Home / Budaya / Masjid Terapung di Lampung, Kekhusukan Beribadah dan Suasana Berbeda

Masjid Terapung di Lampung, Kekhusukan Beribadah dan Suasana Berbeda

BP/DUDY OSKANDAR Masjid Al Aminah yang terletak Desa Ringgung, Pantai Sari Ringgung, Kecamatan Hanura, Kabupaten Pesawaran, Lampung

Palembang, BP–Kalau di Jeddah ada masjid terapung namun pondasi masjidnya terlihat menancap ke laut, di Indonesia masjid yang terapung di tengah laut memang benar-benar ada. Namanya Masjid Al Aminah, terletak di Desa Ringgung, Pantai Sari Ringgung, Kecamatan Hanura, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Debur ombak berbuih tenang di tepian keramba berwarna biru dan terlapis ban karet membuat siapa pun yang beribadah di masjid ini bisa lebih khusuk.

Bagian muka bangunan masjid.

Shalat di masjid Al-Aminah yang berada di lepas pantai Teluk Lampung ini memang menghadirkan suasana yang berbeda, dengan goyangan bangunannya seirama ombak laut, bentangan alam indah, jajaran bagan nelayan di hamparan air laut dan hijaunya perbukitan di seberang. Sebuah pemandangan yang menghadirkan nuansa yang berbeda.

Keunikan inilah yang menjadi salah satu daya tarik masjid ini hingga sering mendapat kunjungan dari berbagai lapisan masyarakat meski letaknya berada di tengah laut.

Masjid Al Aminah ini dibangun terapung menggunakan sistem keramba, di antara bagan (tempat menangkap ikan yang terapung di atas laut) milik nelayan setempat yang bertebaran di lepas pantai wisata Sari Ringgung.

Bangunan masjid ini mampu menampung hingga 200 sampai 300 jemaah dilengkapi dengan fasiltas toilet dan air tawar, dua unit genset sebagai pembangkit listrik, dapur dan peralatan memasak serta perahu mesin ganda untuk antar jemput jema’ah.

Dari pantai Sari Ringgung dapat dicapai dengan perahu motor selama sekitar 3 menit. Bagian samping masjid dilengkapi selasar yang bisa digunakan untuk bersantai atau istirahat.

Ketua Pengurus Masjid Al-Aminah H Adang Burhanuddin, Jumat (18/10), di sela-sela kegiatan Outbound Media Gathering SKK Migas – KKKS di Pantai Sari Ringgung mengatakan, masjid ini dibangun oleh seorang mualaf keturunan Tionghoa pada tahun 1980-1985. Masjid ini dinamai Al-Aminah diambil dari nama ibu pendiri masjid ini.

Awalnya masjid ini hanya sebuah mushala ukurannya 20 x20 yang awalnya terletak di pantai Mutun, setengah kilo dari Pantai Sari Ringgung. Karena terbengkalai dan tak terurus lalu ditarik ke Pantai Sari Ringgung oleh pemiliknya dan dihibahkan kepada Syamsul Rizal di Pantai Sari Ringgung.
“Kita punya dua perahu untuk dipakai bukan hari jumat, siapa mau ke sini cukup panggil ada perahu jemput dia dan nelayan di sana digilir setiap hari jumat harus bawa jemaah ke sini, listriknya kita pakai tenaga surya, untuk jumatan kita pakai genset dan untuk air bersih pakai selang bawah laut dari pantai,” katanya.

Dengan adanya masjid ini sangat membantu warga sekitar dan terutama wisatawan untuk beribadah.
Mengenai bangunan baru samping Masjid Al Aminah yang rencananya akan menjadi tempat kaum perempuan beribadah menurutnya yang membangun Pemkab Pesawaran.

“Belum kami gunakan karena belum ada serah terima, karena pembangunannya belum selesai baru 50 persen, dibangun tahun kemarin ukurannya bangunan 9 x 9 ,” katanya.

Selain itu juga ada layanan kopi-teh dan permen gratis bagi jemaah yang datang.

“Di bawah masjid ini ada 17 jangkar plus 4 jangkar ditambah 579 drum dengan beban kosong 20 ton untuk menahan agar masjid tidak bergeser,” katanya.

Keberadaan Masjid Al-Aminah selain mempermudah wisatawan yang ingin ibadah shalat juga menambah kekayaan wisata alam bernuansa religi.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Kemelut Catur dan Takraw Porprpov Berakhir di Dewan Hakim dan PB Porprov

Prabumulih, BP–Kemelut pembengkakan medali yang diduga dilakukan oleh Kordinator Pelaksana (Kopel) cabang olahraga (cabor) catur pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ...