Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-24

Palembang Bersolek Sambut Asian Games

Perhelatan Asian Games 2018 kurang 1.000 hari lagi. Sejauh mana persiapan Kota Palembang dalam menyediakan fasilitas public space untuk atlet dan para tamu yang datang? 

Asian Games, Palembang Perlu BersolekBELUM banyak tempat yang bisa dijadikan tamu yang datang untuk sekadar bersantai atau menikmati keindahan Kota Palembang. Kalaupun ada, masih harus ditambah lagi. Hal ini perlu dipikirkan bersama, agar kedatangan para tamu bisa meninggalkan kesan yang baik terhadap Kota Pempek ini.

Saat ini, banyak tempat nongkrong yang nyaman dan murah, serta banyak juga pusat kerajinan yang bisa dijadikan buah tangan. Namun sayang, tidak ada tempat yang terpusat dan representatif untuk dikunjungi 24 jam.

Asian Games merupakan momen penting untuk kemajuan Palembang berikutnya. Pendatang akan singgah lagi ke Kota Palembang ataukah tidak tertarik lagi, tergantung dari kesan selama tamu berada di Palembang.

Pengamat Sosial Sujamadji G Pamungkas mengatakan, ketika datang ke Palembang, atlet atau official taktis tidak tahu tempat untuk bersantai sejenak yang representatif, tidak ada lokasi yang terpusat, padahal mereka sangat ingin berlama-lama di kota yang didatangi.

“Di Benteng Kuto Besak (BKB) itu tidak ada yang menarik untuk dikunjungi, restoran?, pendatang sudah bosan. Sentra produk lokal yang bisa pulang ke negeri masing-masing itu tidak terpusat, harusnya ada wadah khusus untuk kuliner lokal, produk lokal yang bisa dinikmati dan menarik,” katanya, Jumat (5/12).

Alumni Universitas Gajah Mada yang telah lama menetap di Kota Palembang ini pun mengatakan Pemerintah Kota (Pemko) Palembang kurang memfasilitasi UMKM secara maksimal. Padahal BKB dan sekitar Ampera masih ada tempat yang memadai untuk dikembangkan sebagai tempat sentra kuliner dan kerajinan lokal.

“Sediakan dulu tempat yang memadai dan dekat dengan ikon kota, sediakan juga tempat parkir yang luas. Selain itu, pemerintah tidak hanya menyediakan lahan kosong, fasilitasi tempat ini dengan etalase yang bisa disewa dengan harga yang terjangkau,” katanya.

Setelah semuanya ada dan tersedia dengan baik, fasilitasi tempat terhadap keamanan dan kenyamanan dengan biaya yang terjangkau. Dengan begitu, UMKM akan mau berbisnis dan berlomba-lomba untuk memperkenalkan produk lokal. Setelah ada tempat yang terpusat, barulah dikembangkan dengan daya tarik lainnya, seperti tempat wisata dan sebagainya.

“Pendatang itu kadang bertanya, di mana tempat asyik untuk santai sambil menikmati suasana Kota Palembang. Pihak hotel bingung menawarkan, karena hanya ada restoran tepian Musi, sementara sentra kerajinan, tempat makan yang asyik, semua kuliner Palembang yang terpusat tidak ada,” katanya.

Jadi, pemerintah harus sediakan sentra lokal 24 jam ini, sehingga orang yang datang ke Kota Palembang ini benar-benar menikmati kuliner, kerajinan, budaya, serta wisata Kota Palembang, dan meninggalkan kesan yang tidak terlupakan, bukan hanya sekadar berfoto berlatar jembatan Ampera.

Sementara itu, Pengamat Perkotaan Chairuddin Yusuf mengatakan, pemerintah harus membuat Peraturan Daerah tentang Pertokoan di sepanjang Sudirman untuk buka hingga pukul 22.00 untuk menunjang sentra lokal yang harus ada di Kota Palembang.

“Perbengkelan di Jalan Sudirman itu sudah seharusnya tidak ada lagi, kalau masih mau berbisnis harus tetap buka hingga pukul 22.00. Buat aturan daerah atau Perwali tentang hal ini, sehingga pinggir jalan kota tetap terang, karena selama ini baru pukul 17.00 sudah sepi dan gelap,” katanya.

Jalan Sudirman harus terang bahkan harus difasilitasi dengan tempat nongkrong yang nyaman, menurut Chairuddin perlu dipertimbangkan konsepnya, sehingga tidak mirip kaki lima yang nantinya dapat menimbulkan masalah. “Kalau aman, nyaman, makanannya enak, itu tidak masalah. Tapi kalau sudah tidak aman, gelap, perlu dipertimbangkan lagi rencana ini,” tuturnya.

Salah satu pendatang dari Kota Bandung, Wira (30) mengaku Palembang memiliki peluang untuk lebih maju dari pulau lainnya di Indonesia. Palembang sudah cukup dikenal dengan event internasional dan kemajuan kotanya. Namun untuk perkembangan saat ini perlahan dan masih kurang banyak tempat representatif yang dapat dikunjungi.

“Kalau malam, paling ke BKB, itu saja. Tempat lain yang memang tertarik untuk dikunjungi belum ada. Harusnya memang bisa lebih maju, di BKB itu kurang difasilitasi pemerintah,” ujar dia.

Pantauan BeritaPagi, di Kota Palembang kawasan Kambang Iwak dan Jalan POM IX, cukup ramai tenan lokal dan nasional yang berkontribusi di kawasan ini. Hanya saja, tidak terlalu menuai respon positif dari pendatang, sebab produk yang dijual sudah ada di mal dan tempatnya masih belum terpusat.

“Harusnya ada sentra lokal yang terpusat, makanan lokalnya harus lebih banyak sehingga pendatang seperti kami bisa benar-benar menikmati Kota Palembang, termasuk kulinernya yang cukup variatif,” ujar Anita (34), warga Jakarta yang menyukai mie celor ini.

Walikota Palembang Harnojoyo mengatakan pihaknya sudah menyiapkan rencana ini menyambut Asian Games 2018 untuk kemajuan sentra lokal di Palembang. Hanya saja rencana tersebut masih didalami pihaknya menyangkut ketersediaan tempat dan fasilitas pendukung lainnya.

“Sudah kami rencanakan, seperti di kawasan Pasar 16 dan dekat jembatan Ampera, termasuk juga di kawasan dekat Masjid Agung. Namun dalam waktu dekat, sesuai dengan usulan gubernur, Palembang akan dibuat lebih terang dulu,” kata Harnojoyo, belum lama ini.

Termasuk kawasan Veteran, Jalan Sudirman hingga kawasan lainnya yang berpotensi menjadi perlintasan hotel ke venue maupun ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II. “Bertahap rencana untuk memeriahkan Asian Games ini akan dilakukan, termasuk juga sentra kuliner, produk lokal termasuk wisatanya,” ujar Harnojoyo. #ren

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...