Home / Headline / Nama Ketua KPK Firli Bahuri Disebut Dalam Persidangan Dugaan Suap Bupati Muara Enim Non Aktip

Nama Ketua KPK Firli Bahuri Disebut Dalam Persidangan Dugaan Suap Bupati Muara Enim Non Aktip

BP/IST
Sidang kasus dugaan suap proyek yang menyeret Bupati Muara Enim nonaktif Ahmad Yani kembali digelar di Pengadilan Tipikor Palembang, Selasa (7/1).

Palembang, BP

Sidang kasus dugaan suap proyek yang menyeret Bupati Muara Enim nonaktif Ahmad Yani kembali digelar di Pengadilan Tipikor Palembang, Selasa (7/1).
Kali ini persidangan digelar dengan agenda pembacaan nota keberatan (eksepsi) dari pihak terdakwa Ahmad Yani atas surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK yang dibacakan pada persidangan sebelumnya.

Dalam eksepsi yang dibacakan Maqdin Ismail, kuasa hukum terdakwa Ahmad Yani, dihadapan majelis hakim yang diketuai Erma Suharti, nama Firli Bahuri yang kini menjabat Ketua KPK.
Menurut Maqdin, kliennya hanya menjadi tumbal untuk menjatuhkan Firli Bahuri yang dilakukan oleh para eks pimpinan KPK, diketuai Agus Rahardjo. Sebab upaya penyadapan yang dilakukan penyidik KPK terhadap terdakwa lain, Elfin Muchtar, Kabid Pembangunan Jalan Dinas PUPR Muara Enim semakin intensif setelah nama Firli disebut dalam percakapan dengan Robi Okta Fahlevi, terdakwa penyuap dalam kasus ini pada 31 Agustus 2019 pukul 10.00.
Dalam percakapan yang dilakukan melalui aplikasi bertukar pesan tersebut ada rencana pemberian uang dari Elfin kepada Firli yang saat itu masih menjabat sebagai Kapolda Sumsel. Rencana pemberian uang dilakukan sebelum Ahmad Yani hendak bertemu Firli dalam rangka silaturahmi pada malam harinya.
“Adanya rencana pemberian uang kepada kapolda ini tidak dilaporkan KPK ke Kapolri, padahal sudah ada perjanjian untuk supervisi. Proses penegakan hukum seperti ini yang gak bener, merusak harkat martabat orang. Apalagi ada perseteruan antara Firli dengan pimpinan KPK lama. Bisa jadi klien kita hanya tumbal untuk menjatuhkan Firli,”  kata Maqdir.
Maqdir mengatakan, ada permintaan Elfin kepada Robi agar staf Robi membantu mengambil kopi untuk diberikan kepada patroli dan pengawal yang berjaga di rumah Kapolda Sumsel. Dalam pembicaraan ini Elfin meminta kepada Robi menyiapkan uang 35 ribu AS dolar senilai Rp500 juta. Hal ini kemudian diulang dalam percakapan pada pukul 12.00.
Sebelum bertemu Yani, Firli meminta nomor ponsel Yani kepada Elfin. Elfin pun kemudian melaporkan hal itu kepada Yani. Yani menjawab ‘Iyo bagus dia minta nomor hape. Pacak Lah kau,” katanya.

“Komunikasi antara Ahmad Yani dengan Elfin baru terjadi sekitar pukul 18.00. Dalam pembicaraan ini tidak ada permintaan yang jelas dari Pak Yani tentang rencana pemberian uang atau sesuatu kepada Kapolda Sumsel, melainkan Elfin yang memberikan interpretasi sesuai dengan idenya sendiri untuk kepentingannya dan berencana untuk memberikan uang 35 ribu dolar AS itu,” katanya.

Untuk merealisasikan pemberian uang kepada Firli, Elfin berupaya menghubungi ajudan kapolda. Ajudan kapolda kemudian memberikan kontak Erlan yang merupakan keponakan Firli. Setelah mendapatkan nomor Erlan, Elfin menghubungi Erlan melalui sambungan telepon. Eflin memperkenalkan dirinya dan memberi tahu ada titipan dolar dari Yani kepada Kapolda.
“Erlan membalas bahwa dirinya akan menyampaikan hal tersebut kepada Firli namun dirinya menyebut itu rawan dan biasanya Bapak [Firli] enggak mau. Ini memberikan indikasi bahwa Elfin betapa hebatnya dia memberikan interpretasi atas percakapannya dengan terdakwa Ahmad Yani untuk memberikan uang kepada Kapolda Sumsel melalui keponakan Kapolda,” ujar dia.
Dirinya mengungkapkan, adanya upaya penyuapan kepada Kapolda ini tidak dikonfirmasikan penyidik KPK kepada Firli dan Erlan. Maqdir menyebut jaksa KPK hanya mengandalkan penyadapan dan berita acara pemeriksaan untuk mengungkap fakta adanya upaya penyuapan tersebut.Dari penyadapan ke OTT itu jaraknya hanya tiga hari. Ini ada proses mereka mau menjegal pak Firli. Apalagi ada perseteruan antara Firli dengan pimpinan KPK lama. Inilah yang kami katakan bahwa penyelidikan dan penyidikan terhadap perkara ini telah digunakan oleh pimpinan KPK di bawah komando Agus Rahardjo telah digunakan untuk kepentingan lain,” ujar dia.
Sementara itu JPU KPK Roy Riyady mengatakan tudingan terhadap para eks pimpinan KPK tersebut bukanlah materi eksepsi. Namun berdasarkan BAP dari terdakwa Elfin memang ada cerita tentang itu. Namun dirinya menegaskan dakwaan yang akan dilakukan tidak akan mengarah ke Ketua KPK.
“Ini nggak akan dikonfrontir dengan ketua (Firli). Saya ambil contoh, misal ada orang pengen ngasih duit ke anda, yang mau dikasih tidak tahu. Fakta dari orang mau ngasih itu sah saja, tapi kan yang mau dikasih enggak tahu ceritanya,” ujar dia.
Nantinya jaksa hanya akan menjawab substansi eksepsi dari terdakwa yang tertuang dalam 41 halaman tersebut, bukan ke tudingan terhadap para pimpinan lama KPK.
“Substansi keberatannya Pasal 143 KUHAP. Lebih dari itu kita tetap pada dakwaan saja,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pangdam II Sriwijaya Kunjungan Kerja Bersama Forkompimda Sumsel Ke OKU dan Pali Terkait Covid-19

Palembang, BP Pangdam II/Swj Mayjen TNI Irwan, S.I.P., M. Hum., bersama Forkopimda Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kembali melaksanakan kunjungan kerja ...