Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-24

HBA Ngaku Dizalimi Akil Mochtar

073457900_1442483222-BUDI-ANTONI-2Jakarta, BP

Dalam pembelaannya di persidangan tipikor, H Budi Antoni mengaku menyesali perbuatannya. Ia, katanya, telah dizalimi Aki Mochtar.

Bupati Empatlawang nonaktif, H Budi Antoni Aljufri (HBA), dan istrinya, Suzanna, membacakan nota pembelaan pribadi (pledoi) di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Senin (4/12).

HBA dan Suzanna  adalah terdakwa suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, terkait penanganan sengketa Pemilihan Kepada Daerah Empatlawang pada 2013 di Mahkamah Konstitusi.

Sekitar pukul 22.00, HBA yang mengenakan batik safari kuning cerah dan Suzanna dengan busana hitam-hitam memasuki ruangan persidangan tipikor.

Sebelum menduduki kursi terdakwa, HBA dan Suzanna sempat berpelukan dengan belasan saudara dan kerabat yang sejak sore menunggu.

Dalam pembelaannya, HBA mengaku menyesali perbuatannya. Ia telah dizalimi Muhtar Ependy, katanya.

“Saya menyesal dan saya dizalimi Muhtar Ependy,” kata HBA saat membacakan pledoinya di depan hakim dan jaksa.

Menurut Kuasa Hukum HBA, Badrul Munir,  keduanya membacakan pledoi sendiri-sendiri.

“Pak HBA dan Bu Suzanna akan membacakan   pembelaan secara pribad terhadap pasal-pasal yang didakwakan,” kata Badrul.

Yang jelas, kata Badrul, isi pldeoi adalah pembelaan terhadap dakwaan yang diajukan JPU. Dibacakan secara terbuka untuk umum.

Selain dua terdakwa, tim kuasa hukum juga menyiapkan pembelaan secara tinjauan hukum. Tim kuasa hukum akan menjelaskan pembelaan melalui pasal demi pasal.

Sebagaimana diketahui, HBA dan Suzanna pada sidang Senin (28/12) lalu dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan ancaman pidana penjara 6 tahun dan pencabutan hak politik selama 7 tahun untuk HBA dan 4 tahun untuk Suzanna dengan denda masing-masing Rp200 juta.

Dalam tuntutan JPU, keduanya terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi menyuap  mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) M Akil Mochtar dalam penanganan sengketa pilkada Empatlawang pada 2013.

Tim JPU memberikan tuntutan pada HBA dan Suzanna karena dianggap telah memenuhi unsur dakwaan suap dari HBA kepada M Akil Mochtar selaku Ketua MK melalui Muhtar Ependy sebagaimana terungkap di persidangan.

Hal itu termasuk dalam dakwaan pertama, karena HBA dan Suzanna melanggar sesuai dakwaan pokok pertama. Kedua terdakwa melanggar pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-undang (UU) nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999 junc to (jo) pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sementara dalam dakwaan kedua memberikan keterangan tidak benar di persidangan saat bersaksi untuk M Akil Mochtar.

Pasangan suami istri itu terbukti melanggar pasal 22 jo pasal 35 UU No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tidak pidana korupsi  sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999 jo pasal 55 ayat (1) ke-1.

Sedangkan pokok kedua, melanggar pasal 21 UU nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. #duk

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...