Ultimate magazine theme for WordPress.

Sumsel Rendah Gizi Buruk

BP/MARDIANSYAH MENYUAPI-Seorang ibu sedang menyuapi bayinya dengan makanan disore hari, Jumat (26/2)
BP/MARDIANSYAH

Anak kurang gizi di Sumsel rendah dibandingkan angka nasional, tapi meski kecil masih terjadi di daerah. Sementara di Palembang dan kota lain, anak-anak malah kelebihan gizi atau obesitas.

ITULAH gambaran dari kondisi gizi anak di Sumsel terkait Hari Gizi Nasional (HGN) yang, sebenarnya jatuh tanggal 25 Januari, tapi ditetapkan dirayakan serentak 28 Februari.

 

Tapi khusus di Sumsel sendiri, sejak satu bulan terakhir, mulai dari posyandu sampai dengan rumah sakit atau universitas kesehatan sudah melakukan berbagai aktivitas untuk merayakan HGN. Tapi perayaan itu cara untuk mengenang betapa pentingnya gizi bagi anak.

 

Masalah sebenarnya, pencapaian Dinas Kesehatan Provinsi dalam mengoordinir puskesmas, posyandu, rumah sakit, dan serta insan pelayan kesehatan untuk mencegah terjadinya kurang gizi.

 

Kepada BeritaPagi, Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Dra Lesty Nuraini Apt, MKes, Jumat (26/2), mengatakan, pihaknya terus berusaha meningkatkan gizi anak untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

 

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan mencatat, sepanjang 2015 ada 286 kasus gizi buruk dari jumlah 878.916 bayi bawah umur lima tahun (balita) usia 0-59 bulan di Sumsel.

Baca Juga:  Plastik Berbayar Berlaku, Banyak Warga Belum Tahu

 

“Bila dalam bentuk persen, jumlah kasus gizi buruk di Sumsel hanyalah 0,03 persen dari total keseluruhan balita yang ada. Ini jauh dari lebih rendah secara nasional yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI yakni 18,4 persen, artinya asupan gizi di Sumsel secara umum baik,” jelasnya.

 

Dari jumlah tersebut, terdapat 419.768 balita usia 0-23 dan 389.027 usia 24-59 bulan. Sementara itu, pihaknya pun mencatat sebanyak 4.296 balita menderita gizi kurang yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sumsel. Bila dipersentasekan, angka balita kurang gizi pun hanya 0,49 persen dari total seluruh balita yang ada di Sumsel.

 

“Indikator gizi buruk balita yakni berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, serta berat badan menurut tinggi badan. Meski angkanya cukup aman, kami tetap melakukan upaya perbaikan gizi kepada masyarakat,” tambahnya.

Baca Juga:  Gugatan Mantan Bupati OI Kandas Di MK

 

Dinkes Sumsel terus berupaya mengurangi angka gizi buruk terhadap balita dengan cara edukasi langsung kepada masyarakat bagaimana memberikan asupan gizi dari makanan yang dikonsumsi.

 

Selain itu, gizi balita pun dipengaruhi oleh lingkungannya. Apabila ada beberapa balita yang menderita gizi buruk di suatu wilayah, itu artinya perlu ada perbaikan lingkungan.

 

“Faktor ekonomi pun sangat mempengaruhi gizi seorang balita. Semakin baik ekonomi keluarga, semakin baik pula asupan gizi balita tersebut. Perbaikannya tentu tidak hanya tugas Dinkes, namun lintas SKPD. Bappeda serta Dinas PU lainnya harus bersinergi untuk perbaikan ini yang dibarengi dengan edukasi. Dinkes hanya fokus kepada edukasi masyarakatnya,” ujarnya.

 

Selain edukasi langsung, Dinkes Provinsi Sumsel pun membina Dinkes Kabupaten/Kota untuk melanjutkan edukasi. Dinkes kabupaten/kota membina Puskesmas, dan puskesmas membina kader-kader di bawahnya.

 

“Edukasi juga dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat, LSM, akademisi. Semuanya dikerahkan bersama-sama untuk mengedukasi untuk menghindari gizi buruk yang terjadi kepada balita,” tandasnya.

Baca Juga:  Judi Merusak Otak

 

Sementara itu, dr Julius Anzar SpA Bagian Gizi di Rumah Sakit Mohammad Hoesin mengatakan, untuk keseluruhan di Sumsel memang anak kurang gizi sangat kecil sekali. Apalagi bila sudah bicara Palembang, kasus kurang gizi sudah sangat jarang terjadi.

 

“Di Kota Palembang dan kota besar lain, justru kelebihan gizi yang menyerang anak atau obesitas, jadi bukan kurang gizi,” ujarnya.

 

Untuk perkotaan seperti Palembang, masalah anak bukan pada kurang gizi, tapi bagaimana menurunkan obesitas.

Anak di Palembang malah terlalu banyak menyantap makanan. Makanan yang mereka konsumsi sangat beragam, mulai dari makanan khas Palembang, makanan tradisional sampai makanan cepat saji.

 

“Jadi saya berani katakan, kasus kurang gizi di Palembang sangat minim, namun kelebihan gizi atau obesitas yang terjadi, ini karena kadar kalori yang begitu tinggi, dan aktivitas perkotaan yang modern yang serba canggih dan instan sehingga tidak seimbang, antara kalori yang masuk dan dikeluarkan,” tutupnya. #idz/ndi

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...