Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Butuh Investasi Minyak dan Gas

Pakar Minyak dan Gas, Dr Ir Drs Herianto Msc,Palembang, BP

Produksi minyak dan gas (migas) masih sangat bergantung pada investasi mengingat kebutuhan yang cukup tinggi. Produksi minyak Indonesia berada di kisaran 900 ribu barel per hari. Jumlah tersebut dinilai masih rendah mengingat kebutuhan bahan bakar nasional mencapai 1,5 juta barel per hari.

Pakar Minyak dan Gas Dr Ir Drs Herianto M.Sc mengatakan, kegiatan migas masih membutuhkan investasi dalam jumlah besar. “Dana besar untuk eksplorasi satu wilayah yang dianggap berpotensi mengandung migas tidak mungkin disediakan dari domestik. Sehingga Indonesia masih membutuhkan investasi asing karena nominal angkanya sangat besar,” katanya saat kegiatan pelatihan media yang diselenggarakan oleh ConocoPhillips, di Hotel Aston, Senin (16/11).

Baca:  Blok Rokan Kembali ke Pangkuan Bumi Pertiwi, Setelah 50 Tahun Dikuasai Chevron

Dikatakannya, investasi juga dibutuhkan untuk dapat mencari cadangan migas yang baru. Sebab, Pemerintah RI tidak ingin mengambil risiko akan potensi kehilangan anggaran yang besar ketika ternyata terjadi kegagalan dalam kegiatan eksplorasi.

“Saat ini biaya yang dibutuhkan hanya untuk satu kali eksplorasi bisa mencapai 10 juta dolar. Alasannya, eksplorasi itu lebih detail, harus melalui beragam studi berjenjang, dan skala prioritas yang harus dikerjakan mengingat risiko bisnis yang besar,” katanya.

Menurutnya, dalam aturanya semua investasi tersebut ditanggung sepenuhnya oleh investor karena cost recovery hanya akan dibayarkan pemerintah apabila lapangan Migas sudah berproduksi. “Tingginya risiko saat eksplorasi membuat banyak investor tidak berani, karena apabila tidak berhasil, mereka bisa kehilangan seluruh investasi. Di sinilah kita melihat kita masih sangat membutuhkan investasi asing,” katanya.

Baca:  SKK Migas dan Pemkot Solo Sepakati Pengembangan Pendidikan dan Riset  

Hal senada dikatakan Kepala Urusan Media SKK Migas Ryan B Wujantoro. Ia mengatakan, dalam melakukan eksplorasi, perusahaan membutuhkan biaya besar dan menghabiskan waktu panjang. Pemerintah tidak ingin mengambil risiko kehilangan dana investasi begitu saja, maka dari itu hanya perusahaan minyak asing yang berani melakukan hal tersebut. “Mekanisme eksplorasi dan eksploitasi bukan hal yang sederhana,” ujarnya.

Berdasarkan data SKK Migas, sektor ini menyumbang penerimaan negara sebesar 11,33 miliar dolar AS. Pendapatan sepanjang Desember 2014 hingga September 2015 itu sudah tercapai 75,6 persen dari target 14,99 miliar dolar AS.

Produksi sektor migas memiliki risiko yang besar. Sebab, untuk proses produksi di sektor hulu biaya dibutuhkan amat besar. Alhasil, pengeluaran negara juga akan besar. Hal ini, sering menjadi pembahasan hangat di kursi parlemen. Untuk itulah, opsi kerja sama dengan kontraktor mampu mengalihkan risiko yang ada. “Dalam suatu proses pengeboran. Belum tentu, lokasi itu memiliki minyak persentase keberhasilannya 50 persen,” katanya.

Baca:  Blok Rokan Kembali ke Pangkuan Bumi Pertiwi, Setelah 50 Tahun Dikuasai Chevron

Oleh karena itu, masuknya investor Migas justru membantu proses produksi lebih maksimal dan membantu negara Indonesia. Potensi migas yang ada bisa lebih maksimal lagi.#pit

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...