Home / Headline / Disorientasi Pola Pikir Mahasiswa dalam Menjaga Identitasnya sebagai Intelek Kebermanfaatan

Disorientasi Pola Pikir Mahasiswa dalam Menjaga Identitasnya sebagai Intelek Kebermanfaatan

.

Oleh ADE FAJRI
Mahasiswa, Aktivis Universitas Sriwijaya
Penerima Manfaat Beasiswa Generasi Harapan dari Sinergi Sriwijaya

MAHASISWA adalah intelektual bangsa, karena ia adalah yang ditempuh dan terlabelkan sebagai orang yang berilmu pengetahuan. Mahasiswa adalah simbol perubahan negeri, mahasiswa adalah manusia bermoral dan berakhlak tinggi yang menjaga nilai-nilai kemasyarakatan dan nilai-nilai tradisi. Mahasiswa merupakan pengontrol sosial kehidupan, dimana keberadaannya sangat ditunggu oleh kampung halaman dengan harapan membawa perubahan serta membangun nilai-nilai positif sepulangnya.
Arti dari mahasiswa seperti diatas memang benar adanya sekarang. Menjadi mahasiswa juga merupakan impian bagi setiap pemuda yang sudah menyelesaikan sekolahnya di SMA/sederajat. Saya jadi teringat bagaimana dulu saya sangat memiliki impian untuk menjadi mahasiswa yang seutuhnya, yang tidak hanya belajar di kelas tetapi juga ingin bermanfaat di luar kelas dengan mengikuti kegiatan kemahasiswaan nantinya di kampus. Setelah empat tahun saya menjadi mahasiswa di kampus, akhirnya impian saya itupun sempat tertunaikan.
Namun akhir-akhir ini, ada yang membuat saya khawatir terhadap kinerja kebermanfaatan mahasiswa di kampus, terutama bagi mereka penggiat organisasi. Ketika saya menjadi mahasiswa baru di tahun 2016, saya sempat mengikuti sepuluh organisasi, antara lain 5 organisasi fakultas, 2 organisasi kampus, dan 3 organisasi luar kampus. Hal ini membuat saya sangat sadar akan perbedaan frekuensi kegiatan maupun kinerja dari program kerja organisasi tersebut. Dengan penuh kesalahan dan pengalaman selama saya mengikuti kegiatan organisasi-organisasi tersebut, akhirnya saya dapat menarik kesimpulan atas apa yang salah dilakukan oleh mahasiswa selama di organisasi.
Poin terpenting mengapa mahasiswa bisa seperti itu, adalah karena adanya konformisme sosial yang akut di kampus membuat pola pikir mahasiswa tertanamkan untuk melakukan apa yang dikata dan reaksi oleh instrumen luar. Hal ini tanpa sadar membuat keluarnya mahasiswa dari ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri. Ketidakdewasaan disini adalah ketidakmampuan mahasiswa untuk menggunakan akal budi kritis, tanpa pengarahan dari instrumen luar. Ketidakdewasaan ini dibuat oleh disorientasi pola pikir mahasiswa itu sendiri, karena sebab bukanlah oleh kurangnya akal budinya, melainkan tidak adanya keberanian untuk berpikir kritis (critical thinking).
Ketidakdewasaan mahasiswa dalam berorganisasi di kampus setidaknya terdasari oleh 3 hal. Pertama, tradisi adalah sebuah hal yang mutlak diikuti dan sesuatu hal yang menakutkan. Sapere aude! Beranilah berpikir sendiri! Semboyan dari salah satu filsuf asal jerman. Menurutnya berpikir sendiri, tidak bergerak atas mengikuti kata orang secara mutlak dan tidak menerima tradisi yang cenderung tanpa tanya adalah bentuk kedewasaan dalam berpikir. Tetapi yang saya lihat, organisasi kampus melabelkan terhadap berpikir kritis dan berbeda jalan pikir merupakan musuh dari tradisi. Keberanian berpikir sendiri adalah sesuatu hal yang ditakuti dan harus segera dihilangkan dalam setiap ruang-ruang diskusi. Kebanyakan mahasiswa mengikutinya, kerap kali bukan karena kekaguman, melainkan karena ada rasa ketakutan akan dikucilkan di organisasi bahkan tidak diterima sebagai bagiannya. Rasa takut inilah yang menciptakan kebiasaan konformisme sosial di dalam organisasi kampus, yakni suatu sistem yang menuntut mereka untuk terus mengikuti apa kata sistem tanpa menyertakan tradisi berpikir kritis di ruang-ruang pergerakan.
Dua, budaya kepatuhan buta tanpa sikap berpikir mandiri telah mengakar di pola pikir mahasiswa sejak masuk kampus. Mahasiswa akan cenderung patuh pada suatu otoritas kampus dan organisasi begitu saja, tanpa dikaji dan dipikirkannya. Padahal, belum tentu sebuah otoritas tersebut mutlak semuanya benar dan harus diikuti yang mengandung akal sehat dan kebijaksanaan. Ini adalah dasar dari mengapa mahasiswa cenderung malas untuk berpikir sendiri di organisasi.
Tiga, semuanya kembali pada mutu tradisi organisasi itu sendiri yang terpaku dengan suatu sistem yang turun menurun. Banyak mahasiswa melakukan program kerja tetapi tidak mengetahui esensi dari yang dia kerjakan juga termasuk rusaknya mutu tradisi organisasi yang cenderung stagnan. Contohnya adalah ketika mahasiswa mengikuti aksi demo, dimana ada mahasiswa yang ikut demo hanya untuk aksi lempar batu dan atas kemauan nafsunya agar terlihat “mahasiswa banget” di mata elemen masyarakat. Menurut saya ini sepenuhnya bukan salah dari mahasiswa itu secara pribadi, tetapi manajemen sistem organisasi yang terlalu pasif dalam mengembangkan dan mengupdate sistem yang kuno, sehingga hal-hal seperti itu terjadi. Formalisme sistem yang stagnan di organisasi kampus harus segera diupdate dan dikembangkan, tidak untuk dikonsumsi secara statis seperti ini.
Saya yakin dengan perubahan pola seperti dipaparkan diatas, mahasiswa penggiat organisasi akan lebih dewasa dan berkembang pola pikirnya dalam menjadi seorang aktivis kampus untuk kebermanfaatannya di luar kelas. Organisasi yang anggotanya berpikir atas dasar berpikir sendiri adalah organisasi yang dewasa. Berani berpikir sendiri adalah sebuah langkah besar. Namun pikiran juga adalah sesuatu yang mesti dipahami dengan tepat dan berilmu. Ketika pikiran menjadi alat untuk memahami segalanya, maka beragam masalah akan muncul. Di tingkat indivu, penggunaan pikiran yang berlebihan akan melahirkan berbagai penyakit mental, mulai dari stress, depresi, kecanduan narkoba hingga bunuh diri.
Keberadaan pikiran haruslah dipahami. Karena pikiran adalah bagian dimensi yang tak terbatas seorang mahasiswa. Pikiran adalah identitas mahasiswa, mahasiswa akan terhitung nilainya dari bagaimana dia berpikir, karena fungsi identitas adalah mengendalikan intelek. Mahasiswa akan menggunakan inteleknya untuk melindungi serta mengembangkan identitasnya sebagai mahasiswa seutuhnya.
Ketika intelek dan identitas digunakan secara tepat dan benar, mahasiswa akan menjadi penggiat organisasi yang cerdas dan teroptimalkan. Mahasiswa seutuhnya akan terciptakan dengan penuh keseimbangan dalam berpikir dan bertindak. Berani berpikir dengan dasar intelek dan identitas akan menjadi berkah yang membawa kebaikan pada tingkat individu dan sosial/organisasi. Karena pikiran adalah sesuatu yang harus digunakan secara pribadi dan mandiri, sekaligus untuk dilampaui!#

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Kapolda Sumsel Ambil Sumpah Peserta Calon Seleksi Dibangum Polri TA 2020

Palembang, BP Kapolda  Sumatera Selatan (Sumsel)  Irjen Pol Drs. Priyo Widyanto, M.M., mengambil Sumpah dan melaksanakan Penadatangan Fakta Integritas Seleksi ...