Home / Headline / Mencari Jejak Sejarah Pers di Sumatera Selatan

Mencari Jejak Sejarah Pers di Sumatera Selatan

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Menjelang tutup tahun 2019, saya menikmati suasana jelang pergantian tahun dengan membaca seri tulisan seorang wartawan yang juga peminat sejarah Dudy Oskandar. Sejak 21 Desember 2019 di media Berita Pagi Online Dudy Oskandar mulai menulis tentang sejarah pers Sumatera Selatan (Sumsel). Dia menulisnya dengan berbekal serangkaian referensi yang dicari dan ditelusuri.

Ada tujuh seri tulisan Dudy Oskandar tentang sejarah pers di Sumsel yang merupakan kegelisahan dirinya atas tiadanya buku sejarah pers Sumsel. “Ada banyak diskusi tentang sejarah pers Sumsel, namun semuanya baru sebatas wacana. Tidak ada yang menuliskannya. Saya belum menemukan buku tentang sejarah pers Sumsel. Kalau ada, hanya tentang satu atau dua surat kabar yang pernah terbit di Sumsel. Salah satunya buku berjudul Pers Perlawanan – Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan,” katanya.

Menulis sejarah bukanlah suatu yang mudah, namun upaya yang dilakukan seorang wartawan seperti Dudy Oskandar patut mendapat apresiasi. Bagi sebagian orang ada yang mengatakan, “Apalah artinya sejarah, itu kan masa lalu?” Bagi mereka yang berpendapat seperti itu tidak perlu didengar, biarkan saja.

Presiden Indonesia Soekarno dalam pidatonya pada 17 Agustus 1966 mengatakan, “Djangan sekali-kali meninggalkan sedjarah!” Sejarawan Taufik Abdullah dalam pengantar buku “Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia” menulis, “Kejadian atau peristiwa tertentu pantas diingat karena siapa tahu bisa memberi sekedar kearifan dalam melangkah ke hari depan.”

Sejarah tidak bisa dilupakan, sejarah harus menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Menurut CS Dweck dalam “Change Your Mindset Change Your Life,” (2007), “Sebagai bagian dari pembentukan karakter diharapkan pembelajaran sejarah dapat menjadi stimulan dan bahan refleksi dalam mengubah mindset tetap menjadi mindset berkembang.”

Ketika menulis tentang sejarah pers Sumsel, Dudy Oskandar bukan seorang sejarawan, dia adalah jurnalis yang mencintai sejarah dan ingin menuliskannya agar semua pembaca tahu tentang apa yang terjadi dan ada pada masa lalu.

Mengutip Muhammad Yamin, istilah “sejarah” berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata “syajaratun” (dibaca “syajarah”), yang memiliki arti “pohon kayu”. Pengertian “pohon kayu” di sini adalah adanya suatu kejadian, perkembangan/pertumbuhan tentang sesuatu hal (peristiwa) dalam suatu kesinambungan (kontinuitas). (“Catur-Sila Chalduniah.” Laporan Seminar Sejarah, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia, 1957).

Pohon menggambarkan pertumbuhan terus menerus dari bumi ke udara dengan mempunyai cabang, dahan, dan daun, kembang, atau bunga serta buah. Memang di dalam kata sejarah itu tersimpan makna pertumbuhan atau silsilah.

Dalam bahasa Belanda kata sejarah ditulis “Geschiedenis” (dari kata Geschieden = terjadi). Sedangkan dalam bahasa Inggris ialah “history” (berasal dari bahasa Yunani “historia” apa yang diketahui dari hasil penelitian atau inquiry).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi arti kata “sejarah” adalah
asal-usul (keturunan) silsilah, kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau; riwayat; tambo: cerita, pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi dalam masa lampau; ilmu sejarah.

Apakah Dudy Oskandar sedang menulis sejarah tentang “Sejarah Pers Sumatera Selatan?” Tulisan ini tidak akan membahas tentang itu, biarlah ruang itu menjadi milik atau wacana para akademisi atau sejarawan. Tulisan Dudy Oskandar saya maknai sebagai cerita, atau kejadian yang benar benar telah terjadi pada masa lalu.

Apa yang ditulis Dudy Oskandar jika kemudian ditulis dengan baik sesuai metodelogi sejarah niscaya sangat bermakna bagi manusia, bukan saja sekedar mengetahui dan memahami peristiwa sejarah yang dimaksud, melainkan juga menjadi pelajaran yang terbaik guna memperbaiki diri.

Dalam tujuh tulisannya, Dudy Oskandar berusaha menjalin fragmen-fragmen dari sejarah pers Sumatera Selatan menjadi sebuah catatan sejarah yang utuh dan lengkap. Dalam tulisan seri pertama berjudul “Pers Sumatera Selatan, Pers Perjuangan 1925- 1950” yang muncul di Berita Pagi Online pada 21 Desember 2019, Dudy menuliskan tentang sejarah pers Sumatera Selatan pada masa 1925 – 1950.

Jika sejarah pers Sumatera Selatan dimulai pada 1925, bukankah menurutnya pada tulisannya pada bagian keenam memberi judul : “#Warta Palembang, Surat Kabar Pertama di Palembang.” Jika itu menjadi rujukan maka jejak sejarah pers Sumatera Selatan – saya lebih memilih menggunakan kalimat “Sejarah Pers di Sumatera Selatan” – harus dimulai pada kurun atau tahun 1912 karena “Warta Palembang” sebagai surat kabar pertama di Palembang yang terbit dwi mingguan mulai terbit 1912.

Benarkah “Warta Palembang” merupakan surat kabar pertama di Sumatera Selatan? Jika ada surat kabar yang lain terbit lebih dulu, maka sejarah pers di Sumsel bisa saja usianya lebih tua dari “Warta Palembang.”

Jika merujuk pada Buku “Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia” yang ditulis Abdurrachman Surjomihardjo (2002) di Palembang masa kolonial Hindia Belanda telah terbit surat kabar “Nieuws en Advertentie blad voor de Residentie Palembang, Djambie en Banka” pada 1893. Surat kabar yang terbit dua kali dalam seminggu untuk kepentingan perusahaan minyak di sekitar tempat itu.

Siapa atau mana surat kabar pertama yang terbit di Palembang bukanlah hal yang harus diperdebatkan dengan membuang-buang energi sehingga keinginan Dudy Oskandar untuk bisa hadir buku sejarah pers di Sumsel menjadi sia-sia karena tidak terwujud.

Dalam buku “Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila” (1988) menyebutkan di Palembang pada masa kolonial Hindia Belanda terbit beberapa surat kabar yang diterbitkan dikelola warga pribumi. Diantaranya surat kabar “Teradjoe,” “Obor Rakjat,” “Tjahaja Palembang,” dan surat kabar “Pertja Selatan.”

Dari tujuh seri tulisan Dudy Oskandar yang telah disiarkan, ada tiga surat kabar atau media cetak pada zaman kolonial Hindia Belanda yang belum masuk dalam tulisan tersebut, yaitu surat kabar “Teradjoe,” “Tjahaja Palembang” dan “Berita.” Untuk bisa memperoleh data dan informasi tentang tiga surat kabar tersebut Dudy Oskandar harus lebih giat menghimpun berbagai informasi dari berbagai sumber dan literatur.

Surat kabar “Teradjoe” yang diterbitkan Sarekat Islam (SI) Palembang. Surat kabar yang mengusung tagline “Pers jang Djoedjoer Moestika Negeri,” Weekblad atau surat kabar mingguan “Teradjoe” edisi perdananya terbit pada Maret 1919. Alamat redaksi/ kantor di 17 Ilir Sajangweg (sekarang Pasar Sayangan) Palembang. Sebagai directeur adalah Raden Nangling, Presiden SI Palembang. R.M. Zen menjabat sebagai redacteur dan dibantu administrateur T.E. Zahidal Abidin.

Surat kabar “Teradjoe” terbit menjadi pers pergerakan yang professional pada masanya. Beritanya bukan hanya berisi propaganda politik SI banyak juga tersaji berita pro rakyat dan kemajuan bangsa. Pada banner halaman “Teradjoe” memasang tulisan dengan huruf hitam tebal, “Organ boeat kaoem jang tertindas dan jang lemah.”

Kemudian pada 1925 di Palembang terbit surat kabar “Tjahaja Palembang.” Edisi perkenalan atau proefnummer “Tjahaja Palembang” terbit pada 2 November 1925. Pada edisi perkenalan tersebut redacteuren RMA Tjondrokoesoemo menulis, “Kami poenja toedjoean jang tetap jaitoe: “berani karena benar, takoet karena salah.”

“Tjahaja Palembang” awal terbit bernama “Tjahja Palembang” dicetak di Goenoeng Sari, Weltevreden oleh N.V. Indonesische Drukkerij. Pada tahun kedua, 1926 berubah nama menjadi “Tjahaja Palembang” yang dicetak di Palembang oleh Drukkerij “JAKOEB.”

Pada 1928 di Palembang terbit surat kabar “Berita.” Surat kabar “Berita” terbit empat halaman dengan format yang sederhana. “Berita” yang terbit perdana pada 3 September 1928 merupakan ekspresi kaum boemipoetra yang bergelora dalam semangat zamannya pada masa itu. Surat kabar “Berita” dipimpin Directeur dan Hoofdredacteur Soekar dan Administrateur Kiagoes Tajib memiliki kantor redaksi 13 Ilir, Palembang.

Untuk bisa membaca surat kabar “Berita” pembaca membayar iuran sebesar 75 lima sen/ bulan. Selama terbitnya surat kabar “Berita” dicetak di percetakan. Typ. Drukkerij “JAKOEB” selama 2 edisi. Edisi nomor 3 “Berita” dicetak oleh Typ. Drukkerij “DEMPO”.

Mari bersama-sama terus menghimpun fragmen-fragmen sejarah pers di Sumsel untuk dijahit menjadi sebuah buku dengan judul “Jejak Sejarah Pers di Sumatera Selatan” atau Jejak Sejarah Pers di Bumi Sriwijaya.”∎

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Kapolda Sumsel Ingatkan Apapun Yang Terjadi Dilapangan Tetaplah Menjadi Tanggung Jawab Bersama.

Palembang, BP Kegiatan Rapat Koordinasi Forkopimda Tentang Penerapan New Formal Provinsi Sumsel dan Kota Palembang berlangsung di Mapolrestabes Palembang, Jum’at ...