Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Yayasan Diduga Lakukan Intimidasi

 Siswa Korban Pemukulan Diancam Dipersulit

1512.01.Pemukulan Siswa.FerPalembang, BP

Hingga saat ini, Muhammad Sabilul Haq (12), siswa kelas VIII SMP Yayasan Az-Zahra, di Jalan Telaga, Kelurahan 26 Ilir, Kecamatan Ilir Barat 1, Palembang, masih mendapat perawatan intensif dengan luka parah di bagian rahang setelah dianiaya oknum guru bernama Ibnu Sina.

Sudah babak belur, Sabil dan keluarganya malah mendapat intimidasi dari pihak yayasan. Fakta itu diungkap Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah Indonesia Daerah (KPAID) Palembang Adi Sangadi. Dia mengatakan, pihak keluarga telah didatangi salah seorang utusan pihak yayasan yang meminta masalah ini jangan diperpanjang.

“Tepatnya pada 5 Desember ada seseorang yang mengaku perwakilan dari Yayasan Az-Zahra mendatangi orangtua korban ke rumah sakit dan meminta masalah ini tidak usah diperpanjang proses hukumnya. Katanya yang bersangkutan adalah kawan baik ibu pemilik yayasan. Jika tidak maka anak tersebut akan dipersulit di sekolahnya, akan menjadi seperti arang dan debu, karena akan dilaporkan ke diknas dan meminta anak ini tidak akan diterima di sekolah mana pun,” kata Adi saat mendampingi keluarga Korban di Mapolresta Palembang, Senin (14/12).

Menurut Adi, orangtua korban Khairul Rahman (38) telah membawa hasil rontgen dan Visum dari pihak Rumah Sakit AK Gani.

“Hasilnya sudah diambil, ada patah rahang. Sampai saat ini korban masih susah makan dan susah ngomong. Kita datang ke Polresta untuk melengkapi kesaksian dan memberikan hasil visum sekaligus untuk menindaklanjuti kasus ini,” ungkapnya.

Menurutnya, apa yang menimpa korban tersebut adalah kasus berat mengingat anak tersebut bisa cacat total.

“Kesimpulannya, terhadap oknum guru yang memukul, Ibnu Sina bisa diproses sesuai hukum yang berlaku. Ini kasus terberat sejak tujuh tahun belakangan atau sejak KPAID hadir di Kota Palembang. Ini yang terparah, kalau yang lain cuma memar-memar. Jadi pendidik ini maupun guru atau pendidik lain haruslah bertindak benar, kalau anak nakal bisa kembalikan saja ke orangtua, bukan dengan cara dipukul,” tegasnya.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Mapolresta Palembang Ipda Malina mengungkapkan, pihaknya sedang memproses kelengkapan alat bukti.

“Minimal dua alat bukti, untuk perkara ini tentu sudah kita tindaklanjuti. Sudah mengambil keterangan dari saksi yaitu bibinya yang memberikan pertolongan pertama, mengingat waktu kejadian ayah korban ada di luar kota. Sebelumnya anak ini masih dalam perawatan dan mulutnya masih terkunci, jadi memang belum bisa kita ambil keterangan,” katanya.

Dikatakan Malina, untuk kasus ini tidak bisa semerta-merta langsung ke pelaku karena harus melengkapi dulu syarat-syaratnya. Jika terbukti, pelaku bisa diancam Pasal 80 ayat 2 Undang Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang kekerasan terhadap anak di bawah umur yang diancam hukuman minimal lima tahun penjara.

“Sejauh ini penyidik sedang bekerja, setelah ini kita akan koordinasikan ke pimpinan dan terlapor masih kooperatif,” pungkasnya.

Sementara itu Kabid SMP, SMA,SMK Disdikpora Palembang Lukman Haris menegaskan, tidak akan mempersulit pendidikan Muhammad Sabilul Haq. Pihaknya, berharap supaya masalah ini diselesaikan secara baik-baik, semua pihak hendaknya berkomunikasi dengan baik.

“Kami tidak mengetahui secara pasti, yang jelas persoalan ini hendaknya diselesaikan dengan kekeluargaan. Masalah tidak boleh dipersulit, kami berharap pihak yayasan harus profesional tidak boleh merugikan siswa tersebut,” tegasnya. #bel/adk

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...