Ultimate magazine theme for WordPress.
BI-26-27

Hilirisasi Solusi Perbaikan Ekonomi

Palembang, BP

Hilirisasi menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki perekonomian Sumatera Selatan (Sumsel) juga Indonesia di tahun mendatang. Pertumbuhan perekonomian Sumsel cukup kurang menggembirakan, yakni di angka 4,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2014. Jika meningkatkan produk komoditi Sumsel tersebut, pertumbuhan ekonomi akan jauh di atas itu.

Pengamat ekonomi Sumsel dari Universitas Tridinanti Palembang Prof Dr Sulbahri Madjir mengatakan, dengan sumber daya alam yang dimiliki Sumsel, pertumbuhan ekonomi sebesar 4,89 persen itu cukup ideal. Itu dikarenakan terlalu bergantungnya ekonomi Sumsel pada global.

Seperti diketahui, mayoritas pendapatan masyarakat Sumsel mengandalkan hasil komoditi namun saat ini harganya sedang buruk karena tidak ada permintaan dari negara pengimpor. “Sebenarnya ini sebab tidak adanya hilirisasi dalam negeri yang mengelola hasil bumi. Sehingga semuanya diekspor dalam bentuk bahan mentah walaupun harga murah,” katanya.

Jika ada hilirisasi, ekonomi Sumsel bisa ditentukan sendiri bahkan bisa mencapai 6 persen. Itu dikarenakan daya jual hasil ekspor akan lebih mahal jika dibuat barang jadi yang lebih berkualitas. Setidaknya bisa dipasarkan di dalam negeri sendiri. Apalagi total penduduk Indonesia yang berkisar 250 juta tentunya jadi market besar dan potensial.

Kemudian, permintaan luar negeri akan semakin tinggi karena tidak ada suplai barang. Oleh karena itu, pihaknya menilai pemerintah harus segera membangun pabrik hilirisasi untuk membangun pondasi ekonomi yang kuat. Menurutnya, banyak keuntungan yang bisa dirasakan jika dibangun pabrik hilirisasi sendiri seperti, harga tidak ditentukan pasar global, menyerap tenaga kerja besar, dan pendapatan pajak.

Menurut dia, jika akhir tahun 2015 ini Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) resmi diberlakukan, pihaknya optimis serbuan perusahaan dan tenaga kerja asing akan masuk ke Indonesia. Itu dikarenakan Indonesia pasar empuk dengan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SD) yang berlimpah. “Indonesia bisa jadi penonton di negeri sendiri,” katanya.

Untuk menghindari itu, Sumsel khususnya perlu penggarisan dan memberikan standar untuk perusahaan dan tenaga asing yang akan masuk. “Siap atau tidaknya Sumsel menghadapi MEA kita sendiri yang tahu.#pit

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...