Home / Pendidikan / Imbauan Diknas Bikin Repot

Imbauan Diknas Bikin Repot

# Terkait Shalat Gerhana

Sekolah mengaku bingung dengan imbauan Shalat Gerhana pada Gerhana Matahari Total. Selain teknis kegiatan yang belum jelas, sekolah sulit mendatangkan siswa karena 9 Maret adalah hari libur.

BP/ARRACHIM SIMUILASI GERHANA -Tim LAPAN bersama Dinas Budaya dan Pariwisata Sumsel melakukan simulasi melihat Gerhana Matahari menggunakan Teleskop dari atas jembatan Ampera, Palembang.

BP/ARRACHIM
Tim LAPAN bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel melakukan simulasi melihat gerhana matahari menggunakan teleskop dari atas jembatan Ampera, Palembang.

Palembang, BP

Rencana Dinas Pendidikan (Disdik) memberikan instruksi agar sekolah harus menggelar Shalat Gerhana pada Gerhana Matahari Total atau yang dikenal GMT dinilai merepotkan pihak sekolah. Pasalnya, saat GMT terjadi jatuh pada tanggal 9 Maret, yang merupakan hari libur Hari Raya Nyepi. Tentunya pihak sekolah harus menarik siswa lagi ke sekolah demi menjalankan imbauan tersebut.

Hal itu masih membuat bingung beberapa pihak sekolah. Apakah sekolah kembali aktif atau hanya beberapa anak didik saja yang harus diwajibkan ke sekolah.

“Sampai sekarang kami belum dapat selebaran itu dari Dinas Pendidikan. Kami harus tahu dulu bentuknya seperti apa baru bisa menyikapi instruksi tersebut,” kata Waka Kesiswaan SMAN Unggul 8 Ahmad Rison, Jumat,(19/2).

Dilanjutkannya, pihaknya juga tidak bisa langsung mempersiapkan semua kebutuhan seperti menggelar Shalat Gerhana secara massal di sekolah yang dilakukan oleh 999 siswa. Sebab, dia harus mengetahui bagaimana format instruksi yang akan dijabarkan Dinas Pendidikan kepada setiap sekolah.

“Jadi kami belum mempersiapkan apa-apa untuk GMT itu. Karena belum jelas seperti apa imbauannya. Apalagi tanggal itukan hari libur,” ujarnya.

Ia juga sedikit bingung, dikarenakan saat terjadi GMT suasana Kota Palembang menjadi gelap. Belum lagi akses jalan utama yakni Jembatan Ampera akan ditutup.

“Nah itu bagaimana lebih baik anak-anak di rumah saja,” ujarnya.

Hal serupa juga diutarakan Wakil Kesiswaan SMA PGRI 2 Sri Sutan Syahril. Dia mengatakan, sangat mendukung program GMT di sekolah dengan cara menggelar Shalat Gerhana dan penelitian. Namun pihaknya juga bingung karena apabila dijalankan, tentunya ia hanya mampu mengajak beberapa siswa saja.

“Paling beberapa siswa saja yang kita suruh datang ke sekolah. Terutama siswa yang ikut ekskul saja. Tidak mungkin kita libatkan semua siswa,” ungkapnya.

Sebelumnya Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, Widodo mengimbau agar semua sekolah melaksanakan Shalat Gerhana Matahari. Hal itu akan didukung dengan menyebarkan surat imbauan kepada setiap sekolah.

“Kita akan berikan surat selebaran setiap sekolah mulai dari SMP dan SMA agar mereka melakukan Shalat Gerhana,” kata Widodo.

Widodo menyatakan, momentum fenomena itu harus dimanfaatkan oleh semua pelajar. Edukasi juga harus dilakukan oleh setiap guru di sekolah tersebut.

“Iya, shalat paling hanya beberapa menit. Artinya edukasi mengajarkan shalat juga harus diberikan oleh guru di sekolah,” ujarnya.

Widodo melanjutkan, siswa nantinya juga diharapkan melakukan penelitian terkait perubahan alam tersebut. Baginya peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) juga memiliki poin penting edukasi untuk siswa.

“Sekitar pukul 07.15 WIB di tanggal 9 Maret paling siswa shalat tidak terlalu lama. Setelah itu mereka akan meneliti perubahan alam itu didampingi guru,” jelas Widodo.#adk

 

 

x

Jangan Lewatkan

SMAN 1 Terapkan Penambahan Jam di Kelas Cambridge

Palembang, BP–Sebagai SMA yang menerapkan dual kurikulum yakni kurikulum nasional dan kurikulum cambridge, proses pembelajaran daring ditengah pandemi terus dilakukan ...