Home / Headline / “Bukit Seguntang Milik Semua Orang. Tinggal Bagaimana Konsepnya”

“Bukit Seguntang Milik Semua Orang. Tinggal Bagaimana Konsepnya”

BP/IST
Forum Pariwisata dan Budaya (Forwida) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar peninjauan, diskusi dan rapat dengan tema penelusuran jejak sejarah situs di Bukit Seguntang untuk mendukung rencana pembuatan master plan dalam rangka mengembalikan Bukit Seguntang sebagai situs Sriwijaya dan Ulu Melayu yang sakral dari tinjauan budaya dan pariwisata, Minggu (28/6) di Sekretariat Forwida Sumsel di Bukit Seguntang, Palembang.

Palembang, BP

Sebagai tindaklanjut virtual meeting yang telah dilaksanakan tanggal 19 Juni 2020 , Forum Pariwisata dan Budaya (Forwida) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar peninjauan, diskusi dan rapat dengan tema penelusuran jejak sejarah situs di Bukit Seguntang untuk mendukung rencana pembuatan master plan dalam rangka mengembalikan Bukit Seguntang sebagai situs Sriwijaya dan Ulu Melayu yang sakral dari tinjauan budaya dan pariwisata, Minggu (28/6) di Sekretariat Forwida Sumsel di Bukit Seguntang, Palembang.

Turut hadir diantaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja SH Mkn, Umum Forwida Sumsel, Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, MT, Sondang Martini Siregar (arkeolog), Retno Purwanti (arkeolog), DR Hudaidah (akademisi dari Universitas Sriwijaya), Budi Wiyana (Kepala Balai Arkeolog Sumsel), dan Cahyo Sulistianingsih (Kabid Kebudayaan Disbudpar Sumsel), Dosen FKIP Unsri DR LR Retno Susanti, Mantan Kadisbudpar Sumsel Toni Panggarbesi, Kemas Ari Panji (akademisi UIN Raden Fatah Palembang), Kasi Bukit Seguntang, Khairul, Sekretaris Umum Ikatan Ahli Perencana (IAP) Sumatera Selatan, M. Avaniddin, S.T., M.Si,  pengurus Forwida Sumsel,  Rodi Hernawan dan Akhhmad Junaedy, Suryati Atiks, Sosiolog, Saudi Berlian.

Kepala Disbudpar Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi mengatakan, pemerintah mengharapkan masukan dari semua pihak terkait apa yang harus dilakukan, untuk menjadikan Taman Bukit Seguntang jadi kawasan wisata yang menarik bagi wisatawan dan melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya yang ada di dalamnya.

“Tempat ini harus jadi kawasan wisata yang menarik untuk dikunjungi wisatawan, baik untuk mereka yang sekadar mencari relaksasi, ziarah, atau yang ingin mengetahui sejarah kawasan ini,” katanya.

Forwida dinilainya organisasi yang tepat untuk membahas masterplan pengembangan Bukit Seguntang. Semua pemangku kepentingan ada di organisasi ini. Mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas peduli sejarah, tokoh masyarakat, media, dan banyak lagi.

“Pentaheliks sudah ada di Forwida Sumsel. Maka dari itu, saya rasa wajar, organisasi ini jadi tempat saya mengadu. Tolong bantu saya menyelesaikan pekerjaan rumah yang sampai saat ini belum juga selesai, yakni membenahi Taman Bukit Seguntang,” katanya.

Dikatakan, dirinya mendapat banyak protes, baik dari sejarawan, budayawan, dan wisatawan tentang kerusakan di makam Taman Bukit Seguntang.

“Saya tidak punya kemampuan untuk menjawabnya. Saya bukan arkeolog, sejarawan. Jadi saya minta masukan dari teman-teman semua, yang sifatnya konstruktif dan kongkrit. Kita tidak perlu berdebat tentang masa lalu. Itu hanya bagian dari referensi. Sekarang apa yang harus kita perbuat,” katanya.

Ia tidak sependapat dengan anggapan bahwa bangunan baru di kawasan situs Bukit Seguntang adalah bangunan sampah. Harus bisa dimanfaatkan bangunan-bangunan tersebut. “Mari kita kelola bangunan-bangunan yang sudah ada ini,” katanya.
Menurutnya, Pemerintah akan mencoba mengubah, mengganti, hingga menambah bangunan yang ada kaitan dengan sejarah. Jadi membangun tapi tidak melepaskan sejarah dan budaya. Apakah itu sejarah dan budaya tentang Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, atau lainnya.

“Kita harus akomodir semua kepentingan. Kawasan ini masih dipakai untuk ritual Agama Budha. Itu semua kita akomodir. Kawasan ini (Bukit Seguntang ) milik semua orang. Tinggal bagaimana konspepnya. Apakah ini jadi kawasan religi, sejarah, budaya, atau kawasan umum,” katanya.

Ia yakin, orang datang ke sini motivasi utamanya tidak hanya untuk belajar sejarah. Bisa jadi hanya untuk relaksasi bersama keluarga.

“Saya ingin kawasan ini multifungsi. Tidak hanya untuk sejarah dan budaya, tapi juga jadi tempat wisata yang menarik,” katanya.

Untuk itu, ia memohon bantuan dari Forwida Sumsel untuk memberikan rekomendasi kepada dirinya dalam mengambangkan Bukit Seguntang.

“Jadi kalau ada bangunan yang dibongkar, pemerintah punya referensi dari kacamata budaya, sejarah, teknologi, dan kacamata perkembangan dunia,” katanya.

Ia juga mengutarakan idenya untuk menaruh replika arca di Bukit Seguntang. Ini semata-mata untuk keamanan barang peninggalan sejarah.
“Kita tidak membohongi orang. Kita jelaskan bahwa itu replika. Yang aslinya ada di museum. Terpenting menjelaskan sejarah bahwa di situ ada arca yang bentuknya seperti ini,” katanya.

Ia mengajak semua pihak untuk mengembalikan marwah Bukit Seguntang menjadi tempat wisata yang menarik. Jadi nanti ketika sudah dibangun pemerintah, tidak ada lagi pihak yang protes.

“Kita harus mengakomodir semua kepentingan, bukan hanya kepentingan pribadi,” katanya.

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja SH Mkn mengapresiasi kegiatan tersebut yang tidak lain untuk melestarikan kembali Bukit Seguntang agar marwahnya bisa terangkat.

“ Tadi banyak orang pecinta sejarah yang memang bukan sejarawan, bukan budayawan tapi memang orang yang memiliki rasa cinta kepada akan sejarah untuk menaikkan kembali nilai-nilai di Bukit Seguntang, unsur-unsurnya lengkap, ada dari arkeolognya, ada sejarahnya , ada dari masyarakat, ada dari arsitek, lengkap, alhamdulilah,” katanya.

Kedepan dia berharap semakin banyak orang mencintai budaya –budaya di Palembang, Sumatera Selatan walaupun dia bukan seorang budayawan, tapi memiliki rasa tanggungjawab akan kearifan lokal kita semua.

Sedangkan Ketua Umum Forwida Sumsel, Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, MT mengatakan, pihaknya melakukan peninjauan lapangan sebagai dasar untuk membuat masterplan pengembangan Bukit Seguntang.

“Memang banyak penyimpangan, seperti dikatakan para budayawan dan sejarawan. Tapi sebetulnya Bukit Seguntang masih bisa diperbaiki. Kita akan kembalikan marwahnya jadi tempat yang sakral,” katanya.

Dikatakan, Forwida Sumsel sudah berkomitmen untuk mengembalikan kawasan wisata, yang terletak di Jalan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang itu, menjadi kawasan cagar budaya.

“Oleh karena itu, kita ingin bikin masterplan. Cukup panjang perjalanannya. Dimulai hari ini,” katanya.

Menurutnya, pemikiran untuk membuat masterplan muncul setelah pihaknya menggelar pertemuan virtual pada 8 Juni silam. Namun demikian, harus mengecek ke lapangan terlebih dahulu. Daerah peninggalan sejarah mana saja yang tidak boleh diinjak.

“Masterplan dibuat berdasarkan peta dari arkeolog. Karena itu kita adakan pertemuan dengan mengundang arkeolog dari Balai Arkeologi Sumsel dan Disbudpar,” katanya.

Lebih lanjut menurutnya, zona inti Bukit Seguntang adalah zona yang tidak boleh dibangun. Sebab di tempat itu banyak peninggalan arkeologi. Dan tempat tersebut daerah wisata religi. Yakni area makam.

“Tapi saat ini di sana banyak bangunan yang dibangun pemerintah, seperti air mancur, kolam. Justru dibangun di puncak bukit. Mestinya tak boleh ada bangunan tersebut di sana,” katanya.

Untuk melakukan perbaikan, ia melanjutkan, harus ada dasar. Jangan mengulang kembali kesalahan yang sama. “Kita tidak melakukan pengrusakan peninggalan sejarah, melainkan memperbaiki,” ujarnya.

Forwida menurutnya sebagai perkumpulan dari banyak orang dengan beragam profesi, seperti akademisi, budayawan, sejarawan, arkeolog, dan banyak lagi, menurutnya, telah diminta secara khusus oleh Kepala Disbudpar Sumsel, untuk merancang masterplan pengembangan Bukit Seguntang. Kebetulan, sekretariat organisasi ini ada di kawasan wisata tersebut.

“Pak Aufa meminta secara khusus di dalam grup Whatsapp, Forwida melakukan kajian perbaikan makam. Awalnya seperti itu. Tapi kemudian berkembang sekalian bikin masterplan dan kajian hukum. Nantinya ada produk hukum dari teman-teman, yang akan kita ajukan ke pemerintah untuk disahkan. Sehingga siapapun penguasa di masa depan, tidak akan lagi melakukan perubahan di Bukit Seguntang,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Siram Teman Seprofesi dengan Air Keras, Jimi Ditangkap

Palembang, BP Seorang Juru Parkir (Jukir) di kawasan Jalan Sudirman Kota Palembang, Jimi Rio (47) ditangkap Jatanras Polda Sumsel lantaran ...