Home / Budaya / Ngidang, Budaya Palembang yang Harus Dijaga Bersama-sama

Ngidang, Budaya Palembang yang Harus Dijaga Bersama-sama

BP/DUDY OSKANDAR Suasana Ngidang di Museum SMB II, Selasa (26/11).

Palembang, BP–Menghormati dan memuliakan tamu dalam budaya melayu menjadi sesuatu yang sangat dianjurkan. Tradisi Ngidang merupakan cara makan adat Palembang yang saat ini sudah mulai jarang ditemui.

Ngidang merupakan tata cara penyajian makanan saat ada sedekahan (kendurian) dan pernikahan, yang dilakukan dengan cara lesehan dengan membagi setiap hidangan atau kelompok yang terdiri atas 8 orang.
Hidangan digelar pada selembar kain dengan tempat nasi berupa nampan ditempatkan pada bagian tengah dan lauknya disiapkan dalam piring-piring kecil dan ditata mengelilingi tampah nasi tersebut. Petugas khusus yang membawa makanan tersebut disebut “ngobeng” yang melayani langsung para tamu. Guna melestarikan kebudayaan warisan Ngidang yang telah menjadi tradisi orang melayu khususnya masyarakat Palembang, Pemerintah kota Palembang melalui Dinas Kebudayaan memperkenalkan kembali cara Ngidang kepada masyarakat kota Palembang.

Menurut Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Djayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH Mkn mengatakan, kalau tradisi Ngidang ini tradisi makan masyarakat Palembang sejak dulu.
“Disitu ada berbagai makanan Palembang seperti nasi minyak dan makanan lainnya seperti ayam malbi, nanas yang merupakan makanan khas Palembang, dan orang yang menghidangkan makanan ini namanya Ngobeng, jadi inilah budaya Palembang yang harus di jaga bersama-sama,” katanya usai membuka acara Ngidang di Museum SMB II, Selasa (26/11).
Tradisi Ngidang ini menurutnya, dilakukan setiap tahun dan tahun ini dilakukan di Museum SMB II Palembang supaya lebih membesarkan nama SMB II.
“Dan kita terus melestarikannya tradisi-tradisi seperti ini,” katanya.
Hal senada dikemukakan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota, Drs Ratu Dewa, M Si melalui Staf Ahli Wali Kota Palembang bidang ekonomi pendapatan daerah, hukum dan HAM, Altur Febriyansyah mengatakan, tradisi ini merupakan warisan budaya leluhur Kota Palembang. Dimana tradisi ini memilik makna yang mendalam. Pasalnya kata Altur, tradisi Ngidang dengan cara makan bersama-sama dan lesehan butuh kerjasama dan kesabaran.
“Ya, sebelum makan, kita bersama-sama harus mengidangkannya atau menyajikan terlebih dahulu. Dalam satu hidangan terdiri dari delapan orang, kemudian makan bersama. Ini sebagai wujud gotong royong yang harus kita lestarikan, karena untuk makan kita menyediakan makanan secara gotong royong, ada nilai positif, bisa menjalin komunikasi tanpa memperhatikan status sosial, semuanya rata duduk bersila,” kata Altur usai membuka acara Ngidang di Museum SMB II, Selasa (26/11).
Makanya, sambung Altur, tradisi Ngidang ini harus dilestarikan. Disamping kegiatan ini menjadi wahana menumbuhkan semangat dan motivasi dalam melestarikan adat istiadat agar tetap tumbuh dan berkembang.
“Sesuai keinginan Wali Kota, H Harnojoyo dalam programnya gotong royong, ini bisa kita ambil sisi positifnya. Mudah-mudahan ke depan akan menjadi agenda tahunan. Selain itu, Ngidang juga diharapkan akan menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke Palembang,” katanya.
Senada disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Hj Zanariah S.I.P menilai tradisi ini hampir ditinggalkan oleh masyarakat yang hidup di perkembangan zaman.
“Maka dari itu dalam kegiatan tersebut saya mengajak kepada Bapak dan Ibu untuk memberikan pembelajaran kembali mengenai tradisi cara ngidang untuk makan bersama.
“Saya mohon doa kepada masyarakat pada tahun 2020 nanti acara ngidang ini akan di daftarkan ke Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dan UNESCO sehingga tidak bisa di klim oleh orang lain. selain itu juga kita akan mendaftarkan makanan khas asal Palembang Burgo yang kemudian akan kita hidangkan.
Kita lihat kembali cara ini merupakan hal yang terlihat biasa namun dibalik itu ada nilai sejarah pada tempo dulu yaitu cara ngidang atau tata cara makan di kota Palembang. Selain itu juga di dalam kegiatan ngidang ini ada nilai bahu-membahu dalam menyediakan makanan, kata Zanariah.
Ditempat yang sama Ismail Kepala Bidang sejarah Dinas Kebudayaan menambahkan bahwa sejarah Ngidang makan ini berawal dari Arab, namun pada zaman kesultanan Palembang, cara tersebut dibuat berbeda jika dalam budaya Arab semua hidangan dijadikan satu sedangkan dengan cara kita sendiri lauk-pauk semua terpisah tidak dijadikan satu.
” Untuk di Palembang sendiri kebudayaan ini masih melekat di daerah Tangga Buntung, 13-14 ulu yang masih mempertahankan tradisi tersebut ditengah kemajuan zaman. Inilah yang menjadi tugas utama kami untuk kembali memperkenalkan warisan budaya serta mempertahankannya,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Wagub Sumsel Akui Rencana Pembangunan Gedung Kantor Pemprov Sumsel di Kramasan

Palembang, BP DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar  rapat paripurna DPRD Sumsel dengan agenda jawaban Gubernur sumsel  terhadap pemandangan umum ...