Ultimate magazine theme for WordPress.

PDAM Kesulitan Air Baku Berkualitas

            Meski sudah mandiri dan masuk kategori perusaahaan air minum sehat, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Musi mengalami kesulitan mencari air baku berkualitas sebagai sumber air bersih di Kota Palembang.

Palembang, BP

BP/ARRACHIM SAMPAH MENUMPUK DI BENDUNGAN SUNGAI-Sampah rumah tangga yang menumpuk dibendungan anak sungai Jembatan Sidoing lautan 28/29 ilir yang dapat menyebabkan banjir, Rabu (18/11) Kesadaran Masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan masih sangat minim
BP/ARRACHIM

Disampaikan Direktur Teknik PDAM Tirta Musi Stephanus, masalah yang cukup pelik yang dihadapi PDAM Tirta Musi saat ini adalah, sulitnya air baku yang berkualitas yang didapatkan, untuk pengelolaan air bersih.

”Meski saat ini masuk kategori sehat, permasalahan yang dihadapi sejak berdiri tahun 1976, sumber air berkualitas sulit didapat. Walaupun PDAM sudah masuk kategori sehat sejak 2007,” kata Stefanus saat Sosialisasi Sinkronisasi Pengembangan Pengelolaan Air Baku Berkelanjutan, di Hotel Arista, Kamis (19/11).

Dikatakannya, kondisi ini menggambarkan selama 27 tahun PDAM baru bisa menghidupi sendiri dengan berbagai masalah. “Terjadi kenaikan ekstrim tingkat kekeruhan sungai Musi Januari-April,” katanya.

Padahal sebelumnya tidak pernah mencapai 200 ntu. Bahkan, selama tiga tahun terakhir, dari data PDAM Tirta Musi, kualitas air baku 2013 di bulan Februari naik 5 kali lipat rata-rata 90-670 ntu.

Pada 2014 Maret lebih meningkat hampir 1.300 ntu. Hal ini jelas berdampak besar dari air  yang akan dikelola jadi keruh karena tidak mampu untuk dijernihkan.
“Saat ini kita masih mengandalkan Sungai Musi, karena beberapa sungai seperti Sungai Borang, sudah tercemar dan tidak dapat dipakai lagi. Padahal konsumsi air baku sangat dibutuhkan mengingat konsumsi di Palembang cukup tinggi,” ujarnya.

Selain itu, PDAM juga saat ini masih mengandalkan satu Intake di Karang Anyar Gandus. Dimana 95 persen ambil dari Intake Karang Anyar. Dimana, kapasitas yang dimiliki PDAM dalam memproduksi air bersih, tidak dapat memenuhi pelayanan seluruh masyarakat Palembang.

“Kapasitas yang terpakai saat ini 3870 liter/detik terpakai, sedangkan kapasitas yang dimiliki 3770 liter/detik. Jadi, sulit mengembangkan layanan. Apalagi 1.200 liter/detik terjadi kebocoran dalam pendistribusian air bersih,” imbuhnya.

Step menerangkan, berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palembang, baru 256 ribu pelanggan yang mampu dilayani PDAM, sedangkan sekitar 375 ribu bangunan belum terlayani.

Apalagi anggaran yang tersedia di Departemen Pekerjaan Umum Cipta Karya (PU CK) sebesar Rp254 triliun sampai 2019 pertahun, paling tinggi bersisa Rp50 triliun untuk seluruh Indonesia. Untuk Palembang mungkin kebagian 5 persennya.

“Dengan anggaran yang tersedia saat ini, dirasa sangat sulit untuk mengembangkan diri,” tuturnya. Untuk mengatasi hal itu, jelasnya, Sumsel menyediakaan sumber air baku lain atau menjaga sumber air baku yang dimiliki.

“Saat ini Pemko Palembang sedang menyediakan sumber air baku lain di kawasan Tanjung Barangan dengan luas lahan 100 hektare. Dan saat ini sedang disusun Detalied Enginering Desain,” bebernya.

Saat ini juga, sambung Stephanus, Palembang terpilih salah-satu kota dari 17 kota sebagai binaan untuk mewujudkan 100 persen pelayanan air minum Dirjen Cipta Karya. “Melalui program sinkronisasi pengembangan pengelolaan air baku berkelanjutan ini, dapat memenuhi 100 persen kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kota Palembang,” tandasnya. #ren

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...