Home / Headline / Drainase Mampat, Jalan Kota Rusak

Drainase Mampat, Jalan Kota Rusak

Jalan Rusak akibat tergerus genangan air hujanPalembang, BP

Sehari banjir, ratusan titik jalan di Kota Palembang mengalami pengikisan. Air hujan yang menggenang membuat ruas jalan berlubang. Tidak tanggung-tanggung, dari pantauan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) III, hampir semua titik jalan nasional yang tergenang mengalami kerusakan.

Kepala Satuan Kerja Metropolitan BBPJN III Kementerian Pekerjaan Umum Ir Gunawan mengatakan, pasca hujan deras, sejumlah ruas jalan seperti di Jalan Soekarno Hatta, Kolonel Burlian, Jalan Sudirman, Jalan Ryacudu mengalami kerusakan. Mulai pengelupasan aspal, hingga berlubang kecil dan cukup besar.

“Titiknya sangat banyak, kami belum sempat mendata, tapi jalan yang berlubang  dari monitoring petugas kami mencapai ratusan. Titik paling banyak pantauan sementara di kawasan Burlian dan Soekarno Hatta,” kata Gunawan, Jumat (27/11).

Dikatakannya, antisipasi makin parahnya jalan di Kota Palembang akan dilakukan dalam waktu dekat. Saat ini sedang dalam proses pendataan titik jalan yang paling parah, untuk selanjutnya dilakukan penanganan sementara.

“Untuk meminimalisir dampak yang lebih besar lagi, kami akan melakukan penambalan sementara, sebab genangan air hujan selama 24 jam saja sudah bisa membuat lubang. Apalagi sering dihantam truk besar,” katanya.

Pemerintah Kota Palembang menganggarkan dana untuk mengatasi banjir mencapai Rp16 miliar tahun ini. Dana yang dianggarkan sudah terserap sekitar 80 persen atau sekitar Rp13 miliar dari Anggaran Belanja Tahunan (ABT).

Namun, hujan lebat Kamis (26/11) lalu membuat sejumlah titik kawasan Jalan Kapten A Rivai, Jalan Veteran, Jalan Kolonel Burlian, kawasan Sekip Jalan Mayor Salim Batubara dan  Jalan Ryacudu tergenang. Air hujan tidak mengalir maksimal sebab saluran air (drainase) mampat hingga tumpah ke ruas jalan.

Pantauan di lapangan pada kawasan depan kantor Gubernur dan kantor Bank Sumsel Babel, genangan air mencapai setinggi lutut orang dewasa, termasuk di kawasan traffic light Palembang Icon. Demikian pula di kawasan Jalan Veteran dan Sekip yang cukup tinggi, bahkan drainase banyak mengalami penyumbatan.

“Subuh tadi (kemarin-red) hujan cukup lebat lebih dari tiga jam. Banyak saluran yang mampat sehingga air tidak cepat mengalir dan malah tumpah ke jalan. Sore hari hujan lagi, sehingga air yang belum sempat mengering dengan gampang tumpah lagi ke jalan,” kata Rusli (32), warga Jalan Kapten Rivai.

Demikian pula yang dikatakan Mala (34), warga Sekip Bendung. Saat hujan, sampah dari drainase berhamburan keluar hingga ke jalan. Belum sempat kering, sudah hujan lagi sehingga air mengalir ke jalan. Kendati tidak sampai banjir dalam waktu lama, menurutnya hal itu cukup meresahkan.

Tidak hanya di sejumlah titik jalan di Seberang Ilir yang tergenang, namun juga di kawasan Jalan Rycudu, Seberang Ulu. Drainase di kawasan ini tampak tidak mengalir deras. Pasca hujan, saluran air penuh hingga ke Jalan. Termasuk di kawasan sekitar flyover  Jakabaring yang juga mengalami genangan dan butuh waktu lama untuk mengering.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Banjir dan Drainase Dinas PUBM dan PSDA Kota Palembang A Bastari Yusak melihat genangan air terutama di kawasan Jalan Kapten Arivai dan Jalan Veteran. “Titik kawasan cukup parah yakni di kawasan Kantor Gubernur,” katanya.

Bastari mengklaim beberapa titik disebabkan ulah para pemilik rumah toko yang meninggikan tutup saluran air sehingga air dari jalan tidak bisa masuk ke saluran yang sudah dinormalisasi.

“Seperti di kawasan Veteran, jalan tergenang bukan mengalami penyumbatan sampah, melainkan karena air tidak bisa masuk ke saluran air yang dicor pemilik ruko lebih tinggi dari median jalan. Sehingga air yang tumpah ke jalan tidak bisa mengalir melalui drainase,” kata Bastari.

Pengamat lingkungan sungai dan rawa, Bahari Sodikin, mengatakan, genangan air ini disebabkan beberapa titik drainase tidak berfungsi dengan baik. Selain banyak sampah, saluran drainase di Kota Palembang sudah makin sempit.

Harusnya sebelum musim penghujan datang, pembersihan drainase di jalan protokol lebih dimaksimalkan. Camat dan lurah tidak hanya bertugas menandatangani berkas, tapi turun ke lapangan untuk mengerahkan warga gotong royong.

“Saluran yang kecil dan sudah mendangkal seharusnya tidak ada lagi di jalan protokol. Kalau karena pemilik ruko mengecor tutup drainase, kenapa pemerintah tidak memberikan sanksi tegas. Harusnya sudah dicek sebelum musim penghujan datang. Kalau di kawasan di Jalan Kapten A Rivai itu sudah sering terjadi di awal 2015 saat musim hujan, hingga kini masalahnya tidak kunjung selesai,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengelolaan Sumber Daya Air (PUBM dan PSDA) Kota Palembang Darma Budhy mengatakan, sisa dana untuk antisipasi banjir saat ini mencapai Rp3 miliar, dana ini akan dimanfaatkan seefisien mungkin jelang musim penghujan.

“Pengeluaran di antaranya pembelian dua pompa yang ditempatkan di kawasan Yayasan IBA dan Poligon. Perbaikan drainase di Jalan Sudirman, Veteran dan beberapa titik lainnya,” kata Darma Budhy mengaku lupa titik-titik pengerjaan lainnya.

Budhy menjelaskan, upaya yang dilakukan tahun ini untuk mengatasi banjir tiap Kecamatan digalakkan untuk normalisasi dan pembersihan saluran air. Dipelopori PUBM & PSDA juga dilakukan pengerukan anak sungai, menggunakan alat berat dan peralatan lainnya.

“Dua pekan terakhir pihaknya fokus pengerukan menggunakan alat berat lebih intens dilakukan, sebelumnya memang rutin dilakukan namun saat ini bahkan hampir setiap hari,” tuturnya.

Normalisasi titik banjir, dikatakan Budhy, paling banyak di kawasan Mayor Ruslan, Sungai Bendung, Jalan Mayor Salim Batubara. Pemerintah menyiapkan beberapa pompa untuk membuat kawasan ini lebih mudah terserap genangan air, termasuk terus melakukan pengerukan sungai.

“Beberapa titik sudah diupayakan dikeruk, untuk saat ini yang sedang dalam proses pengerukan di kawasan Lebak Mulya hingga ke kawasan Hermina. Bertahap semua titik sungai dikeruk dan dibersihkan sehingga dapat mengantisipasi banjir sebelum datang musim penghujan,” ujar Budhy.

Terkait pendangkalan drainase, makin tingginya lumpur saat musim kemarau di anak sungai, hingga menumpuknya sampah di saluran air dan anak sungai, Budhy mengakui masih ada. Dengan keterbatasan dana yang dimiliki, pihaknya mengaku sudah memaksimalkan kinerja.

“Pasti masih ada dan bahkan tidak terjangkau kami, namun anak sungai ini semaksimal mungkin kami lakukan pembersihan, normalisasi dan pengerukan. Kami juga memiliki keterbatasan untuk mengatasi masalah banjir di seluruh titik yang ada, namun kami pastikan skala pengerjaan prioritas dimaksimalkan,” ujar dia.#ren/idz/osk