Ultimate magazine theme for WordPress.

Pangdam dan Kasdam Sriwijaya Joget Bersama Pengamen

SWJ_4427

Palembang, BP
Pangdam  II Sriwijaya Mayjen TNI Purwadi Mukson, SIP bersama dengan Kasdam II Sriwijaya  Brigjen TNI Komaruddin Simanjuntak, SIP, MSc, bernyanyi sambil  berjoget bersama prajurit TNI diiringi lantunan musik yang dimainkan oleh para  pengamen jalanan yang biasa mengamen di pelataran Parkir Benteng Kuto  Besak (BKB), Palembang, Selasa (15/12).
Pandangan yang cukup mengagetkan tersebut terlihat pada saat usai  kegiatan Upacara Hari Juang Kartika (HJK) yang digelar Kodam II Sriwijaya di  halaman BKB Palembang.
Tanpa sungkan Pangdam dan Kasdam bernyanyi dan berjoget sambil memakai  kaca mata hitam saling bergantian, gelak tawa pun menghiasi suasana.
Kedua pejabat Kodam II Sriwijaya terlihat sangat menikmati lagu yang dibawakan  oleh pengamen-pengamen itu.
Suasana pun bertambah meriah karena seluruh pejabat TNI dan Ibu-ibu  Persit, anggota TNI serta tamu undangan yang ada disekitar tenda ikut bernyanyi dan   berjoget bersama.
Setelah menyanyikan beberapa lagu, Pangdam pun menyalami sembari menarik  amplop dari sakunya dan memberikan kepada para pengamen jalanan itu.
Momen tersebut pun tidak dilewatkan oleh para awak media untuk mengambil  foto hingga video.
Setelah menyanyikan beberapa lagu, Pangdam pun menyalami sembari menarik amplop dari sakunya dan memberikan kepada para pengamen jalanan itu.
Selain menggelar Pameran Alutsista TNI AD, Kodam II Sriwijaya juga menampilkan Pagelaran Drama Kolosal Perjuangan Pahlawan Sultan Mahmud Badaruddin II dan Rakyat Sumatera Selatan mempertahankan wilayah Sumsel dan Babel terhadap Penjajahan Belanda di halaman Parkir BKB dengan Tema yang diangkat pada Hari Juang Kartika kali ini, “Melalui Hari Juang Kartika Kita Mantapkan Jati Diri TNI AD dan Kemanunggalan TNI – Rakyat Guna Mewujudkan Indonesia Yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian”.
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Purwadi Mukson mengaku sengaja mengangkat sejarah Sultan SMB II dalam drama kolosal dalam acara kali ini karena dia melihat kondisi bangsa ada kecenderungan tergerungnya wawasan kebangsaan.
“Dalam rangka memperingati 70 tahun hari Kartika Juang , kita angkat kearifan lokal salah satunya tokoh masyarakat Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II , supaya kota Palembang dan Sumbagsel ada tokoh yang luar biasa , Sultan rela mengorbankan jiwanya, ini satu pesan kita harus mencontoh semangat beliau , ” katanya.
Sebelumnya dalam kesempatan itu, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Purwadi Mukson yang juga bertugas sebagai inspektur upacara dalam acara tersebut sempat membacakan amanat dari KSAD Jenderal TNI Mulyono.
Dalam amanatnya  KSAD mengatakan,  peringatan Hari Juang Kartika tahun ini, sebagai upaya mengingatkan kembali apa yang disampaikan oleh Presiden RI dan Panglima TNI dalam peringatan Hari TNI ke-70 tanggal 5 Oktober yang lalu.
Dimana dalam sambutan kesuanya mengatakan TNI adalah Rakyat dan Rakyat adalah TNI, serta Rakyat Indonesia adalah ibu kandung TNI. Bagi TNI-AD, penekanan tersebut akan selalu relevan dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas. TNI – AD tidak hanya tentara yang lahir dan terbentuk dari rakyat pejuang, tetapi selalu dan akan terus berjuang bersama rakyat. Sejarah telah membuktikan bahwa selama 70 tahun masa pengabdiannya, TNI – AD tidak dapat dilepaskan dari rakyat.
“Hari Juang Kartika yang kita peringati hari ini, juga terkait erat dengan salah satu peristiwa bersejarah tentang kebersamaan nyata TNI-AD dengan rakyat. Pada tanggal 15 Desember 1945, di kota Ambarawa, Jawa Tengah, para pejuang pendahulu TNI – AD bahu membahu bersama rakyat mempertahankan setiap jengkal tanah dari ancaman musuh yang ingin menjajah kembali bumi pertiwi,” katanya.
Ketika itu, pasukan Tentara Keamanan Rakyat dibawah Pimpinan Kolonel Soedirman, sebagai Komandan Divisi V Banyumas, berjuang bersama-sama rakyat untuk mengusir Tentara Sekutu keluar dari Ambarawa.
Dengan persenjataan sederhana dan sarana seadanya, namun disertai semangat juang  yang  tinggi, keuletan, keberanian, sikap rela berkorban dan pantang menyerah, akhirnya mampu menghadapi pertempuran sengit itu, dengan hasil yang gemilang, yang kemudian dikenal dengan Palagan Ambarawa, inilah yang kemudian ditetapkan sebagai tonggak Hari Juang Kartika.
Palagan Ambarawa telah menjadi tonggak sejarah perjuangan TNI – AD dalam melindungi keselamatan bangsa, menegakkan kedaulatan negara, serta menjaga keutuhan NKRI.
Raden Mas Syafei Prabu Diraja (Sultan Mahmud Badaruddin III) usai acara tersebut mengapresiasi drama kolosal tersebut namun menurutnya kalau Sultan SMB II di buang ke Ternate bukan karena kalah perang namun dalam kapal Belanda ada salah satu keluarga SMB II.
“Kalau kapal Belanda itu di tembak,pasti kena keluarganya itu dan  drama tadi saya nilai bagus dan sebelum drama ini akan dilaksanakan mereka sudah izin dengan saya,” katanya.#osk 
Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...