Home / Headline / Anggota DPR: Demam Berdarah Lebih Berbahaya dari Virus Corona

Anggota DPR: Demam Berdarah Lebih Berbahaya dari Virus Corona

Anggota DPR Melki Laka Lena dan Kurniasih Mufidayati dalam diskusi di ruangan wartawan DPR RI, Senayan, Jakarta.

Jakarta, BP–Anggota DPR Melki Laka Lena mengatakan, pemerintah jangan buang energi untuk mengurus wabah virus corona (covid-19). Penyakit tersebut tidak lebih berbahaya dari demam berdarah dongue (DBD) yang hingga kini belum ditemukan obatnya.
“Di Indonesia banyak penyakit lokal berbahaya, seperti penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan tuberklose yang telah menjadi penyakit endemik di tanah air sejak 1968. Dan jenis virus penyakit sudah sering melanda dunia, tapi Indonesia masih relatif aman,” kata Melki di ruangan wartawan DPR Jakarta, Selasa (9/3).
Menurut Melki, penyakit DBD yang saat ini hampir 15 ribu meninggal seakan dilupakan pemerintah dan tidak menjadi perhatian serius ketimbang menguras tenaga hanya untuk mengatasi Covid-19 yang berasal dari Wuhan China tersebut.
“Jangan lupa DBD dan TBC itu sangat berbahaya di negeri kita,” tandas politisi Partai Golkar itu.
Untuk itu, Melki mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI lebih fokus mengatasi penyakit yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
“Intinya energi kita harus terbagi, virus corona diperhatikan, DBD juga harus lebih diurus lagi oleh pemerintah,” kata Melki.
Sebelumnya, Pemerintah menyatakan ada tambahan 13 kasus baru terinfeksi virus corona Covid-19 Senin (9/3).
Dengan demikian, ada 19 kasus positif Covid-19 di Indonesia dari 6 kasus.
“Jika ada yang meninggal, maka bukan virus corona, tapi itu mungkin penyakit bawaan dari pasien tersebut,” papar Melki.
Anggota DPR RI Kurniasih Mufidayati menegaskan, virus Tuberkulosis (TBC)dan demam berdarah (DBD) lebih berbahaya daripada wabah virus corona (Covid-19).
Menurut Kurniasih, jumlah penderita TBC di Indonesia menduduki rangking 3 di dunia, setelah India dan China. Penyakit tersebut juga menjadi penyebab kematian nomor satu di Tanah Air di antara penyakit menular
“Jadi, kita juga ingin pemerintah care terhadap penyakit TBC di Indonesia, bahkan setiap kunjungan kerja komisi IX DPR ke daerah selalu saja menemukan pasien yang menderita penyakit TBC,” ujar urniasih dibruangan wartawan DPR Jakarta, Selasa (9/3).
Selain TBC, kata Kurniasih, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan ancaman kematian di Indonesia.
Penyebaran dan jumlah penderita ppenyakit tersebt pun cenderung meningkat setiap tahun.
“Penularan DBD juga cepat sekali bahkan sudah 4.000 ke atas dan menembus di angka 15.000 pasien yang sudah meninggal dunia. Ini sangat memperhatikan,” tuturnya
Mesti begitu, Kurniasih meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) untuk menjelaskan kepada masyarakat, sejauh mana tingkat penularan wabah virus corona (Covid-19) itu di Indonesia.
Karena, lanjut dia, masyarakat butuh pemahaman, butuh informasi, butuh penjelasan bahwa Covid-19 cara penularannya seperti apa dan tingkat penyebab kematiannya berapa persen.
“Karena kalau DBD dan TBC virusnya lebih bahaya dibandingkan dengan Covid-19 itu sendiri,” jelas Kurniasih.
Anggota DPR Melki Laka Ena mengatakan, pemerintah jangan buang energi untuk mengurus wabah virus corona (covid-19). Penyakit tersebut tidak lebih berbahaya dari demam berdarah dongue (DBD) yang hingga kini belum.ditemukan obatnya.
“Di ndonesia banyak penyakit lokal berbahaya, seperti penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan tuberklose yang telah menjadi penyakit endemik di tanah air sejak 1968. Dan jenis virus penyakit sudah sering melanda dunia, tapi Indonesia masih relatif aman,” kata Melki di ruangan wartawan DPR Jakarta, Selasa (9/3).
Menurut Melki, penyakit DBD yang saat ini hampir 15 ribu meninggal seakan dilupakan pemerintah dan tidak menjadi perhatian serius ketimbang menguras tenaga hanya untuk mengatasi Covid-19 yang berasal dari Wuhan China tersebut.
“Jangan lupa DBD dan TBC itu sangat berbahaya di negeri kita,” tandas politisi Partai Golkar itu.
Untuk itu, Melki mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI lebih fokus mengatasi penyakit yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
“Intinya energi kita harus terbagi, virus corona diperhatikan, DBD juga harus lebih diurus lagi oleh pemerintah,” kata Melki.
Sebelumnya, Pemerintah menyatakan ada tambahan 13 kasus baru terinfeksi virus corona Covid-19 Senin (9/3).
Dengan demikian, ada 19 kasus positif Covid-19 di Indonesia dari 6 kasus.
“Jika ada yang meninggal, maka bukan virus corona, tapi itu mungkin penyakit bawaan dari pasien tersebut,” papar Melki.#duk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

13 Daerah Di Sumsel Ditunda Transfer DAU 35%. , Anita Noeringhati: Akan Dilihat Apakah Provinsi Terlambat Melaporkan Atau Belum Recofusing

Palembang, BP 29 April 2020 Menteri Keuangan telah mengeluarkan kebijakan dalam bentuk surat keputusan (KMK) Keputusan Menteri Keuangan No 10/KM.7/2020 ...