Home / Bisnis / Ki Kms HM Zen Mukti, Ulama Intelektual Penengah NU dan Muhammadiyah di Palembang Sempat Dicekal di Masa Orde Baru

Ki Kms HM Zen Mukti, Ulama Intelektual Penengah NU dan Muhammadiyah di Palembang Sempat Dicekal di Masa Orde Baru

BP/IST
Ki Kemas HM Zen Mukti

Palembang, BP’–Ki Kms HM Zen Mukti adalah ulama Palembang yang dikenal tegas dan berani dalam menyampaikan dakwahnya di kota Palembang, namanya sempat masuk dalam daftar ulama-ulama yang akan dibunuh pihak Partai Komunis Indonesia (PKI) di Palembang , karena ketegasan dan keberanian dalam berdakwah untuk menegakkan kebenaran Al Quran, itu juga namanya sempat masuk dalam daftar ulama yang dilarang berdakwah di Masjid Agung Palembang, Masjid Takwa Palembang dan di TVRI Palembang di era orde baru, namun semua di laluinya dengan tabah dan bertawakal dan dakwahnya terus berjalan walaupun mendapatkan hadangan dari pemerintah orde baru kala itu.

Lahir di Palembang pada tanggal 2 Juli tahun 1919. Ibunya bernama Nyayu Mayu binti Kms. M. Amin. Garis nasabnya adalah dari Kms.H.M. Zen bin Kms. M. Mukti bin Kms.H. Hasan (Khatib Penghulu) bin Kms. H. Agus.

Sejak kecil, ia rajin dan tekun dalam majelis ta’lim. Guru-gurunya saat itu adalah K.H.A.Rasyid Siddiq al-Hafiz, Ki.Mgs.H.Abdul Hamid, K.H.Marzuki dan lain-lain .
Sekolah formal yg dijalaninya di sekolah Goebernemen kelas 2, di kel. 24 Ilir Palembang , tahun 1927-1934. Sedangkan pendidikan formalnya di Madrasah Nurul Falah di bawah pimpinan K.H. Abubakar Bastari 1937-1940. ia juga kuliah di Akademi penerangan Yogyakarta.
Ulama yang dikenal anti suap ini, ini juga semasa hidupnya banyak jabatan dan organisasi yang pernah digelutinya antara lain merupakan pengurus Yayasan Masjid Agung Palembang (1960-1980), imam dan khatib masjid Agung, aktif mengisi ceramah diberbagai tempat, dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Fatah, mengadakan kursus khatib dan Ceramah di TVRI Sumsel pendiri Organisasi Remaja Group 22 Ilir.
Selain itu pernah berkerja Departemen Jawatan Penerangan Provinsi Sumsel, seksi publikasi 1950-an, .Anggota DPRD Tk.I Sumsel (1956-1959).Selain itu juga beliau aktif dalam partai Masyumi. Selain itu ketika terjadi masa peralihan DPRD dan DPD peralihan atas dasar UU No.14/1956 pasal 7 (ayat 3) dan peraturan Menteri Dalam Negeri No.11 tahun 1956, yang memutuskan pembubaran DPR Kota Palembang dengan digantikan dengan Dewan Pemerintah Daerah peralihan memutuskan nama-nama anggota diantaranya ialah Ki.Kms.H.M.Zen Mukti yang saat itu menjabat sebagai seksi pekerjaan umum wakil dari partai Masyumi.
Menurut Anak nomor 3, Ki Kms HM Zen Mukti , Dra Nyimas Syukriani, ayahnya tersebut dikenal sebagai tokoh Masyumi di Palembang , Masyumi sendiri kepanjangan dari Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Council of Indonesian Muslim Associations) atau disingkat menjadi Masyumi.
Masyumi merupakan sebuah partai politik Islam terbesar di Indonesia selama Era Demokrasi Liberal di Indonesia. Partai ini dilarang dan dibubarkan pada tahun 1960 oleh Presiden Sukarno karena dituding mendukung pemberontakan PRRI.
Setelah Masyumi di bubarkan oleh Presiden Sukarni, Ki Kms HM Zen Mukti bergabung ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Waktu di PPP saat menjadi caleg nama ayah selalu berada di atas tba-tiba di geser orang ditaruh dibawah, itu tahun 1970an , ayah tidak masalah namanya digeser-geser lalu mundur ayah mundur dari PPP . Kita tidak tahu tahu persis apa yang membuat ayah mundur dari PPP lalu sehabis jadi anggota DPR GR awal orde baru dan baru setelah itu ayah fokus sebagai ulama,” kata Dra Nyimas Sukriani saat ditemui di kediamannya, Selasa (15/10).

Selain itu menurutnya ayahnya tersebut juga sempat terpilih menjadi anggota DPRD Tk.I Sumsel (1956-1959) zaman Walikotanya HM Ali Amin tahun 1955 atau setelah Walikota Palembang Ganda Subrata.

“Ayah dikenal sebagai ahli ilmu fiqih, belajar bahasa Arab dan dosen UIN Raden Fatah dan selalu membuat risalah masalah kedokteran, masalah ragi dengan dosen unsri terkait dengan hukum agama seperti dengan dr Hakim Sarimuda Pohan,” katanya.
Ki Kms HM Zen Mukti juga dikenal sebagai ulama penengah konflik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) di Palembang.

“Dua ormas ini dulu ini bermusuhan , beliau penengah, keduanya diundang kesini sama –sama damai, ada acara dua-dua diajak ayah, karena beliau ngundang keduanya , jadi tidak ada masalah.
Karena dulu , ada nian Nu-Muhammadiyah itu sama-sama keras tahan tidak seteguran Muhamadiyah dengan NU,” kata menantu Ki Kms HM Zen Mukti, Hasan Kusen
Selain itu Ki Kms HM Zen Mukti menurutnya, juga dikenal sebagai tokoh adat di kota Palembang.
“Kalau beliau ngundang datang galo orang NU dan Muhammadiyah , itu salah satu caro untuk menengani NU dan Muhammadiyah, , misalnya aku contoh di Teluk Air ada Masjid disana, ayah mempersilahkan yang shalat tarawehnya 9 rakaat stop dulu, dan yang shalat terawehnya 23 rakaat lanjut lanjut,” kata pria yang pernah menjadi guru kursus Bahasa Inggris di Syailendra dan sekarang mengajar Bahasa Inggris dan guru mengaji di TK TPA AL-Ikhsan, Palembang
Dia mengakui dulu para pemilik masjid di Palembang adalah mereka dari kalangan NU dan kalangan Muhammadiyah.
“Beliau (Ki Kms HM Zen Mukti) adalah tokoh NU tapi dalam pahammnya berpatokan kepada Al Quran, kalau ceramah ayah tidak pakai satu mazhab , jadi semuanya denger , tidak ada paksaan.Keributan antara NU –Muhammadiyah sering teradi di Palembang tapi ayah yang bisa menengahinya , tapi sebelum ayah meninggal dunia konflik NU-Muhammadiyah di Palembang bisa reda,” kata Hasan Kusen.
Selain itu konflik NU-Muhammadiyah di Kota Palembang itu puncaknya terjadi sekitar tahun 1960an.
“ Itu Kiyai Rahman dari NU , anaknya malah sekolah di Muhammadiyah, ya sama saja, kata Ayah, karena Kiyai Rahman itu lebih tua dari ayah,” katanya.
Untuk menjalankan syariat agama Islam , Ki Kms HM Zen Mukti ditambahkan Nyimas Sukriani sangat berpegang teguh dengan Al Quran dan itu tidak ada istilahnya tawar menawar.

“ Karena ayah berpegang teguh pada Al Quran lalu dianggap keras dan ada yang risih dan terganggu, ayah sempat ceramah gantian bersama KHO Gajah Nata di TVRI lalu akhirnya dicekal tidak boleh ceramah lagi di TVRI saat zaman orde baru karena dianggap mengkritik pemerintah,” katanya.
Ironisnya di Masjid Agung Ki Kms HM Zen Mukti juga di cekal juga .
“Ada intel yang mengikuti ayah waktu itu sekitar tahun 1970an, ayah juga tidak boleh jadi imam jumat, ceramah di Masjid Takwa. Ayah sempat bilang biarlah tidak ceramah di Masjid Takwa dan Masjid Agung, tapi umatku yang lain banyak, akhirnya ayah ceramah di Masjid lain seperti Masjid Kimerogan sampai ke Pulau Kemaro , bahkan dipanggil ceramah hingga luar kota,” kata Dra Nyimas Syukriani.

Selain itu nama Ki Kms HM Zen Mukti sempat masuk dalam daftar nama yang akan di eksekusi PKI dan menjadi target PKI.
“Kita tahu dari mulut ke mulut waktu itu zaman Gestapu, listrik sering padam malam-malam , kami tahu nama beliau masuk target, maksud kami ayah tidak usah ceramah-ceramah, beliau bilang kenapa nak takut kita berjalan di jalan Allah , Isya Allah tidak ada yang ganggu,” ujar Dra Nyimas Syukriani menambahkan.
Dia juga ingat betul, sewaktu ayahnya tersebut berjalan di atas Jembatan Ampera , ada yang berteriak “Kiyai jangan diganggu”.
“Itu cerita ayah, ternyata yang teriak itu preman, preman itu kasih kode kekawannya ,jadi aman ayah lewat bae bawa kitab di atas Ampera,” katanya.
Ada kenangan yang tidak pernah dilupakan, menurut Nyimas Sukriyani waktu ayah sakit dan menjelang akhir hayat dan tidak kekantor beberapa hari karena masih menjabat sebagai DPRD Palembang dan disaat lampu infra merah menyinari kakinya akan ada tamu yang datang.
“Beliau ngomong sama kami, sama ibu depan kami , gek ada orang kesini, kalau dia kasih duit atau kasih apo-apo jangan diterima , jangan diambil, kami bilang ambil saja tapi ayah bilang jangan diambil, dan memang datang orangnya ngasih duit gepokan tapi dibungkus , bentuknya duit tebel, waktu itu kami tidak tahu itu apa duit atau apo, yang penting dia ngasih sesuatu, tapi setelah besar kami tahu kalau itu duit gepokan, kami waktu itu langsung balikkan uang itu,” katanya.
Ki Kms HM Zen Mukti menurutnya juga dikenal sosok suka membantu orang lain dan memiliki rasa sosial yang tinggi serta low profil.
“ Kalau beliau anggota DPR kalau cari dunio pasti sudah kayo, kami ingat waktu kecil ada kulkas, kulkas kami sering rusak, masuk rumah sakit terus, direvarasi terus, punya mobil-mobil butut, jangan dak nyicip anggota DPR bae, mogok terus mobil masuk bengkel, grasi mobil pakai SK oleh pemerintah , itu lah jadi kenang-kenangan, yang lain alhamudlilah kami dak katek terima apapun,” kata Nyimas Sukriani.
kesederhanaan kehidupan Ki Kms HM Zen Mukti menurut Nyimas Sukriani tercermin dari kehidupan mereka sehari-hari , jika ingin membeli beras harus mengumpulkan kertas dan koran-koran bekas lalu dijual.
“Ayah pesan waktu itu mau shalat duha dan minta dengan Allah, denget lagi ada nian yang datang beli koran dan kertas bekas itu lalu kami belanja, kami memang hidup sederhana dan kami memang waktu itu tidak merasa sebagai anak pejabat,” katanya.
Di tahun 1975 -1976 Nyimas Sukriani menambahkan ayahnya sempat naik haji dan mengalami peristiwa penyerbuan kelompok bersenjata Imam Mahdi di Makkah.
“Saat ayah pulang dari haji, banyak membawa koran bahasa Arab, karena kami dapat cerita ayah kami keno tembak di Mekkah , tapi hanya isu,” kata Nyimas Sukriani

Kenangan lain yang tidak pernah dilupa Nyimas Sukriani mengaku saat umurnya 6 tahun atau di tahun 1958 sempat ikut ayahnya yang menjadi pengurus DPD Peralihan (Dewan Pemerintahan Daerah), dan juga sebagai Anggota DPRD (Peralihan) Palembang ikut meresmikan pembukaan pasar Cinde.
“Tahun 1958 yang aku ingat kami disiapkan meja-meja macam VIP duduk dan melok makan disitu dan peresmiannya dilantai II, di depan pintu masuk .Waktu itu Cinde belum ada pedagangnya , belum dibuka masih kosong yang motong pita pak Ali Amin (Walikota Palembang),”katanya.
Terakhir Nyimas Sukriani ingat, ibunya Siti Maimunah sebagai ikut motong pita peresmian Jembatan Kedukan Bukit di tahun 1960an dan potonya masih dia pegang hingga kini.
“ Waktu itu kami kecil semua,” katanya.
Sedangkan putri bungsu Ki Kms HM Zen Mukti, Nyimas Nurul Amani juga memiliki kenangan Indah mengenai ayahnya tersebut.
Ayahnya tersebut ternyata berteman baik dengan Djaelani Naro, yang lebih populer dengan nama HJ. Naro atau John Naro yang merupakan Ketua Umum PPP (lahir di Palembang, , 3 Januari 1929 – meninggal di Jakarta, 28 Oktober 2000 pada umur 71 tahun) di masa orde baru.
“Kami sempat tanya kenapa ayah tidak ikut Ketua DPP PPP , HJ Naro yang juga kawan ayah, kata ayah, ayah ingin tetap di jalan Allah,” katanya.
Kenangan lain, pernah satu hari, ayahnya tersebut jam tangannya di jambret oleh anak buah jambret bernama Aap yang masih tetangga mereka sendiri.” Habis-habisan anak buahnya dimarahi ayah saat balikkan jam ayah, karena ayah ngadu ke bosnya, langsung balik jam ayah itu,” katanya.
Ki.Kms.H.M.Zen Mukti, wafat Rabu, 18 Juni 1980 sekitar pukul 05.00 diusia 61 tahun.
Sang kiyai memiliki 3 org istri, pertama bernama: Siti Maimunah, Sunaini (asal Kuningan/Jawa) dan Anisah Sahab (Keturunan Arab).
Dari istrinya Siti Maimunah dikaruniai 4 anak yakni: Dra Nyimas Umniyati (Alm), Nyimas Nur Hurriyah (Alm), Dra Nyimas Syukriani, Nyimas Soraya, Bsc. dan dari istri keduanya (Sunaini) mendapatkan 1 orang anak bernama Nyimas.Nurul Amani (anak ke-5).
Setelah bercerai dengan istri keduanya (Sunaini) Ki.Kms.H.M.Zen Mukti menikah lagi dengan Anisah Sahab (Ayunda dari Fahmi Sahab/Penyanyi Kopi Dangdut Asal Palembang), dari pernikahan ketiga ini tidak punya anak.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Kemelut Catur dan Takraw Porprpov Berakhir di Dewan Hakim dan PB Porprov

Prabumulih, BP–Kemelut pembengkakan medali yang diduga dilakukan oleh Kordinator Pelaksana (Kopel) cabang olahraga (cabor) catur pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ...