Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Minimarket Pun Jadi Tongkrongan

Minimarket 1        Anak muda sering mengisi waktu luang dengan ‘nongkrong’ di tempat-tempat nyaman. Kini, di Palembang, banyak tempat menawarkan ‘public space’ untuk nongkrong, mulai dari yang murah, menengah, sampai kelas atas.

 PERSAINGAN bisnis ritel di Tanah Air makin ketat, termasuk di wilayah Sumsel. Hal ini ditandai dengan terus berekspansinya ritel modern. Bagaimana strategi yang diadopsi manajemen Alfamart untuk memenangkan persaingan ritel modern di Sumsel?

Alfamart terus melakukan upaya untuk program sesuai dengan keinginan pasar dan senantiasa inovatif. Membuat konsumen loyal dengan pelayanan dan suasana belanja nyaman pun dilakukan.

Branch Manager Alfamart Palembang Lilik Soehada, melalui Branch Corporate Communication Rendra Yudha, mengatakan, sebagai toko komunitas, Alfamart tidak ingin hanya menjadi toko groceries saja, melainkan dengan memberikan nilai lebih kepada konsumen.

“Di tengah persaingan yang ketat seperti sekarang, persaingan tak hanya sekadar melalui perang harga, tetapi juga pelayanan. Dengan pelayanan yang maksimal dan tulus ke konsumen, ini bisa menjadi cara ampuh tersendiri untuk memenangkan persaingan,” katanya, Kamis (19/11).

Pola belanja konsumen sekarang ini lebih mempertimbangkan faktor kenyamanan, bahkan cenderung ke lifestyle. Adanya beberapa sitting area di toko Alfamart pun bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Hingga saat ini, terutama di jalan protokol dan titik keramanian, Alfamart menyediakan berbagai makanan dan minuman siap saji dalam konsep ready to eat dan ready to drink. Tak hanya itu, di depan toko pun disediakan sitting area bagi konsumen.

“Konsumen selepas berbelanja bisa duduk sejenak melepas lelah, mungkin sepulang dari kerja atau sekolah. Konsep kenyamanan inilah yang kami berikan ke konsumen, agar mereka puas berbelanja ke toko,” kata dia.

Kehadiran sitting area ini pun dilengkapi dengan akses wifi gratis yang dapat dimanfaatkan oleh konsumen. “Kami ingin menjadi minimarket yang dapat diandalkan konsumen,” ungkapnya.

Alfamart berupaya menjadi a true community store yang menjadi dasar filosofi dalam memberikan layanan yang cepat, berkualitas, dan aksesibilitas yang mudah bagi pelanggan di sekitar toko.

Adji Sultan Malik, salah satu mahasiswa yang sering nongkrong di sitting place minimarket Alfamart ini, mengatakan, alasan dirinya memanfaatkan area duduk di minimarket ini karena dilengkapi wifi dan tempat duduk yang nyaman.

“Dengan adanya akses wifi bisa memudahkan kami kaum mahasiswa ini dalam mengerjakan tugas kuliah. Selain itu juga tempatnya lebih asyik untuk ngobrol bareng teman kuliah,” kata Adji.

Hal senada dikemukakan pengunjung Kopitiam Bangi Tiam, Reza Asterixs, semakin banyak tempat makan dan tongkrongan semakin baik, selama tempat-tempat tersebut memang menjadi tempat untuk berkumpul keluarga, kumpul dengan teman-teman untuk menjalin silaturahmi dan hal-hal positif lainnya, tapi akan berdampak sangat buruk bila dijadikan tempat untuk hal-hal yang negatif, misalnya jadi tempat kumpul-kumpul untuk berjudi, transaksi atau menggunakan narkoba, dan prostitusi.

“Seperti yang kita tahu tempat-tempat  tersebut mulai tampak keramaian di malam hari, dan didominasi oleh anak-muda dengan berbagai kepentingan, selama untuk kepentingan yang positif, itu baik sekali, tapi kalau untuk kepentingan negatif tampaknya perlu dilakukan pengawasan lebih lanjut,” katanya.

Hal senada dikemukakan pengunjung cafe lainnya, Yeni Roslaini, dia menilai sah-sah  saja banyak tempat makan dan nongkrong pemuda di Palembang asal tidak mengandung hal-hal  negatif atau bebas alkohol dan narkoba.

“Ada batas waktu buka tutupnya seperti cafe atau restoran pada umumnya  dan tentu saja restoran, rumah makan ataupun tempat hiburan lainnya akan menambah PAD kalau jelas aturannya dan pencatatannya,” katanya.

Selain itu pemerintah juga harus tegas menindak tempat-tempat  dimaksud yang melanggar aturan yang ada, misalnya menyangkut jam tutup, jenis barang yang dijual, ketaatan bayar pajak, dan sebagainya.

Pimpinan Kopitiam Bangi Tiam di Jalan  KH Ahmad Dahlan, Bukit Kecil, Palembang Abdurahman Alias Imam menilai Kota Palembang adalah kota internasional yang kini telah banyak mal, hotel, dan kafe.

Dinilainya wajar kalau pergaulan anak mudanya sudah ada gaya kota internasional sehingga wajar banyak anak muda Palembang menghabiskan waktu di kafe atau tempat nongkrong. Salah satunya Kopitiam Bangi Tiam yang banyak dikunjungi anak-anak muda kota Palembang yang sekadar menghabiskan waktu untuk makan, minum, dan ngobrol serta menggunakan laptop dan telepon seluler.

“Kalau kita di sini pengunjung ramai saat weekend Sabtu sore pukul 17.00 sampai 20.00, untuk malam Minggu itu kebanyakan menengah ke atas namun kalangan anak muda juga banyak. Pukul 23.00 kami tutup,” katanya ditemui di ruang kerjanya, Jumat (20/11).

“Untuk  Palembang, anak mudanya sering kumpul-kumpulnya disini pas kerja atau olahraga atau malam mingguan,” katanya. Apalagi Kopitiam Bangi Tiam mengharamkan miras dan narkotika bagi pengunjung karena Kopitiam Bangi Tiam memiliki kamera cctv di sekeliling bangunannya.

Sedangkan owner Numa Cafe yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Hendri Zainuddin, menilai kalau kafe sedang nge-tren di kalangan anak muda Kota Palembang. “Dulu orang melihat kafe itu sesuatu yang jelek, sekarang tidak, walaupun warung kecil disebut kafe, tapi itu kebutuhan. Dan anak muda itu hobinya nongkrong di mana aktivitas anak muda padat dilepaskan di malam hari dan salurannya yang terbaik di kafé. Di sana dia bisa bertemu temannya, bermain internet dan diskus,” katanya.

Apalagi di kafe tidak pernah dijual miras dan mengharamkan pengunjung melakukan hal yang dilarang oleh aturan. “Palembang sudah menjadi kota metropolitan dan harus begitu dan aku menilai positif kalangan pemuda nongkrong di kafe, karena itu penyaluran tren anak muda,” katanya. #dil/osk

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...