Ultimate magazine theme for WordPress.

Sang Penghibur Itu Telah Tiada

                Rendi dikenal sebagai penghibur teman-temannya di sekolah. Dia suka bercanda, melawak hingga memplesetkan lagu. Seusai pulang sekolah dia membantu ibunya berjualan. Itu sepenggal kisah bocah tidak berdosa, yang meninggal dengan cara yang tragis.

Randi tewas oleh peluru: suasana bangku kosong yang biasanya Randi Anggara yang tewas akibat peluru nyasar, dalam melakukan belajar di SDN 46 Palembang, Senin (7/12).
Bangku kosong yang biasanya diduduki Rendi Anggara’ yang tewas akibat peluru nyasar, di SDN 46 Palembang, Senin (7/12).

BERAPA lama usia manusia tidak ada yang tahu selain Sang Khalik. Banyak manusia yang meninggalkan dunia fana ini pada usia muda, seperti dialami Rendi Anggara (11), siswa kelas V SD Negeri 46 Palembang, yang tewas setelah kepalanya tertembus peluru polisi dari Satuan Narkoba Polresta Palembang pada sebuah penggrebekan bandar narkoba, Sabtu (5/12).

Tidak hanya keluarga yang merasa kehilangan Rendi. Rasa duka juga dialami teman-temannya dan guru bocah yang tinggal di Jalan Segaran, Lorong Terusan Darat, Gang Aida, Rt 11 RW 04, Kelurahan 13 Ilir, Kecamatan IT 1, Palembang. Semasa hidup, Rendi dikenal sebagai anak yang baik, periang, suka melawak, dan menyanyi.

Tidak menyangka, begitu ucapan M Husein, teman sekaligus sahabat sebangku korban semasa hidup, Rendi merupakan sosok yang periang, senantiasa menghidupkan suasana dengan celotehan-celotehannya ketika di dalam kelas maupun pada saat istirahat sekolah.

“Rendi itu wongnyo memang kocak kak, ado-ado bae omongannyo itu bikin kito ketawo. Disamping itu dia juga baik, tidak pernah yang namanya bebala (berkelahi-red). Dia juga tidak nakal, hanya saja seneng ngelawak (bercanda-red),” kata Huseian ketika BeritaPagi, yang menyambangi sekolah Rendi di SDN 46 Palembang, di kawasan Jalan Segaran, Senin (7/12).

Bukan saja periang dan suka melawak sosok, Rendi di mata teman sekelasnya juga senang beryanyi. Kalau menyanyi ada saja kata-kata yang dipelesetkan sehingga menjadi tertawaan. Nyanyian yang biasa dia nyanyikan pun biasanya berubah-ubah, terkadang nyanyi Sambel Lado, atau lagu milik Cita Citata.

“Pasti, kami merasa kehilangan kak, tidak ada lagi yang bikin kami tertawa. Kalau dio joget itu kadangan kami rekam kak pake HP,” ujarnya.

Selain itu juga, Rendi dikenal dengan sosok yang suka bermain masakan-masakan dengan teman cewek. Walaupun suka main masak-masakan, Rendi juga senang bermain dengan siswa laki-laki seperti, lari-larian dan kelereng. Tidak hanya itu, di luar jam sekolah Rendi menolong ibunya dengan berjualan.

“Sebelum Rendi mendapatkan musibah itu sebenarnya tidak ada yang berubah, firasat juga tidak ada. Tidak nyangko bae kak,” bebernya.

Hal senada juga diungkapkan, M Syifa Riyadi salah satu teman korban sejak kelas I. Dia mengatakan, selain periang dan pelawak, Rendi juga rajin melaksanakan ibadah shalat.

“Pasti kak, sedih dan kehilangan kami. Walaupun idak terlalu akrab tapi sedih bae,” bebernya.

Lismawati, SPd, guru kelas V mengatakan, sosok Rendi tidak nakal, kepada guru selalu menurut dan tidak banyak ulah. Selain itu, dia juga ramah dengan teman-teman.

“Untuk prestasi sendiri sedang-sedang saja. Memang sebelum kejadian itu, seminggu terakhir itu, memang secara penglihatan Rendi cukup berubah, awalnya pendiam menjadi periang kalau disuruh langsung dikerjakannya,” jelasnya.

Selain itu juga, di kelas Rendi mulai aktif seperti menjawab soal apa yang ditanyakan selalu menjawab. Terus yang bikin heran itu, ketika ibu guru menjelaskan, kata-kata yang diterangkan itu selalu diikutinya. Misalnya, Ibu menjelaskan lagu Indonesia Raya, dia pun mengikuti apa yang saya ucapkan.

“Biasanya dia tidak pernah datang langsung ke meja ibu, sambil berkata. Ibu oh Ibu, ayuk aku dulu sekolah sini, ibu juga yang mengajar. Makasih Bu yaa,” ujarnya menirukan ucapan Rendi.

Pada hari kejadian sepulang sekolah, Rendi ikut kerja bakti bersama teman-temannya. Bahkan dia ikut membersihkan kelasnya karena mau dipakai untuk ujian semester.

“Ya, perubahan yang diberikan ini tidak disangka menjadi pertemuan dan pembersihan terakhirnya,” ucapnya sedih.

Terlepas dari sekolah, guru-guru juga berharap kasus yang menimpa anak muridnya ini dapat diproses secara hukum yang adil. Ini merupakan pelajaran yang sangat berarti bagi oknum yang sudah menghilangkan nyawa seseorang.

“Kami berharap kasus ini akan segera selesai, dan untuk keluarganya semoga diberikan ketabahan, namanya juga musibah,” pungkasnya. #adi kurniawan

 

 

 

 

 

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...