Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-24

Pilkada Sumsel Diwarnai Golput

656871_05321126052014_AlfitriPalembang, BP
Keputusan untuk tidak memilih alias golput dinilai kalangan pengamat tetap mewarnai pelaksanaan pilkada di tujuh kabupaten di Sumatera Selatan. Pengamat politik Sumsel, Alfitri, menilai peluang money politics (politik uang) cukup terbuka untuk mendorong partisipasi pemilih menggunakan hak suaranya.
“Prediksi kita, angka pemilih hampir sama dan merata di setiap kabupaten yang menggelar pilkada,” katanya di Palembang, siang ini. Untuk persentase golput pun dinilainya relatif sama dengan pemilu legislatif dan presiden beberapa waktu lalu. Ia memprediksi bisa mencapai 20 – 25%. “Untuk partisipasi pemilih, bisa saja Kabupaten OKU Selatan yang akan rendah, ketimbang daerah-daerah lain,” ujarnya.
Hal yang sama diungkapkan pengamat kebijakan publik dan politik Universitas Sriwijaya, Andreas Leonardo. Menurutnya, peluang golput tetap ada selama sistem politik belum maksimal mempraktikkan tujuan demokrasi yaitu kesejahteraan rakyat. Masih banyak kepala daerah hasil pilkada langsung yang belum mampu mewujudkan kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat. Kondisi demikian membuat masyarakat cenderung enggan ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk menggunakan hak pilihnya. “Inilah akar masalah golput, masih akan terjadi,” katanya.
Sedangkan Ketua KPU Sumsel Aspahani pada hari H pencoblosan mengharapkan tidak ada kendala lagi bagi penyelenggara pilkada, baik tingkat kabupaten maupun tingkat paling bawah, KPPS.
“Mudah-mudahan pasca pencoblosan 9 Desember ini, surat suara dan hasil rekap per TPS, betul-betul dapat diamankan dalam proses untuk disampaikan ke tingkat PPK. Karena pengalaman kami selama ini, kadang-kadang kotak suara tidak sesuai dengan apa yang semestinya ada dalam kotak suara tersebut,” katanya.
Ia juga mengkhawatirkan saat pasca pencoblosan nanti, memang hasilnya bisa saja sudah tergambar untuk diketahui tim sukses paslon, tinggal menggunakan sistem IT yang baik.
“Kita khawatirkan bagi yang cenderung sementara kalah, karena akan berusaha menghindarkan rekap tersebut tidak berjalan baik. Bisa saja hasil rekap dihilangkan, dirusak, dan kami ingin betul-betul pihak keamanan untuk membantu pasca pencoblosan tersebut,” katanya.
Aspahani juga meminta kepada masing-masing saksi paslon yang ada, untuk merekap data per TPS agar disesuaikan dengan data di panwas. Sebab, jika berbeda data yang ada dalam rekap di kotak kecamatan, rekomendasi panwaslu dibutuhkan segera untuk membuka kotak asal C1 planonya, agar tidak terjadi lagi perbedaan tingkat kabupaten.
“Untuk formulir yang di-scan TPS C1 kwk jumlah perolehan suara paslon, atau suara tidak sah maupun sah. Nanti hasil scan akan berada langsung di web KPU RI, tetapi kami tetap menurunkan staf KPU Sumsel untuk bersama-sama mencemati hasil scan tersebut. Jika ada persoalan di lapangan, kita bisa melihat hasil rekap tersebut untuk koreksi KPU dengan panwaslu, itu upaya kita mencermati hasil scaning itu bisa direkap kabupaten bersangkutan,” katanya.#osk
Baca:  Pasangan HERO Menang di Tiga TPS di PSU PALI
Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...