Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-24

Juara Tinju Nasional Jadi Buruh Panggul

 IMG_7639TINJU adalah jalan hidupnya. Menjadi Juara Nasional Turnamen Tinju Kelas Menengah Tahun 1994 mengantarkan dirinya menjadi pentinju kedua terbaik se-Asia Tenggara. Mimpi untuk melayangkan kepalan tinju diatas kanvas ring kelas dunia kandas ketika Walikota Palembang tidak memberikan bantuan dana 21 tahun silam.

Muhammad Damin (48), berjalan tegap memasuki bangunan Kantor Dinas Sosial Provinsi Sumsel, Selasa (10/11). Tingginya menjulang, kulitnya sawo matang, dan badan kokoh membuat setiap orang di bangunan pemerintah tersebut bertanya dalam hati siapa gerangan Damin.

Sehari sebelum dirinya berkeluh kesah di hadapan media massa terkait kondisinya yang saat ini berbanding terbalik daripada masa kejayaannya, pria kelahiran Jambi, 15 Oktober 1967 ini mengaku dulu sering diwawancara oleh awak jurnalis.

“Dulu, saya diwawancara soal kiprah tinju dan kemenangan saya. Sekarang, saya jadi sorotan karena kejayaan tersebut seakan tidak membekas dalam diri,” tuturnya.

Damin menggeluti dunia tinju sejak umur 14 tahun. Hanya mengecap pendidikan hingga kelas 5 SD, membuat Damin meneguhkan hatinya untuk menjadi petinju profesional.

Hingga pensiun pada tahun 1997, Damin telah membukukan 50 kali tanding di level amatir dan 35 tanding level pro sejak memulai karier pada 1981. “Terakhir bertanding itu di Jambi pada tahun 1996 untuk mempertahankan gelar. Kalah angka. Tahun 1997 mulai sepi pertandingan, laju berhenti,” ujar ayah lima orang anak ini.

Setelah angkat kaki dari dunia tinju, tak berbekalkan satu pun ijazah, dirinya mulai bekerja serabutan. Mulai dari menjadi buruh bangunan, berjualan bubur, hingga berkali-kali menganggur telah dilakoninya.

Damin mengaku pernah dibantu oleh Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, sehingga dirinya dan istrinya, Suhana, bisa membuka kantin di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel pada 1994-2002.

“Waktu itu Pak Alex masih menjabat Kepala Disbudpar. Saya sering dibantu Pak Alex semenjak berprestasi di tinju. Hingga pada akhirnya saat ada turnamen tinju di Sekayu, tidak pernah bertemu lagi,” kenang Damin.

Dirinya sempat melatih empat anak muda di Kecamatan Gandus untuk ikut berlaga di Porprov 2005. Empat anak yang dilatih dari nol ini, dengan asuhan tangan dingin dan tebalnya pengalaman Damin, mereka dapat meraih dua perak dan satu perunggu hanya dengan dua bulan berlatih.

Kini, dirinya menjadi buruh panggul di salah satu pabrik semen di Palembang dengan upah Rp50-60 ribu per hari. “Sangat jauh berbeda dibandingkan masih aktif bertinju. Dulu saya digaji Rp750.000 hingga Rp2,5 juta. Nilai segitu dulu sangat besar sebanding dengan belasan juta saat ini,” imbuh Damin.

Setelah mendapatkan sorotan media, Damin mulai dibantu oleh pemerintah. Dinas Sosial Sumsel-lah yang pertama kali membantunya. Damin diberi bantuan bahan makanan dan perlengkapan sekolah untuk anak-anaknya.

“Saya tidak percaya, tapi nyata dapat bantuan ini. Dengan munculnya lagi perhatian dari pemerintah, saya harap bisa memberikan pengalaman saya untuk memajukan olahraga tinju Sumsel dengan menjadi pelatih dan membentuk kader-kader baru petinju generasi sekarang,” harapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Sumsel Belman Karmuda mengatakan, bantuan yang pihaknya berikan baru bantuan sementara sebagai bentuk tali kasih dan perhatian pihaknya kepada masyarakat yang berprestasi.

Dalam momen Hari Pahlawan pun, Belman mengkategorikan Damin sebagai pahlawan yang pernah mengharumkan nama Sumsel di ajang tinju nasional. Pihaknya pun akan memberikan bedah rumah kepada Damin, apabila memang rumahnya memenuhi syarat dan layak untuk dibedah.

“Selanjutnya, kami pun akan menindaklanjuti harapan Damin ke Dinas Pemuda dan Olahraga serta Persatuan Tinju Nasional (Pertina) agar dapat mengakomodir keinginan Damin menjadi pelatih tinju. Dengan pengalamannya, saya yakin olahraga tinju Sumsel dapat meningkatkan prestasinya,” tandasnya. #hafidztjanuar

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...