Ultimate magazine theme for WordPress.

613.123 Hektar Hutan Sumsel Hangus

# Status Siaga Darurat Asap Dicabut
066164800_1441709301-kebakaran_hutanPalembang, BP
Status siaga darurat bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah) di Sumatera Selatan telah berakhir per 30 November 2015. Tim Satgas Penanggulangan Karhutlah Sumsel telah menutup posko dan mengevaluasi seluruh kegiatannya selama empat bulan terakhir.

Dansatgas Karhutlah Sumsel Danrem 044/Gapo Kolonel (Inf) Tri Winarno mengungkapkan, luasan hutan dan lahan yang terbakar di Sumsel tahun ini yakni 613.123 hektar. Luasan ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu yang hanya 304.741 hektar.

“Terlihat memang kebakaran tahun ini lebih parah daripada tahun sebelumnya,” ujarnya didampingi Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Iriansyah usai evaluasi di posko, Senin (30/11).

Dirinya merinci, luasan yang terbakar tersebut terdiri dari 344.875 hektar lahan gambut seluas 344.875 hektar atau 56,28 persen dari total. Sementara lahan nongambut seluas 267.958 hektar atau 43,72 persennya.

Dari luasan hutlah yang nongambut, terdiri dari 220.303 hektar hutan produksi tetap, 198.272 hektar lahan perkebunan, 29.077 hektar hutan lindung, 39.874 hektar hutan produksi konversi, 3.233 hektar hutan produksi terbatas, 32.510 hektar lahan pertanian, dan 2.891 hektar pemukiman.

Selain itu, 65.159 hektar yang terbakar merupakan bagian dari suaka marga satwa, 26.038 hektar bagian taman nasional, perairan seluas 716 hektar, dan 3.058 hektar lahan perikanan.

“Dalam upaya pemadamannya selama empat bulan terakhir, tim waterbombing sudah melakukan 18.896 kali penerbangan dengan total menumpahkan 71 juta liter air. Satu sorti (penerbangan-red) pesawat mengangkut air sebanyak 500-4.000 liter air,” jelasnya.

Secara rinci, pesawat asing melakukan waterbombing sebanyak 253 kali, yang satu sortinya mengangkut 5-15 ton air. Khusus Beriev BE-200 melakukan 612 kali sorti dengan setiap sortinya mengangkut 12 ton air.

Dalam upaya melakukan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) dengan membuat awan hujan buatan, Tim Badan Pengkajian dan Penerangan Teknologi (BPPT) telah menabur garam NCHl sebanyak 102,3 ton.

Meski status siaga darurat telah dicabut, Tri menjelaskan pihaknya tetap menyiagakan enam tim darat di dua kabupaten yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin. Satu tim terdiri dari 10 orang anggota gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan lainnya.

“Pesawat-pesawat bantuan dari pemerintah pusat dan negara sahabat masih menunggu instruksi dari BNPB. Setelah ada instruksi, baru mereka pulang ke negara masing-masing dalam waktu dekat,” ujarnya.

Pesawat dan helikopter yang masih standby di Landasan Udara Palembang yakni heli MI 8, MI171, Sirkorsky dan Super Puma Ukraina, serta Kamov AS, juga heli Bell.

Berdasarkan hasil evaluasi, Tri mengungkapkan terjadinya karhutlah di Sumsel disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran. Juga masih banyaknya masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar, serta masih adanya pembalakan liar khususnya di Kabupaten Musi Banyuasin.

“Untuk evaluasi pemadaman, tim darat masih banyak kendala. Lokasi sulit dijangkau, karakteristik hutan dan lahan yang menyulitkan, dan cuaca buruk menyebabkan api sulit dipadamkan. Selain itu juga alat perlengkapan selang pimpa belum bisa menjangkau daerah kebakaran, meski akhirnya ada penambahan perlengkapan,” bebernya.

Untuk pemadaman lewat udara terbatasnya sumber air menjadi kendala utama dalam melakukan waterbombing. Sementara untuk operasi TMC, kurangnya awan penghujan cumolonimbus menyulitkan tim dalam melakukan menaburan garam.

“Belum adanya alat komunikasi antara pesawat dan posko pun belum ada. Itu menghambat koordinasi antara pilot dan tim di posko juga,” tambahnya.

Sementara untuk pencegahan, pihaknya telah berupaya melakukan pemetaan lahan hutan yang terbakar, melakukan pemantauan aktifitas sekitar lahan melalui jalur darat laut maupun udara, melakukan sosialisasi, peringatan dini, dan persiapan pelatihan tim satgas serta penegakan hukum yang semakin dipertajam.

High Level Meeting of Climate

Sementara itu, Gubernur Sumsel H Alex Noerdin melakukan upaya langsung terkait pencegahan karhutlah. Dirinya bersama Presiden RI Joko Widodo akan menghadiri High Level Meeting of Climate di Paris, Perancis 6 Desember mendatang.

Dirinya akan menyampaikan terkait penyebab dan upaya pemadaman Karhutlah yang telah dilakukan selama empat bulan terakhir. “Di samping upaya pemadaman, kami pun akan menjelaskan kepada dunia bahwa ini bukan kesengajaan. Usaha kita sudah habis-habisan, ini barangkali masuk kategori bencana alam,” tuturnya.

Dirinya pun mengucapkan rasa terima kasih kepada kru waterboombing dari beberapa negara, perhatian dunia yang luar biasa terkait karhutlah di Sumsel, belasan pesawat bersama pilot dari negara luar, ribuan pasukan TNI, Polri, dan instansi lainnya.

“Saat ini, 30 tenaga ahli dari tiga negara yakni Norwegia, Inggris, dan Belanda sedang melakukan studi untuk bagaimana nanti mengelola lahan gambut. Mau diapakan dan apa tindakan kita agar tahun depan tidak jadi seperti tahun ini,” ungkapnya.

Selain membahas mengenai karhutlah, pihaknya pun akan membahas mengenai rencana Sustainable Landskap Development yang dibahas pertama kali saat Bonn Challenge, Maret 2015 lalu.

“Kita berharap tahun depan titik api akan sangat minimal. Meski masih ada, tapi diupayakan asap sudah tidak akan mengganggu lagi,” tandasnya. #idz

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...