Home / Bisnis / Sektor Ritel Dalam Tekanan Asing

Sektor Ritel Dalam Tekanan Asing

mitra-10-ekspansi-pasar-palembang-QRm

Palembang, BP

Implementasi pemberlakuan komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun ini dipastikan berdampak ke berbagai sektor, termasuk bisnis ritel. Untuk itulah, pengusaha ritel lokal harus bersiap-siap dalam menghadapi gempuran ritel asing yang mempunyai kekuatan modal besar.

 

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Sumsel Hasannuri mengatakan pemain ritel dari Prancis, Jepang, Tiongkok, sudah sejak lama ikut berbisnis ke pasar dalam negeri. Selain itu, pemain regional seperti Vietnam, Thailand, Malaysia dan Singapura berminat membuka bisnisnya di Sumsel.

 

“Pasar domestik bakal menjadi sasaran empuk peritel dari luar, kalau tidak dilindungi, jaringan distribusinya akan dikuasai asing. Karena itu pemerintah selayaknya memberikan kebijakan yang pro pemain lokal dan selektif terhadap pemain asing yang akan masuk,” katanya, Senin (15/2).

 

Dia menjelaskan, saat ini kran perdagangan antar negara sudah bebas dapat dilakukan. Kendati bisnis itu identik dengan persaingan, namun tinggal bagaimana ritel dapat memenangkan persaingan tersebut. Hanya saja, yang menjadi pertimbangan perusahaan ritel Tiongkok dan Jepang yang memiliki suku bunga rendah, siap menanggung rugi 10 tahun demi berinvestasi jangka panjang di Tanah Air.

 

Dia menyampaikan, para peritel local diharapkan dapat bersatu dan bersama untuk bersaing secara sehat dengan peritel asing. Saat ini minimarket lokal telah menunjukkan eksistensinya, di tengah gencarnya ritel modern asing melakukan ekspansi. Minimarket lokal mempunyai daya saing yang tinggi karena sudah didukung oleh pengelolaan yang baik sehingga diharapkan mampu bersaing dengan pengusaha ritel asing

 

Namun demikian, keberpihakan pemerintah mutlak dibutuhkan. Kebijakan di sektor ritel yang melempangkan jalan pertumbuhan ritel modern lokal merupakan faktor yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah baru. “Karena bisnis ritel lebih mengutamakan pertumbuhan dengan berekspansi,” tukasnya.

 

Apalagi seperti pasar di Sumsel yang berpotensi untuk dikembangkan, terutama wilayah di luar Palembang. Kawasan seperti Prabumulih, Lahat, Muba dll masih sangat menggiurkan dan daya beli masyarakat setempat tidak kalah dibandingkan masyarakat di Palembang.

 

“Sektor ritel modern memang tumbuh lebih cepat dibandingkan pedagang tradisional selama lima tahun terakhir. Tapi menurut Fitch Ratings kontribusi terhadap seluruh industri ritel hampir tidak beranjak, berada di kisaran 20 persen. Hal ini menyiratkan pasar ritel modern masih luas untuk berekspansi,” kata dia.

 

Sementara Aprindo mencatat sepanjang 2015, tercatat pertumbuhan gerai ritel modern sekitar 10 persen. Angka ini diprediksi akan terus tumbuh dengan perkiraan sebesar 10-15 persen di tahun depan. “Persaingan bukan di antara kita. Akankah kita bisa merebut kesempatan yang terbentang luas. Harapan kita ritel lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” terangnya.

 

Di tahun lalu, meski ekonomi terpuruk namun bisnis ritel masih dapat merealisasikan pertumbuhan 10 persen. Hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya peritel yang melakukan PHK terhadap karyawannya.

Ekonom Sumsel dari Universitas Sriwijaya Yan Sulistio mengatakan, Sumsel menjadi salah satu buruan sejumlah investasi asing untuk memulai bisnisnya.

 

Maka dari itu, peran pemerintah dalam menyikapi hal ini haruslah mendukung pelaku pelaku local. “Harus ada sinergi yang kuat antara pemerintah dan pengusaha dalam menyikapi sejumlah permasalahan yang terus menyudutkan pelaku pasar lokal. Terlebih dalam menghadapi MEA,” jelas dia. #ren

x

Jangan Lewatkan

Komsumsi BBM Turun, Pertamina Jamin Ketersediaan BBM dan LPG

Palembang, BP. Palembang, Sumatera Selatan, 17 Mei 2020 pandemi Covid 19, masih melanda negeri ini. Namun, semangat Pertamina masih tetap ...