Home / Headline / “Palembang Lebih Banyak barunya , Kunonya Hilang, Sengaja Dihilangkan, Atau Tidak Tahu Sehingga Dihilangkan”

“Palembang Lebih Banyak barunya , Kunonya Hilang, Sengaja Dihilangkan, Atau Tidak Tahu Sehingga Dihilangkan”

BP/IST
Suasana Komunitas sejarah Sahabat Cagar Budaya (SCB) di tahun 2020 menggelar kegiatan kelas jalan dengan judul “Hubungan Sejarah Antara Sriwijaya Dengan Kesultanan Palembang” dengan narasumber Sejarawan Sumsel yang juga dosen Sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) Drs Syafruddin Yusuf M.Pd, Ph.D, Minggu (26/1) di Komplek Makam Ki Gede Ing Suro, Kawasan 2 Ilir, Palembang.

Palembang, BP
Mengawali kegiatan Komunitas sejarah Sahabat Cagar Budaya (SCB) di tahun 2020 menggelar kegiatan kelas jalan dengan judul “Hubungan Sejarah Antara Sriwijaya Dengan Kesultanan Palembang” dengan narasumber Sejarawan Sumsel yang juga dosen Sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) Drs Syafruddin Yusuf M.Pd, Ph.D, Minggu (26/1) di Komplek Makam Ki Gede Ing Suro, Kawasan 2 Ilir, Palembang.

Sejarawan Sumsel yang juga dosen Sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) Drs Syafruddin Yusuf M.Pd, Ph.D menjelaskan di masa lalu di Palembang muncul tiga kerajaan besar mulai dari Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Palembang hingga Kesultanan Palembang.

Baca:  Hujan Makin Sering, Waspadai DBD dan Sarang Nyamuk

“Kesultanan Palembang bukan penerus Kerajaan Sriwijaya , ini yang rancu, karena bentuknya beda, Sriwijaya itu agamanya Budha, Kesultanan Palembang itu Islam, bagaimana mau menyamakannya ,” katanya.

Selain itu nilai-nilai budaya di Palembang yang bisa dikembangkan dari kerajaan-kerajaan tersebut menurutnya seperti di Palembang ada sistim tradisional yang berusaha saling menutupi kalau ada kejelekan dan itu tidak mau terungkap keluar, dan itu menurutnya sudah mulai muncul ketika raja terakhir Kerajaan Palembang Sido Ing Rejek mundur ke Saka Tiga, Indralaya karena benteng Kuto Gawang di hancurkan VOC dan yang tampil berkuasa adiknya Kemas Hindi dan itu terulang saat Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II berperang melawan Inggris , saat SMB II mundur ke pedalaman yang menghadapi Inggris adalah saudaranya Pangeran Najamuddin II, “ katanya.

Baca:  Satgas TMMD Ke 104 Shalat Bersama Warga Pulokerto

Bedanya kata Syafruddin, Pangeran Najamuddin II ini keinginan menjadi raja kuat sehingga waktu Inggris masuk Palembang dia bermain mata dengan Inggris.

Dengan sejarah Palembang ini, menurutnya pemerintah daerah, dalam mengambil kebijakan harus melibatkan orang lain juga, jangan internal pejabat pemerintahan, karena cara berpikir orang pemerintahan berbeda dengan berpikir orang diluar pemerintahan dan ini kaitannya dengan peninggalan sejarah.

“ Pemerintah kalau melihatnya ini peninggalan sejarah tidak ada guna sehingga disingkirkan sehingga dibuat yang baru, sementara kalau orang diluar pemerintahan dia ingin mempertahankan itu, ada nilai-nilai tertentu yang terus dikembangkan, sehingga sering kebijakan pemerintahan itu bertentangan dengan masyarakat, terkait kepeduliannya,” katanya.

Contoh lain menurut Syafruddin , banyak nama jalan di Palembang salah ditulis seperti jalan Srijaya Negara yang seharusnya Sri Jayanasa (raja Sriwijaya) atau ada nama jalan di Jalan Sukabangun yang merupakan nama jalan orang KNIL Belanda yang merupakan musuh Indonesia.

Baca:  AHY  Ungkap 14 Prioritas Partai Demokrat

“Kita enggak pernah diajak,  itu yang jadi masalah,” katanya.

Apalagi dalam mengambil kebijakan menurutnya pemerintah ada keterbatasan.
“ Kalau sekarang Palembang lebih banyak barunya , yang kunonya hilang, hilang macam-macam, sengaja dihilangkan, atau tidak tahu sehingga dihilangkan, itu kasusnya seperti Pasar Cinde, kasus Siguntang, itu faktornya disitu, ada egoisme yang kuat dari pemerintah, kami kendaknya mak ini yang lain harus nurut, ini rusaknya disitu, kalau dia memperhatikan yang diluar aku kira bisa ada sinergi,” katanya.

Selain mengenai data cagar budaya yang ada seharusnya menurutnya dipedomani, sekarang datanya ada tapi tidak direalisasikan sehingga data tersebut hilang dan itu hanya menghabiskan anggaran saja.

Sedangkan menurut Robby Sunata selaku pelaksana kegiatan mengatakan, komunitas ini merupakan komunitas nirlaba yang tidak mencari keuntungan lantaran hanya sekelompok anak-anak muda dan masyarakat yang senang berkumpul dan belajar sejarah.

“ Silahkan bergabung disini kita sama-sama orang awam yang ingin belajar soal cagar budaya, hari ini soal sejarah Palembang dari Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang, kita pilih tempat ini untuk mewakili cerita antara Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

DPRD Sumsel Bangga Atas Kepedulian Mahasiswa Terhadap APBD Sumsel Tahun 2020

Palembang, BP Ketua Komisi I DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Antoni Yuzar, SH, MH. didampingi Anggota Komisi I lainnya menerima ...