Home / Headline / Kalampadu dan atau Kelampadu dalam identitas sejarah

Kalampadu dan atau Kelampadu dalam identitas sejarah

Penulis :

Uju Kyai DarulQutni Ali (Kepala Desa Kelampadu, dan Dzurriyat Langsung Syekh Jamak) , dan disarikan kembali oleh Muhamad Setiawan Harnawan (Ketua KOPZIPS, dan Dzurriyat Syekh Jamak dari jalur wanita /ibu)

 

NAMA desa yang terletak di kecamatan muara kuang kabupaten ogan ilir provinsi sumatera selatan ini syarat akan makna sejarah.
Kedua nama ini sering menjadi perdebatan dalam 2 generasi terakhir, tentang sulitnya menemukan jejak sejarah secara tutur ataupun peninggalannya, tentu generasi sekarang kurang tertarik pada sejarah, tapi saya sangat menyukai sejarah bagi Saya kita hari ini adalah bagian dari sebuah perjalanan sejarah, jika boleh menyimpulkan dan tentu banyak kesalahan, pertama saya bukan sebagai pelaku sejarah, kedua saya bukan ahli sejarah ketiga tidak terdapat cerita tutur yang kongkrit dan peninggalan sejarah para pelaku sejarah orang – orang terdahulu.

Kita runut mundur kisaran waktu 150-200 tahun yang lalu atau 1800-1850 M, hidup dimasa itu Ki Jabaranti atau Kiai Jabar atau lebih dikenal dengan Syekh Jamak atau Puyang Meranggi lebih akrab ditelinga kita. Kata Kalampadu muncul sebelum menjadi desa atau sebelum pemerintahan desa dipimpin oleh seorang jawatan krio, saya masih menelusuri sejarah krio atau kepala desa pertama desa kelampadu titik terakhir teratas yang baru saya peroleh baru sampai marjan yang bisa jadi dia yang pertama atau ada krio sebelumnya.

Baca:  Siska Marleni Petahana Terakhir Daftar Ke KPU Sumsel

Kata Kalampadu dan atau Kelampadu memiliki makna multi tafsir tergantung pada pendekatannya, jika dengan bahasa aksen Melayu dengan aksen Kelampadu bermakna kelampadu atau pagi – pagi sudah bepadu atau selalu diawali dengan bermusyawarah dalam setiap pengambilan keputusan, tapi saya kurang sependapat dengan penafsiran ini rasanya kurang pas melihat fakta sejarah secara kontinyu, karena sistem kekuasaan atau kepemimpinan masih bersifat sentralistik atau pengaruh tokoh sentral.

BP/IST
Makam Puyang Nyi Rara Kemeni dan beberapa kerabatnya di TPU Desa Kelampadu

Justru saya punya pemikiran lain tapi bisa jadi juga salah, Kalam berarti diambil dari nama lain kitabullah dalam pemahaman ilmu tauhid dan pengajaran tauhid yang memasukkan nilai – nilai spiritual tauhid dan disadur dengan kearifan lokal sehingga menjadi kalampadu. Penafsiran ini belum bisa juga disimpulkan karena perlu pengkajian literatur sejarah yang mendalam.

Jika dihubungkan dengan Syekh Jamak sebagai pancer ( tokoh sentral) karena saat itu belum bersifat pemerintahan masih berkiblat kepada Palembang Darussalam, ada tiga titik pancer pengemban tauhid pada saat itu yaitu desa kalampadu, desa srikembang dan desa srinanti. dengan tugas yang sama tapi dengan panggung yang berbeda, saya tak konsen ke wilayah ini karena terlalu riskan dan perlu penelusuran para ahli sejarah, karena desa kalampadu berposisi di seberang sungai yang beriring waktu masyarakatnya berpindah ke sebelah selatan desa dataran tinggi atau talang yang saat ini jika dilihat peninggalan sejarah cuma tersisa makam, salah satu makam yang dikenal adalah Puyang Kafid Putih atau Ahmad Anom Subadra, tinggal lagi perlu pendalaman apakah kafid putih terhubung dengan Puyang Bedil atau Puyang Renek atau Abdillah yang berada di daerah lebak cakil, sebagian masyarakat melakukan migrasi ke seberang desa arah utara disebut jerongkop atau lokasi saat ini menjadi desa bantian dan atau ulak kembahang saat ini, kemudian penduduk utara dengan beberapa kejadian akhirnya bermigrasi ke seberang sungai (barat) di sebelah selatan desa kelampadu saat ini. Di ilir desa kalampadu juga terdapat beberapa komplek makam tua yang dikenal dengan sebutan Puyang Gamat , dan di ulu desa kalampadu tepatnya di pemakaman umum juga terdapat makam tua yakni Puyang Makam / Puyang Nyi Rara Kemeni.

Baca:  9 Bandit Jalanan diringkus

saya belum berani menyimpulkan tetapi saya masih tertarik pada hal – hal dibalik sebuah cerita, atau misteri dari sebuah kisah atau fakta. Kalampadu atau kalam dan padu, saya mendapat sebuah cerita istilah atau makna lain dari kata kalam yang berarti “tai emas” yang digunakan dalam dunia tambang/galian tradisional, ada penemuan uang logam zaman belanda berlobang persegi empat berkarung – karung beberapa puluh tahun yang lalu di kebun karet warga yg sudah terkubur di dalam tanah, tapi tidak sempat menghebohkan karena uang logam itu tidak dicari dan dianggap tidak komersil, konon ada lokasi galian di desa lama tapi belum ada cerita lanjut, maaf saya tidak sedang berimajenasi tentang hal – hal mistik tapi saya mencoba merasionalkan dan mengkorelasikan fakta – fakta sejarah walaupun tidak banyak sumber yang bisa kita gali, jangan – jangan belanda menyembunyikan sebuah informasi tentang kekayaan perut bumi meranggi selain minyak, saya rasa ada yang tertarik untuk mencoba mendalami dan mengkaji, karena orang – orang terdahulu ketika mencetuskan sebuah nama pasti melalui sebuah petunjuk. Bagian ini yang menantang untuk menggali informasi secara ilmiah dan secara batiniah, timbul pertanyaan, yang jika kata “kalam” bermakna “tai emas” dikorelasikan dengan “lokasi galian” yang masih sangat rahasia, temuan “uang logam” yang analisa saya bukan dari sebuah hubungan transaksi tapi sebuah lokasi produksi, mudah-mudahan ada sumber-sumber informasi yang masih bisa digali.

Baca:  KPU Sumsel Tunggu Rekap Selesai

Dan semoga analisa saya salah dan mohon ampun kepada Allah yang maha ghaib, Semoga Allah selalu memberi petunjuk kebaikan kepada kita semua, semoga ada sedikit kebaikan karya mulia dari orang – orang terdahulu, semoga ini salah.

Maaf lahir bathin

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

20 April, DPRD Sumsel Gelar Paripurna Melalui Teleconprence

Palembang, BP DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) akan menjadwalkan rapat paripurna melalui teleconfrence, meski di tengah ancaman penyebaran virus Covid-19/ ...