Ultimate magazine theme for WordPress.

Tiga Tahun Dipalak, Sopir Mengadu ke Gubernur

BP/ARRACHIM AKSI SOPIR TRUK-Ratusan sopir truk melakukan aksi orasi dihalaman kantor Gubernur Sumsel mereka menuntut agar Pemerintah Provinsi dapat menindak aksi pemalak pemalak liar dijalur Daerah Prabumulih, Senin (26/1)
BP/ARRACHIM
AKSI SOPIR TRUK-Ratusan sopir truk melakukan aksi orasi di halaman kantor Gubernur Sumsel, Senin (26/1)

Palembang, BP

Kesal selalu menjadi sasaran aksi pemalakan preman, puluhan sopir truk mendatangi Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Senin (25/1) pagi, untuk mengadukan nasib mereka.

Junaidi, perwakilan para sopir, mengatakan, dirinya yang sering membawa truk berisikan sayur mayur, sering menjadi korban pungutan liar di jalan raya Kota Pagaralam menuju Prabumulih.

“Pemalakan itu selalu terjadi setiap saya bawa truk. Bukan sehari dua hari yang lalu. Namun sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir. Coba hitung berapa banyak uang yang sudah saya keluarkan untuk itu (pungli-red),” ujarnya.

Dirinya mengaku telah melaporkan hal ini kepada kepolisian. Polisi mengimbau agar para sopir melintasi jalanan Prabumulih pada siang hari, mengingat aksi pemalakan sering dilakukan pada malam hari. Namun kenyataannya, siang pun mereka tetap dimintai uang oleh preman.

“Kami dipaksa harus bayar Rp5.000 hinggaRp200.000 setiap melintas. Kalau tidak diberi, mereka langsung pecahkan kaca truk kami. Mereka menyebar di sepanjang jalan. Banyak orang yang malak. Kami kecewa kepada kepolisian dan instansi terkait seperti tidak melakukan tindakan apapun, padahal kasus ini sudah dilaporkan sejak lama,” tukasnya.

Ketua LSM KPK Sumsel Muhammad Isa berujar, maraknya aksi palak dan pungutan liar di Kota Prabumulih memang sudah meresahkan sejak dulu. Parahnya lagi, dituturkan Isa, aksi pungutan liar ini dilakukan oleh oknum preman dan diduga oknum Dinas Perhubungan Kota Prabumulih.

“Kami menuntut Gubernur Sumsel untuk memerintahkan Walikota Prabumulih agar menindak dan memberikan sanksi tegas kepada oknum Dishub dan preman yang melakukan pungli dan pemalakan terhadap sopir truk angkutan sayur dari luar kota. Kami mohon agar Gubernur Sumsel memperhatikan nasib sopir, sehingga dapat melintas tanpa harus ada pungutan,” ujarnya.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Sumsel Nasrun Umar mengatakan, pihaknya akan segera memanggil Kepala Dinas Perhubungan Kota Prabumulih terkait adanya pungli tersebut.

“Kami harus mendengarkan penjelasan dari Dishub Prabumulih kenapa bisa aksi pemungutan liar tersebut terjadi. Yang jelas, kasus tersebut harus segera diselesaikan dan tidak boleh berlarut-larut,” ujar dia.

Ia mengimbau para sopir truk untuk bersabar karena kasus tersebut akan dibahas terlebih dahulu supaya tidak terjadi lagi.

Polda Sumsel meminta Polres Prabumulih membersihkan pemalakan tersebut selama satu bulan ini. “Sudah diinstruksikan Kapolda kepada Kapolres Prabumulih. Pemalak harus sudah bersih selama satu bulan,” ujar Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol R Djarod Padakova, Senin (25/1).

Dugaan aksi pemalakan di sana semakin marak, menurut Djarod, dikarenakan sarana dan prasarana yang tidak memadai. Seperti jalan yang rusak dan kurangnya penerangan jalan.

“Jadi para pelaku memanfaatkan hal itu, sehingga pengguna jalan lebih berhati-hati saat melintas. Bapak Kapolda juga menginstruksikan Kapolres untuk segera memberitahukan SKPD setempat agar memperbaiki sarana dan prasarana di sana,” kata Djarod.

Dikatakan, Polda Sumsel siap membantu pengamanan di sana jika sangat dibutuhkan Polres Prabumulih. “Polda Sumsel siap bila mana Kapolres meminta bantuan,” tuturnya.

 

Pasokan Sayuran Normal

Aksi pemalakan sopir truk sayur mayur dari Pagaralam ke Prabumulih belum berdampak terhadap distribusi sayur mayur di sejumlah pasar di Kota Palembang. Meski begitu, pedagang sayur mayur mengaku resah, jika komoditi tidak dikirim. Sebab, suplai sayur mayur dari Pagaralam cukup mendominasi.

 

“Kalau distribusi sayur mayur terutama dari Pasar Induk Jakabaring hingga saat ini masih normal, sempat dengar adanya angkutan sayur dari Pagaralam tidak jalan, tapi hingga kini belum berpengaruh,” kata Atun, pedagang sayuran di Pasar Pagi Pahlawan, Senin (25/1).

Atun memperkirakan, sayur mayur yang berlimpah membuat komoditi ini masih bisa diperoleh. Para pemasok sayur mayur pun belum mengeluhkan proses pengiriman. Sehingga harga sayur mayur terbilang normal dan cenderung menurun karena sepi pembeli.

“Sayuran beberapa pekan terakhir banyak, hingga kini belum ada kendala berarti. Kendala kami hanya di daya beli masyarakat yang belum bergairah. Lantaran sayuran takut layu, terpaksa kami jual murah,” tuturnya.

Hal senada dikatakan pedagang sayur mayur di Pasar KM 5 Rozak (34). Ia mengaku masih mendapatkan pasokan secara normal, kendati sempat ada kabar truk sayur mayur dari Pagaralam dipalak di Prabumulih. Pihaknya juga merasakan keterlambatan pengiriman.

“Pengiriman masih normal, harganya pun cenderung stabil. Seperti bayam masih Rp5.000 per ikat, cabai merah Rp38.000/kg, dan bawang merah Rp36.000/kg,” katanya.

Dia berharap tidak ada kendala pasokan. Aparat kepolisian seharusnya dapat mengatasi aksi kejahatan yang bisa berdampak pada pedagang maupun pembeli.

“Sayur mayur kalau sudah dipetik, jika tidak didistribusikan maka akan layu. Petani bisa rugi, sementara kami tidak bisa jualan. Pembeli juga tidak bisa memasak sayur,” katanya. # idz/rio/ren

 

 

 

 

 

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...