Ultimate magazine theme for WordPress.

Revitalisasi Pasar Rugikan Pedagang

20150122penggusuranPASAR 10 Ulu Palembang merupakan salah satu pasar yang sudah direvitalisasi dalam program pemerintah. Ternyata kondisi pedagang ‘menjerit’ pasca revitalisasi pasar. Keluhan penurunan omzet penjual semakin tak terhindarkan bahkan mencapai 80 persen dari sebelum pasar direvitalisasi. Seperti yang dialami oleh Imron, penjual sembako di Pasar 10 Ulu Palembang. Diakuinya dirinya tak mampu berbuat apa-apa karena hal tersebut merupakan program pemerintah.

Menurutnya, pasar yang cenderung kumuh dan berbau memang benar adanya. Meskipun demikian justru ramai, lain halnya dengan sekarang yang sedikit bersih dengan fasilitas parkir memadai, ketersediaan toilet akan tetapi pengurangan pedagang dan penurunan omzet.

“Benar-benar turun, dari pasar lama kemarin Rp5 juta per hari sekarang jadi Rp1 juta per hari, itu pun sudah maksimal,” ujar Imron salah satu pedagang sembako di salah satu kios di pasar 10 Ulu Palembang. Selain itu, ada juga biaya retribusi, kebersihan, keamanan dan biaya bulanan.

“Kalau dibangun pasar yang baru kemarin memang tak ada biaya, tapi kecewa saja karena awalnya ukuran 3 x 4 meter, ini cuman 2 x2 meter. Kalau setoran mungkin retribusi, kebersihan dan biaya bulanan total sekitar Rp300 ribu perbulannya,” sesal Imron.

Penurunan omzet yang dialami Imron sebetulnya menginginkan akan pindah di pasar lain, akan tetapi hingga kini belum mendapatkan kios yang dicari. “Pengen sih pindah, tapi belum ada tempat, dan juga kondisi pasar sama saja,” terang dia.

Sementara itu, Kepala Pasar 10 Ulu Palembang Bambang Irawan mengatakan, kesan pasar yang identik dengan kumuh dan berbau memang benar adanya karena pasar tradisional. Akan tetapi, setidaknya revitalisasi sejak Juli 2015 lalu setidaknya menjadikan pasar lebih nyaman.

Hanya saja, dirinya mengakui memang menerima keluhan dari sejumlah pedagang karena daya beli masyarakat yang kurang. Padahal sebelum direvitalisasi pasar dalam kondisi ramai. “Kalau masalah pasar tradisional kumuh dan bau, memang kebanyakan seperti itu. Banyak orang yang lebih memilih mal  biasanya kalangan menengah ke atas. Tapi memang segmen pasar ‘kan memang menengah ke atas,” kata Bambang.

Permasalahannya sambung Bambang, penurunan pertukaran uang di Pasar 10 Ulu terjadi karena merosotnya ekonomi dan pengurangan jumlah pedagang yang terjadi di Pasar 10 Ulu. Pasalnya, tidak semua pedagang Pasar 10 Ulu lama mendapat ruang setelah direvitalisasi sehingga memilih membuka kios baru di tempat lain. Sehingga pelanggan pasar juga berkurang.

“Dari 300 petak dari pasar lama tak semua yang yang dapat kios baru. Dan hanya 86 kios. Sehingga mereka buka kios baru.  Dan ini salah satu alasan juga mengapa kurang ramai,” kata Bambang.

Menindaklanjuti hal tersebut dan juga dalam rangka meremajakan kondisi pasar lebih ramai dan nyaman, Kepala Pasal 10 Ulu Palembang tersebut mengajukan ke Pemerintah Kota Palembang agar ditambah ruang baru di lantai dua dan beberapa ruang lain sehingga pedagang pun bertambah banyak.

Sementara pedagang tradisional di Pasar 16 Ilir menolak revitalisasi yang akan dilakukan pihak ketiga, bila harus berakhir dengan relokasi pedagang. Pasar 16 Ilir Palembang ini sudah menjadi sangat populer di Sumatera Selatan. Pasar ini menjadi tempat belanja bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Bahkan banyak juga mereka yang berada di tingkat ekonomi ke atas lebih memilih berbelanja di Pasar 16 Palembang. “Ini karena memang harga barang terjangkau dengan nyaris atau bahkan sama dengan pasar modern,” ungkap pedagang Pasar 16 Ilir yang meminta namanya tak disebutkan, Kamis (19/11).

Menurut pria sebut saja Jhoni ini, dimanapun pasar tradisional di Indonesia, wajahnya nyaris sama dengan Pasar 16 Ilir. “Inilah pasar tradisional, dimanapun itu sama, kalau kualitas bangunan, WC ataupun parkir kita sama-sama tahu,” ujarnya.

Revitalisasi yang akan dilakukan akan merugikan pedagang di Pasar 16 Ilir, bahkan melakukan renovasi besar-besaran dengan menjadikan Pasar 16 Ilir yang sudah menjadi ikon Palembang ini juga ikut merugikan masyarakat dengan perekonomian menengah.

Pasar modern semakin mengerus hak pembeli untuk mendapatkan barang dengan harga terjangkau. Meskipun perlu dilakukan renovasi sebaiknya tidak sampai merusak habis dan memindahkan pedagang. Dijelaskannya, terakhir renovasi gedung pernah dilakukan ketika Pasar 16 Ilir Palembang sempat terbakar sekitar tahun 1993.

Pasca terbakar gedung kembali dilakukan penundaan. Setelah itu tidak ada lagi rehab besar-besaran yang dilakukan. Meskipun ada hanya buat bertahan saja, bukan rehab gedung total. “Kita berdagang di Pasar 16 ini sudah turun temurun, semenjak zaman Belanda gedung masih belum seperti ini, dimulai dari kakek, ayah terus sekarang saya yang berjualan di sini,” ujarnya.

Untuk gedung di dalam Pasar 16 Ilir ini, dia punya dua buah lapak berjualan. Tapi tidak digunakannya, karena kondisi sekarang kurang kondusif. Lapak berjualan itu dipilih disewakannya. “Kalau besaran sewa tergantung lantai, lantai bawah paling mahal,” jelasnya mengelak menjelaskan besaran sewa lapak.

Hal senada disampaikan pedagang pakaian Leni. Wanita yang terkesan takut memberikan keterangan ini juga menolak bila harus diungsikan dari Pasar 16 Ilir. “Berdagang di Pasar 16 Ilir sudah menjadi mata pencarian keluarga,” ujarnya. Meskipun gedung tak semewah mal-mal, tapi memang Pasar 16 Ilir ini bukan pasar modern, tapi pasar tradisional. Oleh sebab itulah, bila kualitas gedung tak semewah mal itu wajar. Sementara untuk parkir atau WC tinggal dikelola dan ditata lebih baik lagi.

Sedangkan di Pasar Cinde, pasar yang cukup terkenal di Kota Palembang, bahkan lebih terkenal dengan pasar kuliner khas Sumatera Selatan ini pun sudah terbilang sepi dari pengunjung dan berdampak pada pendapatan para pedagang.

Saat musim penghujan saat ini beberapa pedagang sudah mewaspadai akan terjadinya banjir, akibat luapan dari got atau saluran air yang meluap sehingga masuk dalam pasar.

“Kalo hujan 2 sampai 3 jam pasti pasar akan tergenang air bahkan sampai batas mata kaki orang dewasa. Kita juga harus siap-siap karena hujan itu kadang datang mendadak. Harusnya got itu dibersihkan dan kalo bisa diperdalam,” ujar Rudi, pedagang yang sudah 15 tahun berjualan di pasar tersebut.

Kondisi halaman pasar tepatnya di bagian depan dan bagian lorong depan, terlihat kondisi jalan yang rusak bahkan hanya beralaskan tanah yang berlubang ketika musim hujan jalanan itu menjadi tergenang air dan menjadi becek yang berdampak pada tingkat kenyamanan pedagang serta pengunjung pasar.

Hal senada dikatakan mbak Muk, untuk biaya kios sendiri dilakukan sebanyak tiga tahapan, biaya harian, bulanan, dan juga biaya tahun. Terpisah dari biaya kebersihan dan keamanan. “Kita hanya ikuti aturan saja seperti kios kami yang berukuran kurang lebih 2×3 meter, itu kami bayar Rp5.000/ hari untuk satu petak kios itu, lain lagi biaya bulanan dan tahunan,” ujarnya, Kamis (19/11).

Diakuinya, banjir memang menjadi salah satu masalah ketika memasuki musim hujan sehingga dirinya meletakkan dagangannya itu di atas sebuah kotak untuk mewaspadai air yang masuk ke dalam pasar terutama jika malam hari. “Kita takut dek makanya kita tarok dagangan kita di atas kotak biar tidak rusak kalo terkena air yang masuk ke dalam pasar apalagi kalo kejadian banjir itu malem hari kitakan sudah pulang ke rumah, jadi kita sudah mewaspadainya sebelum pulang agar dicek lagi,” katanya.

Pantauan BeritaPagi, terlihat di bagian samping sebelah kiri pasar terdapat sampah berserakan di luar bak serta menimbulkan aroma busuk sehingga menggangu kenyamanan ditambah ketika hujan dan air yang masuk pasar juga sudah terkontaminasi dengan sampah, sehingga akan terlihat jorok dan bisa menimbulkan penyakit.

Dari segi parkir kurang memadai khususnya untuk kendaraan roda empat. Sehingga masyarakat cukup mengalami kesulitan untuk berbelanja ke Pasar Cinde, dan terkadang ruas jalan pun digunakan sebagai tempat parkir baik di sisi samping maupun depan pasar terkadang menimbulkan kemacetan jika sudah menumpuk.

Ketua Asosiasi Pedagang Tradisional Palembang Yenni saat mengatakan, pasar tradisional masih digandrungi pembeli, sehingga bila Pasar 16 Ilir ini diubah menjadi pasar modern hal itu sebaiknya tidak dilakukan.

Pasalnya, Pasar 16 sudah menjadi jantungnya pusat berbelanja bagi masyarakat Sumsel. Meskipun harus ada renovasi sebaiknya dilakukan pada bagian-bagian yang rusak. “Keramik, pelafon atau bagian gedung yang rusak saja, tidak perlu sampai memindahkan pedagang pasar 16 ke tempat lain,” katanya.

Pedagang di Pasar 16 ini berjumlah lebih kurang 650 kepala keluarga, bila sampai mereka harus dipindahkan maka hal itu sama saja menghilangkan mata pencarian pedagang. Yenni menyarankan pedagang bisa berjualan di sekitar atau bahkan di Pasar 16 selama renovasi dilakukan. “Pedagang hanya meminta supaya mereka tidak dipindahkan saja,” ujarnya.

Asosiasi Pasar Tradisional juga mengharapkan para investor atau pihak ketiga ini bisa mengayomi para pedagang Pasar 16 yang ada. Namun sampai sejauh ini Pemerintah Kota Palembang ini belum menentukan pihak ketiga ini, terakhir pedagang mendengar tender akan berlangsung terbuka.

“Tentu kita akan dukung itu, supaya semuanya transparan, silahkan renovasi tapi pedagang tetap bisa berjualan disana, itulah yang mereka minta selama ini,” tegasnya.# sug/zal/ndi

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...