Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Guru Honor, Gajinya Horor

2511.01.Guru Honor.FerMeski hidup penuh kekurangan, kecintaan Bu Nur pada pendidikan anak-anak, membesarkan jiwanya untuk tetap tekun dan tawakal membagikan ilmu untuk kemajuan pengetahuan mereka.

TANGGAL 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Pada momen tersebut, nama guru dipuja dan dipuji sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru dimuliakan sebagai penerang dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan, dan sederet puja-puji lainnya. Semua sadar bahwa guru memiliki peran penting dalam memajukan pendidikan sebuah bangsa.

Ucapan klise itu sudah sangat sering didengar. Pada saat Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak dibom atom oleh tentara sekutu, Kaisar Jepang tidak menanyakan berapa jumlah tentara yang masih tersisa, melainkan berapa jumlah guru (sensei) yang masih tersisa karena Kaisar Jepang menyadari bahwa tentara-tentara yang hebat bisa dibentuk melalui pendidikan yang diberikan oleh guru. Dengan kata lain, Kaisar Jepang benar-benar menyadari pentingnya peran guru dan menempatkan guru pada posisi terhormat.

Di antara gegap gempita perayaan Hari Guru, ada pekerjaan rumah yang belum diselesaikan oleh pemerintah yaitu berkaitan dengan nasib guru honorer. Kesejahteraan guru honorer masih sangat jauh dari layak. Masih ada yang mendapatkan honor Rp100 sampai Rp200 ribu sebulan padahal mereka rata-rata berlatar belakang sarjana.

Nasib memprihatinkan itu dirasakan salah satu dari sekian banyak guru honorer, Nurmiati (48). BeritaPagi coba menelusuri kehidupan Nurmiati, yang sudah mengabdi selama 10 tahun bagi negeri ini. Dédédédédédééééétt suara ketek air memekakkan telinga. Gemercik air dari aliran sungai yang dilewati pun tertelan oleh suara ketek air. Bunyinya membuat pengang. Suara riuh rendah angin yang membuat pohon kelapa bergoyang pun tak dapat terdengar. Hanya cipratan air dan angin yang terasa menerpa wajah.

Sekilas terlihat sosok wanita berseragam dinas yang setiap hari menyeberang sungai Babatan, di Desa Pedamaran, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, demi murid-murid yang ia ajari untuk menatap masa depan lebih baik. Untuk menuju sekolah tersebut tidak ada jalan lain, selain harus menyeberang sungai sepanjang 150 meter. Dia adalah Nurmiati, guru dari SD Negeri Pedamaran, OKI, yang harus mengajar demi menyambung hidup dan membiayai dua orang putra-putrinya.

Perjalanan menuju sekolah pun butuh waktu 90 menit, waktu yang tak begitu sebentar. Meskipun 10 tahun mengabdi pada negeri, setidaknya dua putra dan putri yang menjadi tumpuannya kini telah mengenyam bangku perguruan tinggi dan satu putranya telah bekerja.

Adalah sampan yang dipasangi mesin sederhana yang oleh mereka disebut sebagai ketek sehingga bisa menjalankan sampan tanpa dayung. Untuk masyarakat Pedamaran OKI rasanya tak asing lagi melihat benda ini, apalagi yang hidup di sepanjang aliran sungai.

“Sudah 10 tahun mengajar sejak 2005 tapi belum diangkat PNS. Ya, gimana lagi di sini (Pedamaran–red) susah informasi. Belum lama masuk ujian kategori II tapi bukan untuk PNS hanya UKG,” kata ibu yang akrab dipanggil Bu Nur ini, Selasa (24/11).

Meski begitu, dirinya terus bertahan demi senyum anak didiknya dan berharap bisa menjadi orang yang cerdas dan berintegritas di era sekarang ini. Meskipun demikian di Hari Guru Nasional 2015, dirinya berharap ada apresiasi yang setara dengan pengorbanan seorang guru.

“Pertama dulu saya ingat sekali mengajar hanya di gaji Rp100 ribu per bulan, tapi itu dulu. Kalau tidak ada sedikit kebun gak bisa nyekolahi anak-anak,” ujar ibu dari Belly Casio dan Yessika ini.

Potret lebih miris berhasil ditelusuri BeritaPagi. Seorang guru yang lebih dari 20 tahun mengabdikan ilmu pada anak-anak didiknya. Namun demikian tak sedikit pun keluh kesahnya saat dibincangi BeritaPagi. Baginya, tujuannya mengajar adalah mengabdikan ilmu yang ia dapatkan untuk murid-muridnya. Jika ada rezeki yang ia dapatkan baginya adalah rezeki untuk anak dan istrinya.

Dia adalah Anas Komarudin, guru yang berasal dari Desa Tirta Mulya, Kecamatan Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin. Pria 42 tahun ini mengajar di Madrasah Aliyah (MA) Makarti Jaya. Pria yang memiliki tiga orang anak ini sudah mengajar sejak 1994. Dan masih segar diingatannya bahwa pertama ia mengajar digaji dengan Rp12.000 per bulan dengan enam jam pelajaran.

Disinggung apakah sering mendengar keluh kesah istri dan anak-anaknya terkait pengabdian sebagai guru yang lama tak mendapatkan kursi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dirinya selalu mengajarkan anak dan istrinya untuk bersyukur.

“Duapuluh satu tahun mengajar bagi saya untuk menyalurkan ilmu saya bagi murid-murid saya. Kalau istri sejak awal saya katakan bahwa saya mengajar untuk mengabdikan ilmu dan rezeki semua Allah SWT yang mengatur,” ujar pria yang sering dipanggil Ustadz Komarudin ini.

Melalui lembaran baru di Hari Guru Nasional sekaligus milad PGRI kali ini, dirinya berharap agar jangan ada diskriminasi perlakukan bagi guru baik itu PNS maupun guru honorer. Sebagai profesi yang mencetak generasi muda guru diharapkan untuk diapresiasi yang layak sebagaimana pengabdiannya.

“Harapannya jangan ada perbedaan perlakuan guru, karena walau bagaimana guru adalah yang mengenalkan bagaimana ilmu utamanya, ilmu budi pekerti dan kejujuran. Mudah-mudahan pemerintah bisa lebih peka melihat fenomena guru yang ada hingga ke pelosok-pelosok desa,” tuturnya lirih.

Ya, pendidikan adalah investasi terpenting suatu bangsa. Oleh karena itu, bagaimanapun nasib guru di beberapa tahun ke depan, harusnya keikhlasan dalam mengemban tugas tetap dikedepankan oleh para guru. Ini tentu saja bukan sesuatu yang gampang. Akan tetapi, mengingat betapa pentingnya peran guru dalam bidang pendidikan sebagai pengawal di garda terdepan kemajuan bangsa dan negara, maka adalah wajar jika para guru tetap menanamkan semangat pantang menyerah kepada berbagai rintangan yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas.#sugiarto

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...