Ultimate magazine theme for WordPress.

Yogi, Talenta Sumsel yang Terlupakan

Bakat Yogi sudah terlihat saat diberi kesempatan menimba ilmu di Leicester dan Uruguay. Namun akibat ketidakjelian, peluang mengajaknya bergabung ke tim Pra-PON Sumsel, terancam kandas.

Pemain tengah Mitra Kukar, Yogi Rahadian merayakan golnya ke gawang Semen Padang di final turnamen piala Jenderal Sudirman di Stadion GBK Jakarta, Minggu (24/1/2016). Gol Yogi memastikan kemenangan Mitra Kukar. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Pemain tengah Mitra Kukar, Yogi Rahadian merayakan golnya ke gawang Semen Padang di final turnamen piala Jenderal Sudirman di Stadion GBK Jakarta, Minggu (24/1/2016). Gol Yogi memastikan kemenangan Mitra Kukar. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

USIANYA memang baru 20 tahun, namun Yogi Rahardian sudah menjadi andalan Mitra Kukar. Dia salah satu sosok yang mengantarkan timnya meraih juara Piala Jenderal Sudirman. Di final, yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (24/1), Mitra Kukar menang 2-1 atas Semen Padang.

Yogi menjadi pusat perhatian di partai puncak itu. Gaya bermainnya memang sama seperti winger kebanyakan, senang beradu sprint dan meliuk-liuk untuk membongkar pertahanan lawan. Tapi, kemampuan istimewanya terletak pada sepakan akurat yang sering kali berujung gol penentu kemenangan.

Lalu siapa Yogi? Pemain lincah ini merupakan produk asli Sumatera Selatan, yang bisa dibilang ‘luput’ dari pengamatan. Padahal, bakat pemain kelahiran Teluk, Musi Banyuasin, 27 Oktober 1955, sudah terlihat sejak masih kecil. Yogi termasuk pemain muda yang beruntung di Indonesia. Punya banyak pengalaman di masa pembentukannya sebagai pemain profesional seperti sekarang.

Bakatnya bermain sepakbola sudah terasah sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dia mulai serius menekuni sepakbola saat bergabung dengan Sekayu Youth Soccer Academy (SYSA), ketika masih kelas 6 SD.

Dari SYSA, karier Yogi mulai menanjak dengan memperkuat Persimuba U-15 dan U-18. Kemudian, dia masuk dalam program Indonesia Football Academy (IFA), dan pernah mengikuti pelatihan bersama klub SAD Indonesia di Uruguay.

Di sini kemudian ia mulai dipanggil ke tim nasional pelajar untuk mewakili Indonesia. Lewat kesempatan tersebut, Yogi akhirnya bisa terbang ke Leicester untuk menimba ilmu di sana pada 2011. Pengiriman Yogi Rahadian ke Inggris merupakan kerja sama yang dibangun langsung dengan kesebelasan yang saat ini duduk di peringkat pertama Liga Primer Inggris tersebut. Kebetulan saat itu sebagian saham Leicester dimiliki oleh Iman Arif, pria asal Indonesia.

Yogi juga malang melintang di tim nasional Indonesia kelompok umur. Mulai dari U-14, U-15, U-17, U-18, hingga U-23. Hingga akhirnya dirinya direkrut Mitra Kukar U-21. Dari berbagai pengalamannya tersebut, ia mengaku pernah berganti-ganti posisi. Mulai dari gelandang ke striker, lalu menjadi winger hingga saat ini.

Kini, prestasi mentereng yang dipersembahkan Yogi seolah membuka mata para pengurus sepakbola Sumsel. Bahkan, Pra-PON Sumsel berniat memasukkan namanya mewakili Sumsel pada ajang PON 2016.

Sekretaris Tim PON Sumsel Bambang Suprianto, mengatakan, Yogi pemain muda yang punya permainan yang sangat berkelas. Dia bahkan mampu bersaing dengan pemain bintang Mitra Kukar yang jauh lebih berpengalaman.

“Dia pemain asal Sumsel, kalau dia bisa bergabung bersama kita kenapa tidak,” kata Bambang, Senin (25/1).

Menurutnya, tim PON Sumsel butuh pemain seperti Yogi, punya sprint, selalu meliuk-liuk untuk membongkar pertahanan lawan dan skill olah bola yang sangat baik.

Setelah melihat aksi Yogi di final Piala Jenderal Sudirman, pihaknya akan bergerak cepat untuk memulangkan Yogi ke Bumi Sriwijaya guna memperkuat tim PON Sumsel.

Sejauh ini, tim yang dibesut Rudy Keltjes ini memang terus berburu pemain, meski sudah mengantungi 26 nama. Bila ada pemain muda Sumsel yang punya bakat untuk dapat membuat tim PON Sumsel ini lebih baik, maka manajemen akan berusaha keras mendapatkannya.

“Sekarang nomor kontak sudah saya dapatkan, dia akan segera saya hubungi secepatnya,” katanya.

Dia berharap Yogi mau memperkuat tim tanah kelahirannya di PON Jawa Barat, akhir 2016. Apalagi anak asuh Keltjes punya target menjuarai PON 2016.

“Minimal kita menembus babak semifinal, kalau bisa juara tentunya,” ujarnya

Namun, niat Sumsel memulangkan Yogi sepertinya agak sulit. Pasalnya, Yogi sudah terlebih dahulu dipinang oleh tim PON Kalimantan Timur.

“Tidak ada koordinasi, jadi gimana lagi. Malahan saya akan turun memperkuat Kaltim karena terlebih dahulu diminta,” terangnya.

Dibincangi BeritaPagi, Yogi mengatakan, tak mendapat pinangan untuk bergabung di skuad Pra-PON Sumsel, hingga babak kualifikasi PON usai. Malahan, Yogi ingin memperkuat Sriwijaya FC (SFC) jika memang diminta.

“Kalau diminta, saya ingin gabung SFC. Siapa yang tidak ingin memperkuat klub tanah kelahiran,” ujarnya. # ferly marison

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...