Ultimate magazine theme for WordPress.

Pro dan Kontra Plastik Berbayar

Jpeg
Sosialisasi kantung plastik ramah lingkungan

REALISASI program kantung plastik berbayar menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Warga Palembang, Sudirman Teguh menilai setuju  penggunaan kantung berbayar.

“Sebenarnya bukan bayarannya yang utama, tapi penggunaan kantung plastiknya yang harus dikurangi,” katanya, Kamis (3/3). Hal tersebut, menurutnya, sengaja supaya konsumen membawa wadah sendiri. Otomatis ke depan penggunaan kantung plastik menurun.
Namun berbeda dikemukakan Firman Freaddy Busroh yang merupakan warga Palembang mengaku kantung plastik berbayar harus jelas aliran dananya ke mana, karena walaupun Rp200 tapi harus bisa dipertanggungjawabkan.
“Kalau saya kurang setuju karena menambah beban bagi rakyat, kebijakan kantung plastik berbayar harus dilakukan studi ulang dengan melibatkan lembaga konsumen jangan sepihak dalam membuat kebijakan,” katanya.
Kabid Pengendalian dan Pencemaran BLH Palembang Heni Kurniawati mengungkapkan, kebijakan kantung plastik berbayar diterapkan untuk meminimalisir penggunaan kantung plastik yang selama ini menjadi salah satu sampah terbanyak. “Dengan adanya kebijakan ini diharapkan penggunaan kantung plastik menjadi berkurang,” katanya.
Menurut Heni, bagi warga yang berbelanja di retail baik di mal atau pun minimarket tetap bisa mendapatkan kantung plastik. Tetapi harus membayar dengan harga yang nanti ditetapkan pemerintah.
“Kemungkinan paling murah Rp500 yang disesuaikan dengan ukurannya. Jika memang tidak bersedia membeli, bisa bawa sendiri kantung atau keranjang belanja dari rumah,” katanya.
Heni menambahkan, kebijakan tersebut untuk sementara belum akan diterapkan di pasar tradisional. “Sifatnya sekarang masih uji coba. Dari 21 Februari sampai 5 Juni, nanti dievaluasi. Jika memang berdampak pada pengurangan penggunaan kantung plastik, artinya berhasil dan akan terus diterapkan,” ujarnya.
Selain mendeklarasikan penggunaan kantung plastik berbayar, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Palembang juga dimanfaatkan untuk me-launching kantung plastik organik
‘Enviplast’ Kantong plastik ini dibuat dari ubi kayu yang sangat mudah terurai, berbeda dengan kantung plastik yang ada selama ini.
Kalau pun dibuang ke dalam kolam, kantung plastik ini dapat dijadikan makanan bagi ikan. Dengan adanya kantung plastik organik ini, jelas diharapkan dapat mengurangi limbah yang tidak dapat terurai. Kantung plastik ini juga dapat digunakan secara berulang karena teksturnya yang jauh lebih kuat dan tidak mudah robek.
Hal senada dikemukakan ibu rumah tangga, Mismiwati Abdullah dia menilai kantung plastik berbayar, bukan merupakan merupakan solusi meminimalkan sampah plastik.
Hal tersebut tidak akan membuat membuat masyarakat jera, hanya pengalihan permasalahan saja. Satu sisi, biaya kantung plastik dibebankan kepada pembeli. apalagi dengan harga Rp200. Pembebanan kepada pembeli, juga terhadap metode harga psikologis yang mereka pergunakan. Di mana metode itu domain merugikan pembeli.
“Habis itu kan menjadi sampah lagi. Sampahnya itu sekarang mau diapain ?  lebih kepada pengolahan sampah plastik, itu saya rasa merupakan satu solusi. Perlu diingat lho, kantung plastik diproduksi dari sebuah industri yang tenaga kerjanya tidak sedikit. satu sisi penggunaan kantung plastik dibatasi, tapi industri tersebut tidak dibatasi dalam jumlah produksi kantung plastik,” katanya.
Untuk itu pengolahan sampah plastik yang digiatkan karena sekarang ada JICA yang kerja sama dengan Jepang terkait pengelolaan sampah. #osk

Baca Juga:  Sinergi Hukum, BSB Palembang – Kejari MoU

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...