Ultimate magazine theme for WordPress.

Revitalisasi Pasar di Palembang Terkendala Dana

BP/MARDIANSYAH RELOKASI-Pasar Cinde salah satu bangunan pasar tertua di Kota Palembang yang rencananya akan dilakukan relokasi dan pembanguanan kembali oleh pemerintah setempat, Minggu (22/11).
BP/MARDIANSYAH
RELOKASI-Pasar Cinde salah satu bangunan pasar tertua di Kota Palembang yang rencananya akan dilakukan relokasi dan pembanguanan kembali oleh pemerintah setempat, Minggu (22/11).

Palembang, BP

Masyarakat sudah sangat familier dengan pasar tradisional. Tempat ini merupakan denyut nadi ekonomi rakyat berdetak di mana bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai dengan transaksi penjual pembeli secara langsung.

Namun sayangnya citra pasar tradisional kurang baik di masyarakat. Selalu saja ada ungkapan pasar tradisional sebagai tempat yang kumuh, semrawut, becek, kotor, macet, dan minimnya fasilitas seperti terbatasnya tempat parkir, tempat sampah yang bau dan kotor, lorong yang sempit dan sebagainya.

Revitalisasi merupakan salah satu komitmen pemerintah dalam meningkatkan pelayanan pasar di Kota Palembang. Akan tetapi, upaya ini belum bisa sepenuhnya dilakukan karena ketiadaan anggaran sehingga perbaikan pasar hanya sebatas renovasi bangunan fisik saja kurang diikuti memperbaiki manajemen pasar, perawatan, dan lain-lain.

Pengamat ekonomi dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Yan Sulistio, Jumat (20/11), mengatakan, pasar tradisional merupakan denyut nadi perekonomian kota. Pasalnya, jutaan bahkan triliunan rupiah beredar di sana. Tempat yang tak pernah sepi bahkan sebagian besar orang di Palembang memilihnya untuk berbelanja.

Oleh karena itu, kondisi pasar yang terkesan tak memberikan kenyamanan mesti direvitalisasi demi kenyamanan dan keamanan para pengunjungnya. “Pemerintah kota dalam hal ini Perusahaan Daerah (PD) Pasar, mesti melakukan revitalisasi, bisa menggandeng pihak swasta untuk mengembangkannya, agar nantinya pasar tradisional sama nyamannya dengan pasar modern (mal-red),” katanya.

Dikatakannya, pasar tradisional merupakan pusat perputaran uang, seperti salah satunya Pasar 16 Ilir juga pasar Cinde dan lainnya. Sebagai sarana bernegosiasi sehingga harga yang didapat lebih murah. Inilah yang menjadikan para ibu rumah tangga khususnya suka berbelanja di pasar.

“Pasar tradisional memiliki segmentasi tersendiri, sehingga pemerintah harus jeli terhadap ini, dari sisi kenyamanan seperti tidak bau, bersih dan rapi, juga keamanannya terjamin dari security yang berfungsi dengan baik terutama dari sisi kriminalitas seperti copet dan sebagainya,” katanya.

Ditambahkannya, karena punya pangsa pasar tersendiri dan dominan, pasar tradisional memiliki catatan transaksi paling tinggi dibandingkan dengan pusat perbelanjaan modern. “Contohnya saja, pada saat Ramadhan dan menjelang Lebaran, transaksi di Pasar 16 Ilir saja per harinya sampai Rp1 triliun dan Rp12 triliun dalam bulan itu, ini terlihat dari sisi transaksi yang dilakukan di pasar ini,” katanya.

Banyak pasar tradisional yang tidak layak di Kota Palembang, dibantah Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Palembang Jaya Apriadi S Busri. Apriadi mengklaim, pasar yang tidak layak di Kota Palembang tidak ada, namun banyak pasar yang perlu direvitalisasi karena banyak pasar yang sudah tua.

Bahkan menurutnya, seluruh pasar butuh revitalisasi. Dari 21 pasar milik Pemerintah Kota Palembang jika ingin direvitalisasi membutuhkan dana sekitar Rp700 miliar. “Ada 21 pasar rakyat milik pemerintah di Kota Palembang, untuk revitalisasi pasar-pasar tua ini, satu pasar membutuhkan dana Rp10 miliar hingga Rp20 miliar. Namun secara kelayakan bukan berarti pasar-pasar ini tidak layak,” katanya.

Terhadap perbaikan pasar yang selama ini dilakukan dengan dana yang dipungut dari retribusi pedagang, menurut Apriadi perbaikan yang dilakukan hanya sebatas renovasi seperti perbaikan flapon, atap bocor, dan perbaikan lainnya.  “Kami tidak memiliki dana yang cukup untuk revitalisasi, sehingga perbaikan yang selama ini hanya sebatas renovasi, agar pasar rakyat ini masih cukup layak untuk operasional,” katanya.

Untuk revitalisasi pasar yang sudah dilakukan menggunakan dana pusat yakni 2014  adalah Pasar 10 Ulu sedangkan 2015 Pasar Talang Kelapa. Kemudian, untuk tahun 2016 ada tiga pasar yang masuk dalam perencanaan revitalisasi yakni Pasar Soak Bato 26 Ilir, Tangga Buntung, dan Pasar Kebon Semai. “Sebenarnya yang sudah waktunya untuk direvitasiliasi masih banyak seperti Pasar Padang Selasa, Kamboja, Pasar 3-4 Ulu, dan beberapa pasar lainnya. Namun kami bersama Disperindag dan pihak terkait di pemerintah Kota Palembang berupaya untuk semua pasar yang sudah waktunya direvitalisasi dapat terealisasi,” katanya.

Apriadi juga menjelaskan, untuk menyerap dana pusat ini perlu kesiapan dan keterbatasan, sebab sejumlah daerah lain juga mengajukan perbaikan. “Tahun depan sudah ada bayangan untuk dana yang akan digelontorkan untuk pembangunan pasar di Palembang dananya mencapai Rp20 miliar, namun diharapkan bisa lebih dan ini yang akan terus kami upayakan,” tuturnya.

Terkait kendala yang dihadapi untuk memperbaiki sendiri pasar yang ada, Apriadi mengatakan, dana pembangunan ini sangat besar, pemerintah hanya mampu sebatas merenovasi, sementara untuk membangun ulang revitalisasi tidak memungkinkan untuk menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

“Kalau angkanya sudah di atas Rp10 miliar, ini sudah harus melibatkan APBN dan program Pak Presiden inilah yang saat ini sedang diupayakan semaksimal mungkin dan kalau bisa lebih dari Rp20 miliar,” katanya.

Selain itu, untuk pengembangan pasar baru perlu sekitar sembilan pasar lagi, dengan dana mencapai 350-400 miliar. Pengembangan pasar baru yakni di kawasan Gandus, Jakabaring, Kertapati, Talang Jambi, Sako Dalam, Poligon, Sukawinatan, Talang Kelapa Dalam, dan Kalidoni.

Asisten II Walikota Palembang Hardayani mengatakan, pasar tradisional di Kota Palembang tahun 2016 dibantu Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp19,3 miliar. Alokasi dana ini sebesar Rp8 miliar berasal dari dana aspirasi, Rp3,8 miliar Dana Alokasi Khusus (DAK), dan dana Tugas Pembantuan (TP) dari pemerintah pusat.

Bantuan ini dikatakan merupakan bantuan dari APBN untuk sejumlah pasar tradisional di Indonesia. Jumlah tersebut bisa berubah sesuai dengan peruntukan dan kesiapan masing-masing daerah penerima bantuan.  “Untuk pasar yang akan direvitalisasi belum diputuskan pasar mana yang lebih dulu dibangun. Namun beberapa pasar yang prioritas akan dibangun permanen seperti Pasar Soak Bato 26 Ilir, Pasar Kebon Semai dan Padang Selasa, namun persisnya mana tergantung keputusan berikutnya,” kata Hardayani di Setda Kota Palembang, Senin (16/11).

Dia menjelaskan, tahun ini Palembang hanya dibantu untuk pembangunan Pasar Talang Kelapa sebesar Rp6 miliar, sedangkan tahun sebelumnya Pasar 10 Ulu. “Banyak pasar-pasar tua yang sudah layak dibangun, namun kesiapan DED (detail engineering designred), lahan yang cukup masih menjadi pertimbangan,” katanya.

Selain itu, penerimaan bantuan ini bukan hanya Kota Palembang, banyak daerah lain juga butuh bantuan ini. Hanya saja bantuan diberikan atas kesiapan daerah. Jika memang daerah lain belum siap, kemungkinan peluang mendapat tambahan dana masih terbuka lebar.

“Harapan kami dana ini tidak dikurangi, malah bisa ditambah. Sebab, kondisi pasar tradisional yang masih belum memadai masih banyak yang perlu dibangun ulang dan renovasi,” katanya.

Terkait pasar baru, Hardayani menyebutkan, kebutuhan pasar baru juga masih banyak seiring dengan pertumbuhan kawasan baru dan perumahan baru. Hanya saja untuk ketersediaan lahan saat ini masih menjadi pertimbangan pembangunan baru pasar tradisional.

“Dari rapat yang pernah dibahas, ada beberapa kawasan yang dibutuhkan pasar baru seperti di Gandus dan Sako. Namun untuk lahan masih belum ada yang memadai dan ini yang masih menjadi PR saat ini,” katanya. Hardayani juga menambahkan untuk pasar tradisional di Kota Palembang perlu adanya pembangunan baru dan perluasan, sebab pasar tumbuh juga sudah kurang terkontrol.

“Sebenarnya pengawasan ada pihak yang berwenang, termasuk PD Pasar yang menaungi pasar di Kota Palembang, hanya saja pasar tumbuh ini perlu tempat penampungan yang memadai agar tidak menimbulkan masalah seperti kemacetan di sekitar bangunan pasar,” jelas dia. # pit/ren

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...