Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-24

Durian, Setelah Karet dan Akik Anjlok

0312.01.KAKI.HASSPenjual buah-buahan durian mulai marak di sepanjang jalan lintas Sumatera (jalinsum) di Muratara. Masyarakat menjual durian untuk memenuhi kebutuhan keluarga, setelah harga karet anjlok dan batu akik kehilangan harga.

SAAT ini tidak ada lagi perbincangan masalah harga batu akik di tengah-tengah masyarakat wilayah Muratara. Begitu juga dengan perbincangan masalah harga karet. Tidak dibicarakannya dua hal yang sempat buming itu disebabkan keduanya dianggap tidak bisa lagi menampung perekonomian masyarakat.

Batu akik yang selama ini menjadi andalan masyarakat untuk mengatasi anjloknya harga karet, sudah tidak ada harganya lagi. Sementara dari sektor karet belum juga menunjukkan grafik kenaikan.

Beruntung di tengah keterpurukan itu, masyarakat dibantu dengan musim durian di wilayah kabupaten termuda di provinsi Sumatera Selatan ini.
Musim durian ini masyarakat menggelar dagangannya di sisi jalinsum. Tujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di tengah anjloknya harga karet. Walaupun harganya tidak semahal karet paling tidak bisa menopang perekonomian keluarga untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurut seorang pedagang durian, Beni (27), durian yang dijual di sepanjang jalinsum di wilayah Muratara berasal dari kebun-kebun di wilayah Bumi Berselang Serundingan ini. Atau dari perkebunan masyarakat setempat.

“Durian yang dijual di lapak-lapak sepanjang jalinsum rata-rata dari perkebunan rakyat setempat,” paparnya.

Dikatakannya, durian yang dijualnya harganya bervariasi mulai dari Rp10 ribu hingga Rp35 ribu per butir. Artinya, tergantung dengan besar kecilnya buah durian, semakin besar semakin mahal harganya.

“Harga bervariasi tergantung besar kecil durian, semakin besar semakin mahal harganya,” terangnya.

Ia juga berani menjamin durian yang dijualnya  tidak busuk. Kalau busuk bisa dikomplain dikembalikan. “Kalau busuk silakan komplain. Pembeli bisa datang ke sini komplain durian yang saya jual busuk,” katanya.

Masih katanya, berjualan durian ini untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebab harga karet yang menjadi andalan tetap tidak mengalami kenaikan. Begitu juga untuk harga batu yang selama ini mahal saat ini sudah tidak berharga lagi.

“Biasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi harga karet tetap murah dan juga batu tidak ada harganya,”paparnya.

Diakuinya, dengan berjualan durian ini, walaupun untungnya tidak banyak, bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Senada dikatakan Yamin (30), sebelumnya ia berjualan batu akik. Seiring meredupnya usaha itu kini ia terpaksa berjualan durian. Ia mengaku, berjualan durian untuk memenuhi kebutuhan hidup, lantaran harga karet tetap turun. Begitu juga batu akik yang sudah tidak ada harga lagi.

“Bersyukur musim durian, sehingga bisa berdagang durian untuk kebutuhan sehari-hari,”paparnya.

Ia sangat berharap kepada pemerintah, untuk menstabilkan harga karet, supaya perekonomian masyarakat bisa terbantu.

Sedangkan  seorang pembeli, Lia saat ditemui mengatakan, sudah beberapa kali membeli durian yang dijual di pinggir jalan lintas tersebut.

“Aku sudah dua kali lebih membeli durian di pinggir jalan Desa Panggung, duriannya bagus-bagus, selain bagus juga manis,” katanya.

Ia juga mengatakan, untuk harga durian tersebut lumayan murah dan terjangkau untuk kalangan manapun.

“Durian tersebut cukup murah, terjangkau untuk saya yang hanya bekerja sebagai karyawan swasta ini,” paparnya. # marwan ashari

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...