Home / Headline / 1.400 Karyawan HTI OKI Terancam PHK

1.400 Karyawan HTI OKI Terancam PHK

IMG_3006-1132x509Kayuagung, BP

Akibat dibekukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ribuan karyawan PT Bumi Mekar Hijau (BMH) dan PT Sebangun Bumi Andalas (SBA) Wood Industrys, yang bergerak di bidang Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), harus menunggu nasib. Mereka terancam di-PHK (pemutusan hubungan kerja).

Setelah dua perusahaan HTI itu dibekukan, akibat kasus pembakaran lahan, kedua Perusahaan di bawah Sinarmas Group itu  tidak lagi berproduksi dan tidak lagi beraktivitas, sejak Oktober-November 2015. Seluruh insentif, tunjangan, dan sebagainya yang merupakan hak karyawan tidak lagi dibayarkan.

Karena hal ini sudah berlangsung dua bulan tidak ada kejelasan akhirnya para pekerja perusahaan HTI yang tergabung dalam Forum Solidaritas Serikat Pekerja Rimba Acacia, PT SBA, dan PT BMH melayangkan surat pernyataan ke Kementerian LHK dan ditembuskan ke Bupati OKI Iskandar. Tembusan surat pernyataan sikap para pekerja itu disampaikan melalui Kabag Humas dan Protokol Setda OKI Dedy Kurniawan, SSTp di ruang kerjanya, Selasa (19/1).

“Kedatangan kami mewakili 800 pekerja PT BMH dan 600 pekerja PT SBA, untuk menyampaikan tembusan surat pernyataan sikap kami sebagai pekerja. Akibat pembekuan perusahaan kami oleh Kementerian LHK, nasib kami tidak jelas, bahkan kami terancam PHK,” kata  Mujiburrohman, Ketua Serikat Pekerja Rimba Acacia PT BMH.

Para karyawan meminta kejelasan kepada pemerintah pusat, terkait kejelasan perusahaan tempat mereka bekerja.

“Izin lingkungan yang dicabut, entah sampai kapan sanksi ini berlaku, kami sekarang sudah dua bulan tidak bekerja lagi, hanya menerima gaji pokok saja dan tanpa bekerja. Kalau seperti ini terus dalam waktu dekat pasti ada PHK besar-besaran dari perusahaan. Kalau kami di-PHK nasib ekonomi keluarga kami bagaimana, bagaimana membiayai anak kami sekolah,” terangnya.

Ditambahkan Husmaidi selaku Ketua Serikat Pekerja Rimba Acacia PT SBA, menurutnya, surat pembekukan PT SBA diterima  pada tanggal 19 oktober 2015 lalu. “Saat itu juga perusahaan tidak lagi produksi, kami hanya menjaga aset saja, insentif sudah tidak lagi masuk, ke depan nasib kami para pekerja ini bagaimana, kami berharap ada kejelasan dari pemerintah, jangan asal bekukan saja, tetapi pikirkan juga nasib kami,” jelasnya.

Menurutnya, pemerintah melakukan tindakan dengan tangan besi, perusahaan  dibekukan, sementara tidak dipikirkan bagaimana nasib perkerja yang merupakan rakyatnya juga. “Kami di lapangan sudah bekerja keras melakukan pemdaman api, kami bukan hanya merasakan asap tetapi juga merasakan bagaimana panasnya api, bahkan kami selama tiga bulan tidak pulang karena berjibaku padamkan api yang berasal dari lahan masyarakat yang menyambar lahan perusahaan,” terangnya.

Forum Solidaritas Serikat Pekerja Rimba Acacia kabupaten OKI, menyatakan sikap, agar pemerintah mencabut segera sanksi pembekuan izin bagi PT BMA dan PT SBA, agar ribuan karyawan tetap bisa makan dan dapat hidup layak. Kemudian memberikan kesempatan kepada perusahaan yang lahanya terbakar untuk melakukan rehabilitasi penanaman yang bertanggung jawab. Selanjutnya mendorong kepada perusahaan HTI untuk melakukan pencegahan dini agar tidak terjadi lagi kebakaran hutan di kemudian hari.

Kabag Humas Setda OKI Dedy Kurniawan, yang menerima langsung tembusan pernyataan sikap para pekerja HTI tersebut mengatakan, “Saya mewakili Sekretariat Daerah (Setda) OKI menerima tembusan surat pernyataan sikap ini, surat ini akan kita sampaikan ke Pak Bupati, mengenai nasip pekerja dan sebagainya itu bukan kewenangan saya untuk menjawabnya, sementara pembekuan Izin perusahaan PT BMH dan PT SBA ini juga dikeluarkan oleh pemerintah pusat pukan pemerintah daerah,” kata Dedy.#ros

x

Jangan Lewatkan

Oknum Polisi Simpan Sabu Ditangkap

Palembang, BP Oknum polisi Bripka AF yang bertugas di Kepolisian Resor (Polres) Musi Rawas Utara (Muratara) ditangkap aparat Satuan Reserse ...