Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-24

Jalan Kaki Ribuan Kilo, Kenang Perjuangan Soerdiman

1Palembang,  BP
         Dengan berjalan kaki ribuan kilometer, prajurit TNI ini tetap semangat, langkah kaki yang diayunkan tanda bahwa perjuangan pasukan Infanteri tidak terlepas dari suatu tradisi jalan kaki dalam mengenang perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman di masa lalu.
Pelaksanaan Hari Infanteri ke 70 Tahun 2015 ini Korem 044/Gapo menyambut Ton Yudha wastu Pramuka dipimpin oleh KasdamII/Sriwijaya Brijen TNI Komaruddin Simanjuntak,SIP,MSc yang berlangsung di lapangan apel Makorem 044/Gapo, Sabtu (19/12).
Acara tersebut dan dihadiri oleh Irdam, Danrem 044/Gapo para Asisten, Kabalag dan Perwira menengah Kodam II/Sriwijaya, Gubernur Sumsel diwakili Kadispora Sumsel Ahmad Yusuf di mana sebelum pelaksanaan upacara terlebih dahulu dilaksanakan jalan kaki yang dimulai dari Makorem 044/Gapo menuju ke lapangan sepak bola Jasdam II/Sriwijaya dalam mendampingi Ton Beranting etape terakhir dimana pelaksanaan Ton Beranting tersebut telah dilaksanakan mulai dari Kabupaten OKI menuju ke lapangan Jasdam II/Sriwijaya dengan 10 etape siang dan malam sebagai tanda bahwa perjuangan pasukan Infanteri tidak terlepas dari suatu tradisi jalan kaki dalam mengenang perjuangan Panglima Besar Jendral Soedirman dimasa yang lalu.
Pada upacara tersebut Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Purwadi Mukson,S.I.P selaku Irup membacakan amanat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri mengatakan  tumbuh dan berkembangnya Infanteri sebagai korps terbesar di angkatan darat tidak pernah terlepas dari sejarah perjuangan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Salah satu catatan peristiwa penting yang menjadi tonggak sejarah Infanteri adalah peristiwa saat menghadapi agresi militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948.
Dimana       pada  saat  itu, Panglima Besar Jenderal Sudirman memgeluarkan perintah kilat no. 1/PB/D/1948 yang ditujukan kepada Angkatan Perang RI untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu perintah siasat no.1/1948 tanggal 12 juni 1948, untuk melawan musuh dengan melaksanakan perang rakyat semesta dimana pasukan-pasukan yang hijrah melaksanakan aksi wingate (infiltrasi) dengan cara long mars kembali ke wilayah masing-masing dan membentuk wehrkreise (kantong-kantong kekuatan) sebagai titik-titik kuat pertempuran  gerilya.  Bentuk  dan siasat pertempuran yang digunakan tersebut merupakan taktik dan strategi     prajurit     Infanteri      untuk  melanjutkan perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan.
Lebih lanjut Pangdam mengatakan melihat sejarah ditetapkannya hari Infanteri tersebut, maka peran, tugas dan fungsi TNI AD khususnya Prajurit Infanteri tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Kebersamaan dengan rakyat menjadi bagian penting dan strategis dalam mendukung pencapaian tuntutan profesionalisme prajurit dan satuan infanteri.
Ton beranting etape terakhir sebagai penutup dari pada pelaksanaan Ton beranting Yudha Wastu Pramuka Jaya Tahun 2015 dapat menyelesaikan tugasnya dengan bailk dan dilanutkan dengan Upacara serta penyerahan 2 pucuk senjata LE, 2 buah tabung berisi Amanat Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Ikrar Korp Infanteri, 2 buah bendera Yudha Wastu Pramukan Jaya dan Kodam II/sriwijaya serta 1 buah Tas Administrasi yang kesemuanya itu diserahkan ke Rindam II/Sriwijaya selaku Pembina Korp Infanteri jajaran Kodam II/Sriwijaya.
  Demudian di sambut oleh Pasukan Tradisional Dengan langkah tegap nan perkasa Pasukan Tradisional memasuki lapangan upacara dengan senjata di pundak kanan dan membawa sebuah kelapa muda merupakan ciri khas pasukan TNI Tempo dulu.
Dengan terbelahnya kelapa muda yang diiringi dentuman senjata, selesai sudah kegiatan Peleton Beranting Yudha Wastu Pramuka Jaya yang dimulai dari Kabupaten OKI menuju Makojasdam II/Sriwijaya dengan berjalan kaki selama 3 hari tiga malam dengan jarak tempuh sekitar 250 Km.#osk
Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...