam Punah

12

1.-Tim-Balar-Palembang-survey-di-Situs-Kanal-12-Ulak-Kedondong.-Foto-N.Rangkuti
Tim Balai Arkeologi Palembang melakukan survei di Situs Kanal 12 Ulak Kedondong beberapa waktu lalu.

Palembang, BP

Badan Restorasi Gambut yang dibentuk Presiden Jokowi, diminta bukan hanya mempertimbangkan kondisi gambut yang akan direstorasi, juga meninjau keberadaan situs-situs sejarah, khususnya situs sejarah Sriwijaya terutama di lahan gambut pesisir timur Sumatera Selatan (Sumsel) .
“Membaca berita soal penemuan situs Sriwijaya di lahan gambut yang terbakar 2015 lalu, jelas membuat kami sangat cemas. Jangan-jangan sudah banyak situs sejarah terkait Sriwijaya yang musnah atau rusak akibat aktifitas perusahaan maupun peristiwa kebakaran dan perambahan di lahan gambut di Sumsel,” kata sastrawan dan pekerja teater Nurhayat Arief Permana, Senin (21/3).
“Saya pikir Badan Restorasi Gambut yang akan membaca dan menata lahan gambut memperhatikan hal ini. Ini terkait dengan sejarah bangsa ini. Bangsa yang dibangun oleh kebesaran Kerajaan Sriwijaya yang pengaruhnya sangat luas di Asia, khususnya di Asia Tenggara,” kata Arief.
Aktivis lingkungan, Hadi Jatmiko, juga setuju dengan pernyataan Nurhayat Arief Permana, menilai terancamnya keberadaan situs-situs sejarah Sriwijaya di lahan gambut Sumatera Selatan, membuktikan soal “bobroknya” pemberian izin konsensi di lahan gambut selama ini. “Ini membuktikan mereka yang memberikan izin, bukan hanya tidak paham lingkungan hidup juga tidak paham soal sejarah besar bangsa ini,” kata Hadi.
Kebijakan menghentikan pemberian izin di lahan gambut merupakan langkah yang tepat, tapi proses review izin harus tetap dilakukan bukan hanya dengan standard lahan tertata baik atau tidak terbakar, tapi juga berdasarkan wilayah konservasi tinggi karena keberadaan situs-situs sejarah dan keanekaragaman hayati.
Dijelaskan Hadi, saat masih remaja dia sering mendengar peristiwa penemuan benda sejarah di wilayah gambut di pesisir timur Sumatera Selatan.
Baik berupa patung, keramik, dan lainnya. Penemuan tersebut mulai dari aktifitas pembangunan wilayah transmigran, maupun aktifitas HPH. “Ceritanya terus berlanjut hingga sekarang, seperti peristiwa di Cengal tersebut. Ini membuktikan jika wilayah gambut pesisir timur Sumatera Selatan adalah wilayah penting jejak sejarah bangsa ini.
“Jika ini tidak diperbaiki dan diperhatikan, artinya negara telah membiarkan sebuah kehancuran bukti peradaban Sriwijaya, yang merupakan dasar lahirnya negara bangsa Indonesia,” kata Hadi.#osk