Bisnis Kerajinan Ukiran Khas Palembang Lesu

27

2302.20.PENGRAJIN UKIRANPalembang, BP

Dua tahun lalu di Jalan Fakih Jalaludin, Kelurahan 19 Ilir masih ada puluhan pengrajin yang membuka gerai. Namun saat ini tinggal belasan saja. Saat ini sudah banyak pengrajin yang pindah profesi.

Novita Andriani (33), owner gerai ukiran Simbar yang masih bertahan mengatakan, tuntutan ekonomi menjadi alasan kuat banyak pengusaha ukiran kini beralih profesi.“Sudah dua tahun belakangan penjualan mengalami penurunan hingga mencapai 40 persen. Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat daya beli masyarakat menjadi berkurang,” kata dia.

Dia mengatakan, saat ini tumpukan lemari hasil ukiran ini masih dipajang karena belum membaiknya minat beli. “Dulu berdiri puluhan gerai ukiran kayu yang menawarkan kerajinan ukiran dari segala macam perabotan rumah tangga, seperti, lemari, kursi, meja kini tinggal belasan saja,” tutur dia.

Dia mengatakan, ketika harga komoditas tengah berada di masa kejayaanya, seperti karet dan sawit, banyak pelanggan yang merupakan petani dari sejumlah daerah di Sumsel datang untuk membeli sejumlah perabotan ukiran yang ditawarkan di daerah ini.

“Dulu, sewaktu harga karet, sawit masih tinggi, petani yang datang ke sini membeli barang tanpa harus banyak menawar harga. Kini penjual pun sudah beralih profesi menjadi tempat percetakan, rumah makan dan sebagainya,” jelas dia.

“Biasanya dalam satu bulan mampu menjual 20-30 unit lemari ukiran, kini 10 unit saja sudah cukup sulit terjual,” katanya. Untuk motif sendiri bervariasi seperti susur, bunga matahari, nanas, dan manggis. Novita menggambarkan, satu lemari ukiran dirinya membanderol harga Rp2 juta-20 juta. Tergantung kualitas dan ukuran yang ditawarkan.

“Banyak jenis perabotan yang kita tawarkan mulai dari lemari, meja, kursi kusen, dan masih banyak lagi,” kata dia. Untuk bahan baku sendiri, sambungnya, kebanyakan didatangkan dari Jambi, Riau dan sejumlah daerah di sekitar Sumsel. “Namun kini juga seperti kayu Tembesu tidak ada lagi kayu yang usianya sudah tua, karena sudah sulit mendapatkanya. Maka dari itu opsi lainnya menggunakan kayu duren, akasia, albasia dan madang,” tukasnya.

Dia mengaku, meskipun usaha yang dijalaninya merupakan ukiran khas Palembang, namun dirinya justru bingung kepada pemerintah daerah yang seolah sama sekali tidak pernah memberikan perhatian kepada sejumlah pelaku usaha ukiran ini.
Rudiansyah, salah satu pemilik usaha kerajinan ukiran lainnya mengatakan, dahulu ukiran seni khas Palembang hanya dibuat pada kayu tembesu, yaitu kayu berurat dan lembut namun sangat tahan lama.
Saat ini kayu tembesu sangat langka dan hargaya mahal. Kini, untuk mengakali kelangkaan kayu tembesu, sebagian besar kayu yang digunakan untuk ukiran adalah kayu medang atau kayu albasiyah. “Tentunya, hasil ukiran tidak akan sehalus dan sekuat kayu tembesu kendati sepuhan warna emas masih tetap dipertahankan,” kata dia.

Rozali mengatakan, untuk mempertahankan seni ukir Palembang,salah satunya dapat dilakukan dengan memberi akses kayu tembesu dengan harga murah kepada pengrajin seni ukir kecil dan menengah.
Dia berharap pemerintah dapat melakukan kebijakan pembatasan pembelian kayu sehingga pembelian kecil oleh pengrajin kayu ukir dapat tetap terlayani dengan harga yang murah.

Faktor lain yang diperoleh saat ini terletak dari pemasaran ukiran khas Palembang terganjal pengiriman barang pengusaha ukiran khas Palembang kesulitan dalam mengembangkan jangkauan usaha karena terganjal pada proses pengiriman barang. “Sejumlah pesanan berasal dari luar kota belum dapat dipenuhi, karena tidak ada perusahaan pengiriman barang yang bersedia,” bebernya.
Menurutnya, ukiran dari Palembang ini relatif berat karena terbuat dari kayu tembesu sehingga perusahaan ekspedisi tidak mau mengirimkannya, padahal peminatnya cukup tinggi seperti dari Jakarta, Batam, dan beberapa daerah lainya. Oren