Home / Headline / BEM KM Unsri Kecam Konflik Agraria Di Desa Pagar Batu, Lahat

BEM KM Unsri Kecam Konflik Agraria Di Desa Pagar Batu, Lahat

BP/IST
Muadz, Presiden Mahasiswa KM Unsri mengecam konflik lahan di Desa Pagar Batu, Kec. Pulau Pinang, Kab. Lahat antara masyarakat dengan PT. Arta Prigel.
, Rabu (25/3).

Palembang, BP
Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Sriwijaya (BEM KM Unsri) mengecam konflik lahan di Desa Pagar Batu, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat antara masyarakat dengan PT. Arta Prigel.

Dimana PT. Arta Prigel yang sejak tahun 1993 merampas paksa 180,36 Ha lahan masyarakat melancarkan penggusuran kepada para petani yang tengah melakukan aksi menduduki lahan untuk menuntut tanahnya dikembalikan pada hari Sabtu, 21 Maret 2020 lalu.

Baca:  Ulu Melayu Ada di Palembang

Penggusuran tersebut menewaskan dua orang petani yaitu Suryadi (40) dan Putra Bakti (35) serta dua lainnya mengalami luka parah yaitu Sumarlin (38) dan Lion Agustin (35).

Padahal salah satu janji kampanye Gubernur Sumatera Selatan adalah menjadikan penyelesaian konflik agraria di Sumatera Selatan ini sebagai salah satu agenda utama di masa pemerintahannya. Yang lebih meprihatinkan adalah ternyata dalam proses terbunuhnya dua orang petani tersebut terdapat anggota kepolisian dengan senjata lengkap.

Meski tidak menjadi bagian dari oknum yang membunuh tapi sangat disayangkan ketika ada perwakilan dari instansi kepolisian yang ada di TKP tapi tidak bisa mencegah terjadinya korban jiwa. Apakah kemudian aparat juga telah memihak kepada korporat zalim ketimbang melindungi rakyatnya sendiri?

Baca:  Prabowo Pastikan Hadir di Palembang

“Maka dari itu kami dari Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Sriwijaya (BEM KM Unsri) mengecam tindakan dari PT. Arta Prigel yang telah menewaskan dua orang petani serta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengecam tindakan tersebut,” kata Muadz Presiden Mahasiswa KM Unsri, Rabu (25/3).

Selain itu , menuntut PT. Arta Prigel untuk segera mengembalikan tanah masyarakat Desa Pagar Batu yang dirampas paksa pada tahun 1993 lalu, serta bertanggung jawab atas terbunuhnya dua orang petani dan dua lainnya yang mengalami luka serius.

Baca:  Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara di PPK Rupit Cukup Buka C1 Plano

“ Kami Meminta pihak kepolisian, komisi Nasional HAM serta instansi terkait lainnya untuk mengusut tuntas kasus terbunuhnya dua orang petani Desa Pagar Batu tersebut dan menuntut pemerintah baik tingkat pusat (dalam hal ini Presiden) hingga daerah (dalam hal ini Gubernur, Bupati hingga unit perangkat Kecamatan/Desa terkait) untuk melaksanakan Reforma Agraria sebaik-baiknya dan seadil-adilnya,” katanya.

Disamping stop keterlibatan aparatur negara baik TNI/POLRI dalam konflik agraria yang terjadi dimanapun dan kapanpun.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pasien Corona di OKI Bertambah, Gugus Tugas Imbau Masyarakat Tunda Dulu Perjalanan Jauh

OKI, BP–Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten OKI mendapati satu lagi kasus positif Corona. Seorang warga OKI dinyatakan positif setelah ...