Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Sumsel Darurat Senjata Api

senjata-api_20150514_221950Palembang, BP

Sepanjang bulan Desember 2015, Palembang diguncang aksi kejahatan dengan senjata api. Sedikitnya, enam peristiwa kejahatan yang menggunakan senpi terjadi di kota ini. Peristiwa beruntun itu sangat meresahkan masyarakat Kota Palembang. Hampir semua peristiwa besar di Palembang hingga kini belum juga terungkap.

Seperti penembakan orang tak dikenal di depan Halte TVRI, perampokan senilai Rp500 juta di wilayah hukum Ilir Barat (IB) I Palembang, begal di Jakabaring yang semakin marak, dan perampokan bersenpi di Indomaret yang dilakukan siang bolong. Belum lagi aksi begal menggunakan senpira di kawasan Jakabaring.

Terkait dengan maraknya aksi kejahatan bersenpi, Polda Sumsel menegaskan pihaknya akan meningkatkan patroli di sejumlah titik di wilayah hokum Sumsel. Bahkan untuk mengusut pelaku kejahatan bersenpi Polda Sumsel juga melibatkan Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel.

“Tak perlu bentuk tim khusus, karena Polda Sumsel sudah memiliki tim khusus yaitu Jatanras yang kini terus berupaya untuk mengusut tuntas. Maraknya aksi kejahatan di Kota Palembang, kita juga akan mem-backup Polresta Palembang,” ujar Dir Ditreskrimum Polda Sumsel Kombes Pol Sumarsono, Senin (14/12).

Mengenai target akhir tahun ini, masih dikatakan Sumarsono, pihaknya akan terus menekan secara maksimal, sehingga akan diberantas para pelaku kejahatan yang menggunakan senpi tersebut. Untuk itu, patroli di lapangan akan diintensifkan atau ditingkatkan.

“Selain operasi keamanan wilayah yang diperketat, Polda Sumsel terus mengusut kasus kejahatan bersenpi yang marak terjadi sepanjang bulan ini. Fokus penyelidikan polisi terletak pada kepemilikan senpi, serta tindak kejahatan yang dilakukan,” tegasnya.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Iza Fadri menyarankan kepada pemerintah daerah (Pemda) untuk melakukan relokasi kepada para perajin senjata api rakitan (senpira) yang berada di Provinsi Sumsel. Menurut Kapolda, hingga kini memang masih banyak warga yang memiliki senpira bukan organik yang digunakan anggota. Keberadaan senpira tersebut tidak terlepas dari peran para pengrajinnya yang diduga berada di Musirawas, Muaraenim serta daerah lainnya di Sumsel.

“Para perajin tersebut kan memiliki keterampilan jadi agar keterampilannya tidak dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab untuk kejahatan maka kita sarankan agar Pemda dapat melakukan relokasi kepada para perajin tersebut,” kata Iza.

Sedangkan untuk penindakan secara hukum dan antisipasi peredaran senpira, dijelaskan Iza, Polda Sumsel dan jajaran terus melakukan razia. Apabila ada warga yang terbukti memiliki senpi maupun senpira tentunya akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Langkah-langkah untuk penindakan dan antisipasi terus kita lakukan. Bahkan belum lama ini sekitar 350 senpira diamankan dan dimusnahkan di Polres Muaraenim. Kita juga terus melakukan razia jika terbukti ada warga yang kedapatan memiliki senpi, kita tindak tegas sesuai dengan Undang-Undang Darurat,” kata Iza.

Terkait kasus perampokan bersenjata api yang terjadi di kediaman Ika Swastika (40), Jalan Kijang Mas Blok D-9, No 4418,Kelurahan Demang Lebar Daun, Kecamatan Ilir Barat I, Minggu (13/12), pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan. Pelacakan terhadap para pelaku terus dilakukan dan penanganannya dikoordinasikan dengan pihak Mapolda Sumsel.

Kabag Ops Polresta Palembang Kompol I Made Sinar Subawa mengatakan, pihaknya telah mengoordinasikan pelacakan terhadap mobil Toyota Yaris merah BG 173 M yang ikut dibawa pelaku.

“Jadi, Polda dan Polres terkait sudah kita koordinasikan untuk itu. Namun, anggota di lapangan juga bekerja mengembangkan temuan di TKP dan keterangan saksi yang ada dalam upaya pengejaran terhadap para pelaku,” ungkap Made.

Menurutnya, aparat Satreskrim Polresta Palembang kini tengah mengupayakan pelacakan terhadap keberadaan pelaku berdasarkan telepon seluler (ponsel) yang diambil dalam kejadian tersebut.

“Ada 13 unit HP milik korban yang dibawa pelaku. Kini kami telah koordinasikan dengan IT Polda untuk lacak keberadaannya,” tambah Made.

Disinggung mengenai maraknya perampokan yang menggunakan senjata Api, Made menegaskan bahwa pihaknya selalu berupaya menjaga keamanan, ketertiban masyarakat.

“Kita ada tim anti-bandit yang berjumlah 24 orang. Mereka ini patroli rutin, razia juga hampir setiap saat bahkan sampai subuh. Kita tidak memberikan ruang para pelaku kejahatan untuk beraksi,” tegasnya.

Menurut Made, adanya tim anti bandit ini dalam upaya pencegahan terhadap kemunculan adanya indikasi kejahatan.

“Kalau mengenai Senpira, ini Undang Undang Darurat Mengenai tempat pembuatannya di mana tentu kita akan melakukan penelusuran. Tapi yang pasti akan kita koordinasikan dengan polres-polres lain yang wilayah hukumnya menyentuh itu. Biasanya dari luar kota, kemungkinan besar bukan di wilayah hukum kita,” bebernya.

Sulit Dilacak

Pakar hukum pidana Syaripudin Petanase mengakui bahwa sampai saat ini penanggulangan peredaran pembuatan senjata api rakitan masih sulit dilakukan oleh aparat kepolisian.

“Kecenderungan penggunaan senjata api rakitan oleh pelaku kejahatan jalanan memang sedang marak dan pihak yang berwajib memang sulit melacak keberadaan para pembuat senjata,” ujarnya.

Meskipun upaya pemberantasan aksi kejahatan terus dilakukan dengan tindakan tegas. Namun semua itu tetap tak dapat menghentikan perbuatan melawan hukum di jalanan.

“Tindakan tegas cukup lumayan, tapi tetap sulit dideteksi, baik peredaran senjata maupun pelaku. Karena umumnya pelaku kejahatan jalanan ini bertindak secara mobile,” imbuhnya.

Sehingga selain tindakan tegas dari pihak yang berwajib, juga dibutuhkan peran dari masyarakat. Sehingga tidak lagi cenderung menjadi korban. Seperti dengan melapor jika mengetahui sebuah perbuatan, atau menghindari kawasan rawan.

“Tindakan secara preventif untuk pencegaan akan jauh lebih baik dari pada penindakan dan untuk menciptakan hal itu sangat dibutuhkan peran dari masyarakat,” tandasnya.

Sementara terkait aksi penembakan terhadap Aan Sutrisno di depan Gedung TVRI Sumsel di Jalan POM IX, Kelurahan Lorok Pakjo, Kecamatan IB I Palembang belum lama ini.

Kapolsek IB I Palembang God P Sinaga mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap seseorang yang diduga menjadi pelaku penembakan.

“Identitas yang diduga pelaku penembakan sudah ada dan sampai kini masih terus dilakukan pengejaran dan kita juga memantau tiap titik yang jadi aktivitas pelaku selama ini,” katanya.

#rio/bel/ris

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...