Home / Headline / Pers Sumatera Selatan, Pers Perjuangan 1925- 1950 (Bagian Kedua)

Pers Sumatera Selatan, Pers Perjuangan 1925- 1950 (Bagian Kedua)

#Pergolakan Ditengah Revolusi Kemerdekaan Indonesia

 

Oleh : Dudy Oskandar (Jurnalis, Peminat  Sejarah Sumatera Selatan)

KALAU  kita mengikuti sejarah pertumbuhan pers Indonesia pada umumnya dapatlah kita bagi dalam beberapa fase, yaitu pertama: fase  kebangunannya dengan sifatnya yang serba istimewa, diujung abad ke-18 hingga tahun 1908.

Kemudian datang fase  kedua, yang menurut Adinegoro dalam “Falsafah Ratu Dunianya  disebut zaman  serba nasional dan anti penjajahan”, hingga masa berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda.

 

 

 SELAMA  3,5  tahun dibawah kekuasaan pemerintah balatentera Jepang, pers Indonesia mati sama sekali karena di “overkapping” oleh siaran-siaran propaganda fascisme Jepang dengan lagu “Asia Timur Raya”.

Ketika kapitulasi Jepang dan proklamasi 17 Agustus meledak, pers nasional Indonesia yang selama Jepang praktis dilenyapkan, muncul kembali sebagai pahlawan proklamasi yang mempelopori gerakan serentak menggedor semangat kemerdekaan rakyat Indonesia.

Dalam hal ini tidaklah  boleh dilupakan jasa “Antara” yang dengan diam-diam telah menyiarkan isi proklamasi Indonesia keseluruh dunia.

Juga pers di Sumatera Selatan ini  khususnya mengikuti sebagian zaman ini. Setelah menempuh zaman anti penjajahan Belanda, tibalah masa, dimana pers  Indonesia melulu dijadikan alat propaganda Jepang. Di Palembang beberapa minggu setelah tentara payung Jepang mendarat, diterbitkan surat kabar “Sinar Matahari” (Kagajaku Taiyo) yang lebih tepat kalau dinamakan “selebaran propaganda” Jepang, karena justru surat-kabar ini diterbitkan oleh Barisan Propaganda  dari Balatentera Jepang dibawah pimpinan Shida.

Sinar Matahari  sejak awal penerbitannya  turut diasuh oleh MJ. Su’ud, Salam Astrokusumo (almarhum) dan Habibana Alwie yang semuania menjadi Pegawai Barisan Propaganda” Jepang. Kemudian ketika MJ. Su’ud  diberhentikan, kcdudukannya  digantikan oleh Nungtjik Ar yang kcmudian ditarik pula masuk kedalam  Barisan Propaganda” tersebut. Sampai saat terakhir.

Setelah ”Sinar Matahari” berturut-turut  diganti namanya dengan  “Nippon Palembang Shinbun” (Nipash), “Palembang Shinbun” dan paling akhir ”Sumatera Baru”.

Surat kabar resmi Pemerintah Jepang ini,terus menerus redaksinya diketuai oleh Nungtjik Ar. dan anggota’ stafnya Habibana Alwie, A.M. Thalib dan M. J. Sjamsuddin.

Pemerintah Balatentera Jepangpun menginsyafi, bahwa suatu surat kabar tidaklah mungkin kalau akan terus menerus dipakai sebagai alat propaganda yang resmi dari Pemerintah.

Baca:  Penggugat Adalah Pemilih Yang Berhak Menggugat Jika Penyelenggaraan Pemilukada Melanggar UU

Ia akan lebih berhasil, jika dipisahkan dari keresmiannya sebagai surat kabar Pemerintah, walaupun ini tidak berarti surat kabar itu boleh memegang haluan-politik yang bebas dari pemerintah Jepang ketika itu.

Dengan dasar ini pada saatnya rencana offensief Mc. Arthur dari pulau ke pulau terlaksana dan berturut dan Jepang kehilangan daerah kekuasaannya Saipan, Guam dan Okinawa.

Akhirnya , Jepang merubah politik propagandanya untuk menarik rakyat Indonesia  untuk  sehidup-semati dengan mereka.

Disamping menggaungkan “Janji Koiso” dengan Indonesia Merdekanya, Pemerintah Jepang mengorganisir persurat kabaran didaerah-daerah  kekuasaannya sebagai badan yang seakan-akan lepas dari Pemerintah Jepang.

Tujuannya  agar dengan memisahkan surat kabar ini dari sifat resminya, dapatlah  diwujudkan sebagai bentuk  “pembawa suara dan opini rakyat”, sebagaimana sifat suatu surat kabar yang seharusnya.

Demikianlah seluruh surat kabar alat propagandanya diseluruh Sumatera diikatnya dalam suatu badan yang seakan-akan terpisah dari Pemerintah Jepang, dengan nama  “ Sumatera Shinbun Kai”, merupakan suatu badan penerbitan surat kabar setengah resmi, disamping “Djawa-Shinbun Kai” di Jawa dan “Shonan Shinbun Kai” di Singapura yang telah berdiri terlebih dulu.

Ketika seluruh rakyat Indonesia umumnya dan rakyat kota Palembang khususnya mulai bergolak setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, surat kabar “Palembang Shinbun” yang sampai akhir bulan Agustus masih tetap dikuasai oleh “Sumatera Shinbun Kai”, baru dapat menyelaraskan diri dengan suasana baru.

Berangsur-angsur orang-orang Jepang pemimpin dari “Sumatera Shinbun Kai” menghilang,   lebih karena suasana makin lama makin panas. Akhirnya atas keputusan bersama dengan  pemimpin redaksi “Palembang Shinbun“, Nungtiik Ar bersama-sama para stafnya tanggal 5 September 1945,  “Palembang Shinbun” diproklamirkan menjadi ”Sumatera Baru” sebagai suara Republik Indonesia Merdeka yang baru saja diproklamirkan.

Pimpinan Redaksi tetap dipegang oleh Nungtjik Ar  disamping beliau kemudian merangkap menjadi Kepala Jawatan Penerangan. Berhubung dengan kesulitan’ kertas disaat itu “Sumatera Baru” diterbitkan dengan ukuran tidak lebih besar dari “Palembang Shinbun”. bahkan beberapa bulan kemudian terpaksa diterbitkan separuh lagi dari ukuran itu.

Baca:  Forkopimda Sumsel Patroli Ke Sejumlah Gereja di Palembang

Pernah “Sumatera Baru” diterbitkan dengan ukuran 20 X 30 cm. yang sebagian terbesar isinya adalah maklumat  resmi dari Pemerintah RI.

Ketika itu penghematan kertas ini harus dilakukan justru kertas yang dipakai ketika itu adalah sisa dari yang dapat direbut dari tangan Jepang yang dizaman pendudukannya  memperolehnya dari beslahan perang.

Diawal tahum 1946, pimpinan “§umatera Baru” oleh Nungtjik Ar. diserahkan pada A.S. Sumadi ketika beliau menetap dikota Palembang setelah melakukan pengembaraan diseluruh Sumatera sebagai Pemimpin rombongan perutusan  pemuda dari Jakarta.

Lama-kelamaan terasa nama “Sumatera Baru” seakan masih mengingatkan orang pada zaman Jepang dengan serba ,,barunya, hingga akhirnya pada tanggal  l Juni 1946, ”Sumatera Baru” dikubur untuk diganti dengan nama baru  yaitu ” Obor  Rakjat ”.

Kenapa justru  “0bor Rakjat” dipakai sebagai nama satu-satunya harian di Palembang ketika itu mengingat tugasnya ketika itu tegas dan nyata memberikan obor bagi rakyat, apalagi ketika itu sedang berada ditengah pergolakan revolusi kemerdekaan.

Saat itu pimpinan Obor Rakjat  berhasil mengisi staf redaksinya dengan tenaga revolusioner, yaitu diantaranya  Kaswanda Sucandy, Chodewy Amin, M.U. Riza dan MJ. Sjamsuddin.

Bahwa staf ini cukup  bagus dalam perjuangan nasionalnya ternyata dari progressifnya dan beraninya mengeluarkan pemberitaan dan artikelnya , sehingga ketika Brigadir Hutchinson yang mewakili balatentera Sekutu berada di Palembang telah 2 kali memanggil pimpinan serta staf  “Obor Rakjat”  dan memberikan peringatan kepada atas pemberitaan Obor Rakjat.

Ketika dia (Brigadir Hutchinson yang mewakili balatentera Sekutu berada di Palembang) hendak meninggalkan Palembang, kata-kata  perpisahannya  merupakan  “last warning”  atau peringatan terakhir kepada Obor Rakjat yang berbunyi:

“0.K. Gentlemen, I am leaving Palembang very soon. I warn you. Be careful from now on otherwise you’ll be shot to death by the Dutch”.

(“0.K. Tuan-tuan, saya akan segera meninggalkan Palembang. Saya peringatkan kamu, hati-hati mulai sekarang, kalau tidak, Anda akan ditembak mati oleh Belanda ”)

Namun setelah itu, sesuai dengan tugas perjuangan, Obor Rakjat” tetap berjalan dengan penuh semangat, sehingga buat pihak musuh merupakan momok disiang hari.

Baca:  Kapolda Sumsel Silaturahmi Ke PW NU Sumsel

Dendam kesumat Belanda telah dibuktikannya , dengan membuat kantor surat kabar tersebut menjadi sasaran meriam howitzer dan mortirnya  pada perang lima hari lima malam di Palembang dari tanggal 1 hingga  5 Januari 1947.

Pada pertengahan tahun 1946 itu juga, atas usaha Rachman Thalib, R.A. Hakky, Samidin, dll diterbitkan pula suatu surat kabar baru dengan nama ,,Fikiran Rakjat”. Pimpinan Redaksi dipegang oleh Samidin, sedangkan penerbitannya, berhubung kesulitan kertas dilakukan hanya 3 kali seminggu.

Disamping kedua surat kabar ini merupakan penggedor semangat perjuangan kemerdekaan rakyat dengan menguliti segala kebusukan politik kolonial Belanda dibawah pimpinan Dr. Van Mock ketika itu, juga surat  kabar ini “menyikat ” segala excessen atau akibat didalam revolusi.

Tidaklah heran kalau perkara mutu tidaklah menjadikan soal yang primer, tetapi yang  terpenting adalah bahwa surat kabar itu dijadikan tambur dan trompet perjuangan membakar semangat rakyat membenci  penjajahan.

Sumber pemberitaan dalam dan luar negeri  itu adalah berita’ “Antara” yang kantor cabangnya di Palembang dipimpin oleh Mailan.

Sudah tentu dengan tiada bantuan dan perlindungan dari pihak Pemerintah, Kantor Berita “Antara” ketika itu tidaklah akan mungkin dapat membiayai dirinya. “Antara”-lah satu’-satunya sumber segala pemberitaan dari seluruh nusantara dan seluruh dunia ketika itu disamping radio, bagi daerah Sumatera Selatan umumnya yang praktis terputus hubungannja dengan  daerah lain (pulau) akibat blokade Belanda dilautan.

Ketika Van Mook mengadakan konperensi kolonialnya  di Den Pasar pada bulan Desember 1946, pers di Palembang  dengan perantaraan Kementerian Penerangan RI di Di Jakarta, turut  mendapat undangan untuk meninjau.

Untuk ini telah diutus dengan menumpang pesawat terbang militer Belanda  M. Junus Sjamsuddin. Tetapi ketika tiba di Di Jakarta terjadilah insiden pengusiran para wartawan Republikein yang telah terlebih dahulu ke Den Pasar, sehingga  M. Junus Sjamsudin ikut solider memboikot kunjungan menghadiri konperensi kolonial itu. #

 

Sumber:

  1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

MMK Sumsel Minta Kejari Palembang Usut PDAM Tirta Musi Dan PT SP2J

Palembang, BP Puluhan orang yang menamakan Masyarakat Miskin Kota (MMK) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar demo di kantor Kejaksaan Negeri ...