Ultimate magazine theme for WordPress.

Pebisnis Trenggiling Ilegal Mengubur Langsung

# Barang Bukti Trenggiling Dimusnahkan

IMG_20151127_151708Palembang, BP
Barang bukti satwa dilindungi berupa sebanyak 27 ekor Trenggiling beserta sisiknya seberat 62 kilogram hasil sitaan jajaran Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumsel dimusnahkan di Mako Satuan Polhut Reaksi Cepat (SPORC) Sumbagsel, Jumat (27/11), sekitar pukul 15.00.

Dalam pemusnahan yang disaksikan langsung oleh perwakilan dari Balai Koservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Kejati Sumsel dan Polda Sumsel juga dihadirkan langsung tersangka perdagangan jual beli satwa liar, Hasan Kosim (49). Bahkan, Hasan ikut mengubur langsung Trenggiling tersebut.

“Untuk sementara ini saya berhenti dulu bisnis ini,” ujar tersangka warga Jalan Kopral Umar Said, No 1705, Kelurahan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) I Palembang, ditemui usai pemusnahan barang bukti ini.

Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimum Polda Sumsel Kompol Tulus Sinaga, melalui Kanit I Kompol Tri Wahyudi mengatakan, pemusnahan barang bukti tersebut dilakukan pihaknya agar Trenggiling tersebut tidak membusuk.

“Saat ini kami tengah melengkapi berkas dan dalam waktu dekat segera dilimpahkan ke Kejaksaan. Jika sudah dinyatakan P21 oleh Kejaksaan, maka tersangka dan barang bukti akan dilimpahkan,” kata Tri.

Disinggung mengenai perkembangan sejauh ini, masih dikatakan Tri, pihaknya tetap melakukan pemantauan terhadap perdagangan satwa dilindungi ini. Bahkan, sesuai atensi dari Kapolda Sumsel dan Dir Reskrimsus Polda Sumsel, seluruh pelaku yang terbukti melakukan bisnis ilegal ini harus ditindak tegas.

Sementara itu, Komandan Brigade Siamang SPORC Sumbagsel Zaenal B Irwanda menjelaskan, tersangka yang berhasil diamankan Polda Sumsel tersebut merupakan pemain lama.

“Sebenarnya ini kami kecolongan, bahkan tersangka ini adalah pemain lama. Kami juga sebenarnya malu dengan Polda Sumsel, harusnya kami yang menemukan ini. Meskipun begitu, artinya kami sudah dibantu dan memang seharusnya begitu,” jelas Zaenal.

Menurut Zaenal, di Sumbagsel diduga masih banyak penjual satwa dilindungi lainnya. Terlebih, saat ini memang cukup sulit untuk menangkap para pelakunya, karena di jaman canggih seperti ini, mereka dapat menjalankan aksi kejahatannya dengan begitu mudah.

“Tak mudah menangkap, kalau dulu banyak yang dijual di Pasar 16 Ilir itu. Kalau sekarang pelaku ini tinggal berkomunikasi mereka bisa melakukan transaksi dan janjian untuk melakukan pertemuan,” pungkas Zaenal. #rio

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...